Kamis, 22 Januari 2026

Dampak Tersembunyi Konsumsi Gula Berlebih pada Berbagai Organ Tubuh

Dampak Tersembunyi Konsumsi Gula Berlebih pada Berbagai Organ Tubuh
Dampak Tersembunyi Konsumsi Gula Berlebih pada Berbagai Organ Tubuh

JAKARTA - Tubuh manusia mampu menoleransi kesalahan kecil dalam pola makan, begadang sesekali, atau konsumsi gula berlebih sementara. Namun, apabila gula menjadi bagian dominan dari diet harian, tubuh mulai memberi sinyal halus dari berbagai organ.

Istilah “overdosis” gula bukan merujuk pada keracunan akut, melainkan kondisi kronis. Tubuh menerima gula lebih banyak dari yang bisa diolah efisien, sehingga efeknya muncul perlahan di banyak organ.

Keluhan awal sering dianggap wajar, seperti cepat lelah, sulit fokus, mudah lapar, atau merasa “tidak fit”. Padahal, tanda-tanda ini bisa menjadi sinyal awal tubuh sedang bekerja keras menyeimbangkan kadar gula.

Baca Juga

Apakah Diabetes Penyakit Keturunan? Ini Penjelasan Lengkapnya

Pankreas dan Otak Terpengaruh Gula

Pankreas adalah organ utama yang mengatur keseimbangan gula darah dengan melepaskan insulin. Insulin membuka pintu sel agar glukosa dapat masuk dan digunakan sebagai energi.

Masalah muncul saat lonjakan gula berulang dan sering. Pankreas dipaksa bekerja keras, membuat sel tubuh mulai kurang responsif terhadap insulin, fase awal resistensi insulin penyebab diabetes.

Otak membutuhkan pasokan glukosa stabil untuk fungsi optimal. Asupan gula berlebih dapat menimbulkan sugar rush dan sugar crash, sehingga konsentrasi menurun dan muncul brain fog.

Fluktuasi gula darah berulang berpotensi memicu peradangan ringan di otak. Gejala seperti sulit fokus, mudah lupa, dan mental cepat lelah merupakan dampak yang umum terjadi.

Kulit dan Ginjal Menunjukkan Dampak Gula

Kulit sering menjadi indikator metabolisme tubuh. Kadar gula tinggi memicu glikasi, di mana gula menempel pada protein kolagen dan elastin, menyebabkan kulit cepat kusam, kurang elastis, dan mudah meradang.

Kondisi seperti acanthosis nigricans di leher atau ketiak muncul sebagai tanda insulin tinggi. Selain kulit, ginjal juga bekerja lebih keras menyaring kelebihan glukosa melalui urine.

Peningkatan frekuensi buang air kecil dan rasa haus yang terus-menerus bisa menjadi sinyal ginjal kelebihan beban. Beban filtrasi yang tinggi dapat mengubah struktur dan fungsi ginjal dalam jangka panjang, meski belum terdiagnosis diabetes.

Usus dan Hati Juga Terpengaruh

Usus merupakan rumah bagi triliunan mikroorganisme yang memengaruhi metabolisme dan sistem imun. Gula berlebih mengganggu keseimbangan mikrobiota, meningkatkan bakteri jahat yang menyukai gula, dan menurunkan jumlah bakteri baik.

Gangguan ini menyebabkan peradangan ringan dan mengacaukan regulasi rasa lapar. Akibatnya, perut mudah kembung, cepat lapar meski baru makan, serta muncul keinginan kuat terhadap makanan manis.

Hati memproses gula yang tidak digunakan menjadi lemak. Jika terjadi terus-menerus, lemak menumpuk di hati dan berpotensi menyebabkan Non-alcoholic fatty liver (NAFL), kondisi yang berkembang tanpa gejala khas.

Tubuh yang cepat lelah, perut terasa penuh, dan akumulasi lemak di area perut adalah tanda awal NAFL. Fruktosa berlebih dari minuman manis berkontribusi signifikan pada kondisi ini, bahkan bagi orang dengan berat badan normal.

Dampak pada Gigi dan Jantung

Gigi menjadi organ pertama yang terdampak gula berlebih. Bakteri di rongga mulut memanfaatkan gula sebagai energi, menghasilkan asam yang menurunkan pH mulut dan merusak enamel, sehingga gigi berlubang dan gusi mudah berdarah.

Selain itu, gula mempercepat pertumbuhan plak yang memicu peradangan gusi. Bau mulut yang berulang terjadi karena bakteri memecah sisa gula menjadi senyawa sulfur berbau tajam.

Jantung dan pembuluh darah juga terpengaruh meski sering diabaikan. Gula darah tinggi memicu peradangan ringan pada dinding pembuluh, membuat lapisan endotel kurang responsif, pembuluh lebih kaku, dan meningkatkan risiko pembentukan plak.

Kombinasi lonjakan gula dan insulin meningkatkan kadar trigliserida serta menurunkan kolesterol baik HDL. Akibatnya, risiko penyakit kardiovaskular meningkat, ditandai dengan jantung cepat berdebar, tekanan darah perlahan naik, dan tubuh mudah lelah.

Dampak gula berlebih tidak hanya terlihat pada diabetes, tetapi menyebar ke pankreas, otak, kulit, ginjal, usus, hati, gigi, serta jantung dan pembuluh darah. Gejala awal sering samar sehingga banyak orang tidak menyadarinya.

Menjaga asupan gula dan pola makan seimbang merupakan langkah penting untuk mencegah kerusakan organ jangka panjang. Kesadaran terhadap tanda-tanda tubuh adalah kunci agar gula tetap dalam batas aman dan tubuh tetap sehat.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Mana yang Lebih Sehat: Daging Kambing atau Daging Sapi?

Mana yang Lebih Sehat: Daging Kambing atau Daging Sapi?

Jadwal Awal Puasa Ramadhan 2026 Versi Muhammadiyah dan NU

Jadwal Awal Puasa Ramadhan 2026 Versi Muhammadiyah dan NU

Update Terbaru Kondisi Layanan Internet Telkomsel dan Indihome

Update Terbaru Kondisi Layanan Internet Telkomsel dan Indihome

5 Cara Alami Memanjangkan Rambut Lebih Cepat dan Sehat

5 Cara Alami Memanjangkan Rambut Lebih Cepat dan Sehat

Manfaat Luar Biasa Jus Buah Segar untuk Kesehatan Tubuh dan Mata

Manfaat Luar Biasa Jus Buah Segar untuk Kesehatan Tubuh dan Mata