Sabtu, 09 Mei 2026

Harga Batu Bara Rontok Permintaan Asia Melemah Meski Ada Konflik

Harga Batu Bara Rontok Permintaan Asia Melemah Meski Ada Konflik
Ilustrasi Batu Bara (Foto: CNBC Indonesia).

JAKARTA – Harga batu bara dunia kembali mengalami penurunan pada transaksi Jumat (8/5/2026), akibat melandainya permintaan dari negara-negara di kawasan Asia walaupun ketegangan di Timur Tengah masih mengganggu pasokan energi di tingkat global.

Merujuk pada angka perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Mei 2026 menyusut US$ 0,45 ke angka US$ 131,75 per ton. Kontrak Juni 2026 mengalami koreksi sebesar US$ 0,75 ke posisi US$ 134,45 per ton, sementara Juli 2026 turun US$ 0,15 menjadi US$ 136,6 per ton.

Di sisi lain, harga batu bara Rotterdam menunjukkan pergerakan yang beragam. Kontrak Mei 2026 justru merangkak naik US$ 2,1 ke level US$ 107,1 per ton. Kontrak Juni 2026 tumbuh US$ 0,45 menjadi US$ 111,6 per ton, dan Juli 2026 meningkat US$ 0,5 ke level US$ 113,8 per ton.

Baca Juga

Pertamax Naik, Cek Harga Pertalite dan BBM Pertamina 09 Mei 2026

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, harga batu bara bergerak mendekati US$ 130 per ton dan berpotensi menutup pekan di zona merah. 

Pelemahan terjadi karena peralihan bahan bakar di sejumlah negara utama Asia akibat gangguan pasokan energi dari Timur Tengah ternyata tidak seagresif perkiraan awal pasar.

Pada awalnya, batu bara termal diprediksi menjadi pilihan utama untuk menggantikan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) pada pembangkit listrik, khususnya setelah terhambatnya arus di Selat Hormuz yang berdampak pada sekitar 20 persen pasokan LNG dunia.

Meski demikian, data terkini memperlihatkan bahwa impor batu bara termal oleh Jepang dan Korea Selatan pada April justru lebih sedikit jika dibandingkan bulan Maret. 

Jumlah impor kedua negara tersebut pun masih di bawah rata-rata lima tahun terakhir, yang menunjukkan permintaan batu bara masih cenderung lesu.

Para analis juga menyoroti bahwa penurunan impor LNG paling signifikan di Asia dialami oleh China. Negara tersebut membatasi pembelian LNG dari mancanegara dan memilih memaksimalkan produksi batu bara dalam negeri serta mengandalkan gas alam dari pipa serta sumber domestik.

Kebijakan tersebut dianggap berperan dalam mengurangi tekanan pada ketersediaan LNG global yang sebelumnya dikhawatirkan bakal mendongkrak permintaan batu bara di wilayah Asia.

Ibtihal

Ibtihal

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Prospek Produksi Membaik, Harga CPO Tertekan Sentimen Global

Prospek Produksi Membaik, Harga CPO Tertekan Sentimen Global

Daftar Harga BBM 9 Mei 2026: Pertamina Dex Tembus Rp27.900 per Liter

Daftar Harga BBM 9 Mei 2026: Pertamina Dex Tembus Rp27.900 per Liter

Harga Minyak Melemah, Volatilitas Tinggi Dipicu Konflik AS dan Iran

Harga Minyak Melemah, Volatilitas Tinggi Dipicu Konflik AS dan Iran

Harga Minyak Normal, Begini Prospek Kinerja MEDC, RATU, dan RAJA

Harga Minyak Normal, Begini Prospek Kinerja MEDC, RATU, dan RAJA

 Minyak Rebound ke US$ 97,10 Dipicu Bentrokan Pasukan AS dan Iran

Minyak Rebound ke US$ 97,10 Dipicu Bentrokan Pasukan AS dan Iran