Jumat, 06 Maret 2026

Indonesia Dorong Strategi Multi Usaha Kehutanan di Forum Global Vienna untuk Perkuat Bioekonomi Hutan Berkelanjutan

Indonesia Dorong Strategi Multi Usaha Kehutanan di Forum Global Vienna untuk Perkuat Bioekonomi Hutan Berkelanjutan
Indonesia Dorong Strategi Multi Usaha Kehutanan di Forum Global Vienna untuk Perkuat Bioekonomi Hutan Berkelanjutan

JAKARTA - Upaya Indonesia dalam memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan kembali mendapat perhatian dalam forum internasional yang mempertemukan berbagai negara dan organisasi dunia. Dalam ajang Global Summit: Advancing Sustainable Forest-Based Bioeconomy Approaches di Vienna, Austria, Indonesia menegaskan langkah transformasi sektor kehutanan melalui strategi Multi Usaha Kehutanan (MUK).

Forum internasional tersebut menjadi ruang penting bagi berbagai negara untuk berbagi pendekatan dalam mengembangkan bioekonomi berbasis hutan yang berkelanjutan. Indonesia memanfaatkan kesempatan itu untuk menunjukkan bagaimana kebijakan kehutanan nasional terus diarahkan pada pengelolaan hutan yang produktif sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.

Strategi Multi Usaha Kehutanan dipaparkan sebagai salah satu langkah nyata dalam memperkuat implementasi pengelolaan hutan lestari atau Sustainable Forest Management. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan hutan tanpa mengabaikan fungsi lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.

Baca Juga

Kemendag Resmikan SPKLU, Penggunaan Mobil Listrik Semakin Hemat

Selain itu, strategi tersebut juga dipandang sebagai bagian dari upaya global dalam menjawab tantangan perubahan iklim serta kebutuhan ekonomi masa depan. Melalui pengelolaan yang lebih terintegrasi, hutan tidak hanya dilihat sebagai sumber kayu semata, tetapi juga sebagai sumber daya ekonomi yang beragam.

Indonesia menilai bahwa sektor kehutanan memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi hijau. Oleh karena itu, kebijakan yang diterapkan diarahkan agar mampu memaksimalkan manfaat hutan secara berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

Transformasi Pengelolaan Hutan Melalui Multi Usaha Kehutanan

Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan (IPHH) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Krisdianto dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis menyampaikan bahwa penguatan bioekonomi berbasis hutan di Indonesia kini memiliki landasan hukum yang kuat. Dasar hukum tersebut hadir melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja.

Regulasi tersebut memberikan ruang lebih luas bagi pemanfaatan sumber daya hutan secara optimal. Kebijakan ini sekaligus menjadi pijakan penting dalam mendorong transformasi sektor kehutanan yang lebih adaptif terhadap perkembangan ekonomi global.

“Manfaat hutan yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomi tidak lagi hanya bertumpu pada hasil kayu, namun juga mencakup hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, hingga wisata alam,” ujar Krisdianto. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa potensi ekonomi hutan jauh lebih luas dibandingkan pendekatan konvensional sebelumnya.

Dengan pendekatan baru ini, pemanfaatan hutan tidak hanya berfokus pada produksi kayu sebagai komoditas utama. Berbagai potensi lain seperti jasa lingkungan, wisata alam, serta hasil hutan non-kayu kini mulai dikembangkan sebagai sumber ekonomi tambahan.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi pelaku sektor kehutanan. Selain meningkatkan nilai ekonomi kawasan hutan, strategi ini juga diharapkan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan.

Integrasi Perizinan dalam Skema PBPH

Krisdianto juga menjelaskan bahwa kebijakan Multi Usaha Kehutanan telah terintegrasi dalam sistem perizinan yang lebih sederhana. Integrasi ini dilakukan melalui Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan atau PBPH.

“Melalui kerangka Multi Usaha Kehutanan (MUK), perizinan pemanfaatan ini telah terintegrasi dalam Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH),” imbuhnya. Integrasi tersebut dinilai dapat mempermudah pelaku usaha dalam mengelola berbagai potensi hutan secara legal dan terstruktur.

Melalui sistem ini, satu izin dapat mencakup berbagai aktivitas pemanfaatan hutan yang sebelumnya harus diajukan secara terpisah. Hal tersebut memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pemegang izin dalam mengembangkan usaha berbasis hutan.

Kebijakan tersebut juga diyakini mampu meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya hutan. Dengan sistem perizinan yang lebih terpadu, proses administrasi menjadi lebih sederhana dan transparan.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari reformasi tata kelola kehutanan di Indonesia. Pemerintah berharap integrasi tersebut dapat mendorong investasi sekaligus memastikan praktik pengelolaan hutan tetap berjalan secara berkelanjutan.

Revisi Rencana Kerja untuk Memaksimalkan Potensi Ekonomi Hutan

Seiring dengan perubahan kebijakan tersebut, para pemegang izin juga melakukan penyesuaian dalam rencana kerja mereka. Penyesuaian dilakukan melalui revisi Rencana Kerja Usaha (RKU) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT).

Krisdianto menyampaikan bahwa langkah ini dilakukan untuk memaksimalkan potensi ekonomi kawasan hutan. Melalui revisi tersebut, berbagai peluang usaha baru berbasis hutan dapat diakomodasi dalam perencanaan pengelolaan.

