Saham Bank Bagi Dividen di Tengah Koreksi Harga, Simak Daftar Terbesarnya
- Sabtu, 09 Mei 2026
JAKARTA – Berbagai saham di sektor perbankan pada Bursa Efek Indonesia (BEI), mulai dari kelompok blue chip sampai saham bank pembangunan daerah, sedang gencar mendistribusikan dividen yang berasal dari perolehan laba tahun buku 2025.
Pertanyaannya, saham perbankan manakah yang memberikan keuntungan paling maksimal bagi para pemegang saham?
Fenomena pembagian dividen ini tergolong menarik lantaran terjadi saat harga saham perbankan sedang mengalami tren penurunan sejak permulaan tahun. Situasi ini justru membuat imbal hasil dividen (dividend yield) di sejumlah saham bank menjadi kian memikat bagi para investor yang berfokus pada perolehan dividen.
Baca JugaLaba Bank Jago Melesat 115 Persen dan Setujui Susunan Direksi Baru
Beberapa emiten perbankan bahkan tercatat telah melewati periode cum date, yang merupakan batas akhir bagi investor untuk membeli saham agar berhak mendapatkan dividen tersebut.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), sebagai contoh, bakal membagikan dividen dengan rasio 20% dari total laba bersih tahun buku 2025, atau setara dengan Rp 1,51 triliun. Angka ini merepresentasikan nilai Rp 32,81 per lembar saham.
Perolehan dividen BRIS ini mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp 1,05 triliun atau Rp 22,78 per saham. Berdasarkan harga penutupan BRIS pada Jumat (8/5/2026) di posisi Rp 1.910 per saham, maka estimasi dividend yield BRIS berada di kisaran 1,2%.
Di sisi lain, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) mengalokasikan dividen senilai Rp 850,18 miliar atau setara Rp 56,62 per lembar saham. Nilai ini menunjukkan peningkatan dari dividen tahun sebelumnya yang sebesar Rp 54,71 per saham.
Secara keseluruhan, total dividen yang disalurkan mencapai 55% dari laba bersih tahun buku 2025. Pada sesi perdagangan Jumat (8/5), harga saham BJTM parkir di level Rp 605 per saham atau menguat 1,68% dari hari sebelumnya, sehingga dividend yield BJTM menyentuh angka sekitar 9,4%.
Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah resmi menetapkan total pembagian dividen sebesar Rp 52,1 triliun atau Rp 346 per saham. Nilai tersebut sudah mencakup dividen interim sebesar Rp 137 per saham atau senilai Rp 20,6 triliun yang telah diselesaikan pembayarannya pada 15 Januari 2026.
Dengan demikian, sisa dividen tunai yang akan dibayarkan adalah sebesar Rp 209 per saham atau senilai Rp 31,47 triliun. Merujuk pada harga saham BBRI di posisi Rp 3.260 per saham, dividend yield BBRI menjadi salah satu yang paling tinggi di industri perbankan, yakni di kisaran 10,6%.
Penurunan harga saham BBRI sebesar 10,93% sejak awal tahun menjadi faktor utama yang membuat tingkat imbal hasil dividennya semakin atraktif.
Adapun PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dijadwalkan membagikan dividen tunai sebesar Rp 35,15 triliun atau senilai Rp 376,96 per saham pada tanggal 25 Mei 2026.
Melalui kebijakan ini, investor akan memperoleh sekitar Rp 37.696 untuk setiap satu lot saham BMRI. Pada perdagangan Jumat (8/5), BMRI ditutup pada level Rp 4.630 per saham atau terkoreksi harian sebesar 0,22%, dengan catatan dividend yield sekitar 8,14%.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sudah menyalurkan dividen senilai Rp 13,03 triliun, yang setara dengan 65% dari perolehan laba bersih konsolidasian tahun buku 2025 sebesar Rp 20,04 triliun.
Tiap pemegang saham BBNI mendapatkan dividen tunai Rp 349,41 per saham dengan perkiraan dividend yield sebesar 9,05%. Begitu pula dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mematok dividen tunai Rp 336 per saham dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp 57,5 triliun.
Total dividen final BBCA tercatat Rp 41,3 triliun dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) sebesar 72%, naik dari tahun sebelumnya yang berada di angka 67,4%.
Rekomendasi Saham
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, berpendapat bahwa BJTM merupakan salah satu pilihan saham bank yang sangat menarik dari aspek dividend yield saat ini.
“BJTM menjadi salah satu saham bank yang menarik dari sisi dividend yield karena dividen Rp 56,62 per saham memberikan estimasi yield sekitar 9,5%-9,6% berdasarkan harga saham di kisaran Rp 590-Rp 595,” tutur Ekky Jumat (8/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain BJTM, saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar besar seperti BMRI dan BBRI juga dinilai tetap prospektif bagi pemburu dividen. BMRI menyalurkan dividen sekitar Rp 376,96 per saham, sedangkan BBRI memberikan Rp 346 per saham untuk kinerja tahun buku 2025.
Menurut analisis Ekky, agenda pembagian dividen biasanya memberikan sentimen positif pada pergerakan harga saham dalam jangka pendek karena tingginya minat investor sebelum masa cum date. Namun, potensi koreksi harga sering terjadi setelah memasuki ex-date sebagai bentuk penyesuaian terhadap nilai dividen yang dibagikan.
“Dampak pembagian dividen biasanya positif dalam jangka pendek karena minat investor meningkat menjelang cum date. Namun setelah ex-date, harga saham umumnya berpotensi terkoreksi menyesuaikan nilai dividen,” jelas Ekky, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mengenai prospek saham sektor perbankan di sepanjang tahun 2026, Ekky memprediksi pergerakannya masih akan cenderung mendatar hingga selektif.
Walaupun penyaluran kredit perbankan masih tumbuh, para investor tetap mewaspadai tekanan pada margin bunga, biaya dana (cost of fund), kualitas kredit, serta arah kebijakan suku bunga acuan.
Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan hingga Maret 2026 tumbuh 9,49% secara tahunan (yoy). Meski begitu, tantangan pada segmen tertentu seperti UMKM perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat memengaruhi kualitas aset perbankan.
Ekky menyarankan para investor untuk mencermati saham BJTM, khususnya saat harga berada di bawah level Rp 600 per saham.
“Area tersebut masih memberikan yield yang atraktif dan margin of safety lebih baik,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Target harga jangka pendek untuk BJTM diproyeksikan berada pada rentang Rp 650 sampai Rp 670 per saham, dengan catatan investor perlu mengantisipasi potensi penurunan harga pasca periode dividen.
Senada dengan hal tersebut, Senior Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai bahwa dividen di sektor perbankan tetap memiliki daya tarik tersendiri meskipun tidak lagi seprogresif sebelumnya.
Menurut pandangannya, tekanan akibat penyempitan margin bunga, perlambatan laju kredit, serta potensi kenaikan biaya pencadangan (cost of credit) menjadi pembatas bagi ruang kenaikan rasio pembayaran dividen.
Kendati demikian, kondisi permodalan bank yang masih sangat kuat diyakini mampu menjaga keberlangsungan pembagian dividen di masa depan. Perbankan diperkirakan akan lebih memprioritaskan stabilitas serta kesinambungan dividen dibandingkan sekadar mengejar tingkat imbal hasil yang tinggi.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











