Harga Telur Anjlok di Magetan, Stok Melimpah dan Sulit Terjual
- Senin, 11 Mei 2026
MAGETAN – Anjloknya harga telur ayam di pasaran dalam sebulan terakhir dikeluhkan oleh para peternak di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Harga telur di tingkat peternak yang saat ini berada di bawah Rp22.800 per kilogram membuat para peternak kesulitan dalam menutup biaya produksi yang terus mengalami peningkatan.
Kondisi tersebut turut dialami oleh Soni Suwarno, seorang peternak ayam petelur di Desa Cepoko, Kecamatan Panekan, pada Minggu (10/5/2026).
Baca JugaHarga Pangan 11 Mei 2026: Cabai Naik Tajam, Daging Sapi dan Beras Turun
Sebanyak 1,2 ton telur hasil panen miliknya terpantau belum terjual dan masih menumpuk di dalam gudang.
Padahal, sebanyak 10 ribu ekor ayam petelur di kandangnya telah kembali memasuki masa panen. Akibat rendahnya daya serap pasar, stok telur kian bertambah dari hari ke hari.
Soni menyatakan bahwa kondisi peternak saat ini cukup memprihatinkan. Selain harga telur yang turun drastis dari yang sebelumnya sekitar Rp25 ribu menjadi di bawah Rp22.800 per kilogram, biaya pakan ternak juga mengalami kenaikan.
Harga konsentrat meningkat menjadi Rp450 ribu dari sebelumnya Rp400 ribu per sak isi 50 kilogram. Harga jagung naik dari Rp6 ribu menjadi Rp6.500 per kilogram, sedangkan katul naik dari Rp3.500 menjadi Rp4.500 per kilogram.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "kondisi kami para peternak cukup menyakitkan harga anjlok harga pakan naik dan telur sulit dijual," kata Soni Suwarno.
Ia menyebutkan, sebelumnya ia mampu menjual sekitar 40 kotak telur per hari kepada para pedagang, dengan masing-masing kotak berisi 15 kilogram.
Namun, saat ini penjualan hanya berkisar antara 10 hingga 15 kotak saja per hari. Sisa telur tersebut terpaksa disimpan di gudang.
Peternak merasa khawatir kualitas telur akan menurun hingga membusuk apabila terlalu lama tidak terjual, yang mana berpotensi menyebabkan kerugian besar hingga ancaman gulung tikar.
Di Desa Cepoko sendiri, terdapat sekitar 40 peternak ayam petelur yang mengalami kondisi serupa.
Rendahnya daya serap pasar dan melimpahnya produksi telur diduga menjadi penyebab utama anjloknya harga di tingkat peternak.
Para peternak berharap agar pemerintah dapat meningkatkan penyerapan telur, salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kesulitan yang serupa juga dirasakan oleh pedagang telur di Pasar Sayur Magetan. Sri Martini, salah satu pedagang, mengaku bahwa penjualan telur menurun drastis akibat sepinya pembeli dalam kurun sebulan terakhir.
Jika sebelumnya ia mampu menjual tujuh hingga delapan kotak telur per hari, kini penjualannya bahkan tidak mencapai satu kotak per hari. Harga jual telur di tingkat pasar saat ini berkisar antara Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "sulitnya karena tidak ada yang beli sejak sebulan terakhir stok barang jadi menumpuk seperti ini," ujar Sri Martini.
Sebelumnya, para peternak ayam petelur di Magetan juga sempat menggelar aksi protes terhadap anjloknya harga telur dan tingginya harga pakan ternak di kawasan Simpang Empat Alun-Alun Magetan, Rabu (6/5/2026).
Dalam aksi tersebut, sebanyak 3 ton telur dibagikan secara gratis kepada para pengguna jalan sebagai bentuk protes atas kondisi yang mereka alami.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Berita Lainnya
Harga Pangan Hari Ini Naik: Minyak Goreng Tembus 23.800 Rupiah Per Liter
- Sabtu, 09 Mei 2026











