JAKARTA - Pemerintah Indonesia membuka peluang investasi luas bagi perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat dalam pengembangan sumber daya mineral kritis seperti nikel dan logam tanah jarang (LTJ). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan AS tidak hanya terbatas pada eksplorasi, tetapi juga pada proses hilirisasi dan pengolahan di dalam negeri karena ini sejalan dengan kebijakan nasional yang memprioritaskan nilai tambah dalam negeri.
Investasi AS dalam Hilirisasi Mineral RI: Dasar Kesepakatan
Kesepakatan investasi tersebut menjadi bagian dari komitmen bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat di bawah perjanjian perdagangan dagang timbal balik (Agreement on Reciprocal Trade/ART) yang ditandatangani kedua negara beberapa waktu lalu. Langkah ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan global akan mineral strategis seperti nikel dan LTJ yang menjadi komoditas penting dalam rantai pasok energi bersih dan kendaraan listrik dunia.
Baca JugaKAI Siapkan Moda Kereta Ekonomi Terjangkau untuk Masa Angkutan Lebaran 2026
Bahlil menyatakan bahwa pemerintah tidak berniat membuka kembali keran ekspor bijih mentah. Sebaliknya, Indonesia akan memfasilitasi investasi asing dengan syarat bahwa seluruh kegiatan pengolahan dan pemurnian dilakukan di dalam negeri sebelum produk jadi diekspor. Prinsip ini selaras dengan agenda hilirisasi nasional yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Skema Kolaborasi dengan BUMN Tambang Indonesia
Dalam realisasinya, pemerintah menawarkan dua skema investasi kepada calon investor asal AS. Skema pertama adalah investasi langsung oleh perusahaan AS dalam eksplorasi dan pembangunan fasilitas pengolahan mineral. Skema kedua adalah melalui kemitraan atau joint venture (JV) dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia. Hal ini dibuka untuk memperkuat peran BUMN sekaligus memastikan teknologi, pengetahuan, dan nilai tambah lebih besar dapat ditransfer ke sektor domestik.
Bahlil menekankan bahwa kolaborasi dengan BUMN bukanlah sekadar kerja sama bisnis biasa, tetapi bagian dari strategi untuk memperkuat kapasitas industri nasional. Ini termasuk transfer teknologi dan modal, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah tetapi juga pemain utama dalam pengolahan mineral strategis.
Menjaga Kepentingan Nasional dalam Investasi Asing
Meski membuka peluang bagi perusahaan Amerika, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa semua kegiatan investasi harus mematuhi regulasi nasional yang berlaku. Hal ini mencakup persyaratan untuk mendukung agenda hilirisasi dan penciptaan nilai tambah domestik serta perlindungan kepentingan strategis negara. Investasi asing tidak akan diberi perlakuan khusus di luar kerangka hukum yang telah ditetapkan.
Bahlil menggarisbawahi bahwa kebijakan ini juga berlaku untuk semua negara mitra lain, sehingga Indonesia tetap menjalankan prinsip ekonomi bebas aktif dengan perlakuan setara bagi investor global. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga kedaulatan atas sumber daya mineral strategis sambil tetap mendorong kerja sama internasional yang saling menguntungkan.
Peran Hilirisasi dalam Menyokong Industri Nasional
Hilirisasi mineral menjadi fokus utama dalam kebijakan investasi ini. Dengan memprioritaskan pembangunan fasilitas pengolahan seperti smelter dan pabrik pemurnian di dalam negeri, Indonesia berharap dapat meningkatkan kontribusi sektor mineral terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Program hilirisasi juga penting dalam menciptakan lapangan kerja, memperkuat daya saing industri, serta mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Stakeholder industri dan analis mengatakan bahwa keterlibatan AS dalam pengembangan mineral kritis di Indonesia dapat membawa dampak positif terhadap percepatan pembangunan infrastruktur pengolahan komoditas strategis. Namun, hal ini juga diikuti dengan tantangan dalam memastikan bahwa proyek-proyek tersebut benar-benar memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan pembangunan ekonomi nasional.
Potensi Tantangan dan Harapan ke Depan
Langkah membuka investasi terhadap AS ini diharapkan dapat memperluas akses pasar internasional serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis. Namun, pemerintah tetap waspada terhadap potensi risiko seperti perubahan pasar global, dinamika geopolitik, serta tantangan dalam implementasi proyek hilirisasi yang membutuhkan investasi besar dan waktu panjang.
Dengan aturan yang jelas dan kebijakan yang konsisten, para pemangku kepentingan berharap kolaborasi ini akan mendongkrak nilai tambah industri mineral Indonesia, memperkuat ketahanan ekonomi, serta membuka ruang kerja sama strategis yang lebih luas dengan mitra dunia.
Fery
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
KAI Siapkan Moda Kereta Ekonomi Terjangkau untuk Masa Angkutan Lebaran 2026
- Selasa, 24 Februari 2026
Berita Lainnya
BTN Siapkan 3.500 Kuota Mudik Gratis BUMN 2026 dengan Pendaftaran Mulai 24 Februari
- Selasa, 24 Februari 2026
Syngenta Dorong Pemberdayaan Petani Perempuan untuk Ketahanan Pangan
- Selasa, 24 Februari 2026
Terpopuler
1.
KAI Yogyakarta Masih Sediakan 309 Ribu Tiket Lebaran 2026
- 24 Februari 2026
2.
AS Garap Nikel dan LTJ RI, BUMN Bisa Kolaborasi dengan Tambang
- 24 Februari 2026
3.
4.
5.
Promo All You Can Eat Ramadan 2026 di Hotel Kota Besar
- 24 Februari 2026




.jpg)


.jpg)