“Pengelolaan hutan lestari bukan hanya tugas Pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh pihak, terutama mereka yang mengambil manfaat dari hutan. Indonesia mendukung penuh Vienna Call for Actions sebagai panduan global masa depan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan hutan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Semua pihak yang memanfaatkan sumber daya hutan memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan ekosistemnya.

Dengan keterlibatan berbagai pihak, pengelolaan hutan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan inklusif. Hal ini juga menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa manfaat ekonomi dari hutan dapat dirasakan secara luas.

Kolaborasi Global untuk Masa Depan Bioekonomi Hutan

Pertemuan tingkat tinggi tersebut dibuka oleh Menteri Federasi Pertanian dan Kehutanan Republik Austria, Norbert Totschnig. Ia menekankan bahwa hutan memiliki peran penting dalam menjawab tantangan perubahan iklim global.

Menurutnya, hutan juga menjadi elemen kunci dalam proses transisi menuju bioekonomi berkelanjutan. Oleh karena itu, pengelolaan hutan lestari harus menjadi fondasi utama agar nilai ekonomi dapat berjalan sejalan dengan perlindungan keanekaragaman hayati.

Forum Global Summit tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 60 negara dan 120 organisasi internasional. Sejumlah lembaga internasional juga hadir dalam pertemuan tersebut untuk membahas masa depan sektor kehutanan dunia.

Di antaranya adalah Organisasi Pertanian dan Pangan Dunia (FAO), Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa Bidang Kehutanan (UNFF), serta Organisasi Kayu Tropis Internasional (ITTO). Kehadiran berbagai lembaga tersebut menunjukkan besarnya perhatian dunia terhadap pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

Dalam berbagai sesi diskusi, Indonesia bersama sejumlah negara lain seperti Finlandia, Jepang, dan Australia menyampaikan pandangan mengenai pentingnya inovasi teknologi. Teknologi dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan efisiensi sekaligus transparansi pengelolaan sumber daya hutan.

Selain inovasi teknologi, kepastian hukum juga menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan bioekonomi berbasis hutan. Kepastian regulasi dapat meningkatkan kepercayaan investor dan pelaku usaha terhadap sektor kehutanan.

Sistem ketertelusuran atau traceability rantai pasok juga menjadi salah satu topik utama dalam pembahasan forum tersebut. Sistem ini dianggap penting untuk memastikan bahwa produk berbasis hutan berasal dari sumber yang legal dan berkelanjutan.

Kepercayaan pasar global terhadap produk kehutanan sangat bergantung pada transparansi rantai pasoknya. Oleh karena itu, berbagai negara mendorong penguatan sistem ketertelusuran sebagai bagian dari standar perdagangan internasional.

Selain itu, sejumlah poin strategis lain juga menjadi sorotan dalam pertemuan tersebut. Salah satunya adalah pemanfaatan konstruksi kayu sebagai solusi rendah karbon untuk pembangunan masa depan.

Material berbasis kayu dinilai memiliki potensi besar dalam mengurangi emisi karbon dari sektor konstruksi. Penggunaan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi krisis iklim.

Topik lain yang turut dibahas adalah penguatan potensi hasil hutan bukan kayu. Produk-produk tersebut dinilai dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal yang hidup di sekitar kawasan hutan.

Melalui pengembangan hasil hutan non-kayu, kesejahteraan masyarakat diharapkan dapat meningkat tanpa harus merusak ekosistem hutan. Pendekatan ini juga menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya instrumen pembiayaan inovatif dalam mendukung sektor kehutanan. Pembiayaan yang memadai dinilai sangat diperlukan untuk mengatasi kesenjangan pendanaan dalam pengelolaan hutan global.

Kemitraan antara sektor publik dan swasta juga didorong sebagai solusi untuk memperkuat pembiayaan tersebut. Kolaborasi lintas sektor diyakini dapat mempercepat transformasi menuju bioekonomi berbasis hutan yang lebih berkelanjutan.

Dengan berbagai inisiatif tersebut, forum internasional ini diharapkan dapat menghasilkan langkah konkret bagi masa depan kehutanan dunia. Indonesia pun menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam upaya global menjaga keberlanjutan hutan sekaligus memaksimalkan manfaat ekonominya.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Kopdes Merah Putih Jadi Penentu Masa Depan Koperasi Indonesia

Kopdes Merah Putih Jadi Penentu Masa Depan Koperasi Indonesia

Kemenhut Tegaskan Komitmen Pengelolaan Hutan Lestari Berkelanjutan Indonesia

Kemenhut Tegaskan Komitmen Pengelolaan Hutan Lestari Berkelanjutan Indonesia

BPH Migas Pastikan Keandalan Kilang Dumai Jaga Pasokan BBM Nasional

BPH Migas Pastikan Keandalan Kilang Dumai Jaga Pasokan BBM Nasional

Kapasitas Panas Bumi BREN Mendekati Target 1 GW Pada Tahun 2026

Kapasitas Panas Bumi BREN Mendekati Target 1 GW Pada Tahun 2026

Petani Cabai Singkil Utara Siapkan Panen Perdana Menjelang Idul Fitri Tahun Ini

Petani Cabai Singkil Utara Siapkan Panen Perdana Menjelang Idul Fitri Tahun Ini