Pendapatan TBIG Turun 0,79 Persen pada Kuartal I 2026 Akibat Konsolidasi
- Senin, 11 Mei 2026
JAKARTA – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) merilis laporan terkait adanya koreksi pada performa keuangan mereka selama periode kuartal pertama tahun 2026.
Situasi ini muncul sebagai efek dari konsolidasi operator telekomunikasi yang mengakibatkan pendapatan tertekan, sehingga berdampak pada laba bersih yang diperoleh perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan hingga 31 Maret 2026, pendapatan yang diraih TBIG tercatat sebesar Rp 1,71 triliun. Jumlah ini menunjukkan penurunan tipis mencapai 0,79 persen secara tahunan atau Year-on-Year (YoY) apabila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu yang mencapai Rp 1,73 triliun.
Baca JugaLayanan Perintis ASDP Tumbuh 11 Persen Meski Hadapi Tantangan Beban
Dari sisi keuntungan bersih, TBIG membukukan angka Rp 405,61 miliar pada kuartal I-2026. Perolehan tersebut menyusut sebesar 5,61 persen YoY dari capaian kuartal I-2026 sebelumnya yang sempat berada di level Rp 429,23 miliar.
Menilik sisi operasional, sampai akhir Maret 2026, perseroan memiliki 41.764 penyewaan dengan total 24.666 situs telekomunikasi. Infrastruktur itu mencakup 24.558 menara telekomunikasi dan 108 jaringan DAS.
Selama tiga bulan awal tahun 2026, jumlah penyewa menara mencapai 41.656 tenant, yang membuat rasio kolokasi atau tenancy ratio berada pada posisi 1,70 kali.
Wakil Presiden Direktur & CEO Tower Bersama Infrastructure, Hardi Wijaya Liong, menjelaskan bahwa perseroan mencatatkan peningkatan pesanan yang cukup signifikan pada kuartal pertama 2026.
“Yakni, dengan penambahan 808 penyewaan bruto ke dalam portofolio kami, yang terdiri dari 599 sites telekomunikasi baru dan 209 kolokasi,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Hardi Wijaya Liong pun memaparkan bahwa meski penambahan penyewaan bersih terdampak oleh penghentian kontrak dari XLSmart yang baru melakukan penggabungan, namun level permintaan dasar masih menunjukkan tren yang positif.
Di lain pihak, Bob Setiadi dan Rut Yesika Simak selaku Research Analyst CGS International Sekuritas melakukan pemutakhiran terhadap estimasi kinerja TBIG sampai akhir 2026 dengan mengacu pada data operasional terbaru.
Keduanya menurunkan asumsi mengenai jumlah menara serta penyewa untuk masa 2026 hingga 2027 sebesar 3,8 persen–3,9 persen lantaran proses rasionalisasi jaringan yang bergulir lebih cepat pasca konsolidasi XL–SmartFren.
“Konsolidasi operator telekomunikasi diprediksi masih akan berlanjut dalam dua tahun ke depan sebelum mulai normal kembali pada 2028. Untuk 2026–2027, kami memproyeksikan pertumbuhan pendapatan TBIG sebesar 1,3 persen–1,9 persen YoY,” terangnya dalam riset sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Secara keseluruhan, Bob dan Rut memperkirakan laba bersih perseroan pada tahun buku 2026 dan 2027 akan tumbuh secara bertahap di level 3 persen–5 persen per tahun menjadi Rp 1,5 triliun–Rp 1,58 triliun. Proyeksi ini 5 persen–8 persen lebih rendah dibandingkan estimasi mereka yang terdahulu.
Melalui pertimbangan itu, target harga saham TBIG ikut diturunkan dari Rp 2.025 per saham menjadi Rp 1.925. Walau demikian, mereka tetap mempertahankan rekomendasi hold untuk saham ini.
“TBIG masih mampu menghasilkan arus kas bebas yang solid sebesar Rp 3,2 triliun–Rp 3,5 triliun per tahun pada 2026–2026, meskipun valuasinya sebesar 12,2 kali EV/EBITDA 2026 masih lebih tinggi dibandingkan para pesaingnya,” tulis Bob dan Rut sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











