Penyesuaian Tarif Tol Dinilai Bisa Pacu Kinerja Jasa Marga (JSMR), Ini Rekomendasi Sahamnya
- Kamis, 29 Januari 2026
JAKARTA – PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mencatatkan kinerja operasional yang relatif solid sepanjang Januari–September 2025, meskipun masih menghadapi tekanan dari sisi laba bersih dan leverage neraca.
Sejumlah analis menilai bahwa penyesuaian tarif jalan tol yang berlangsung pada 2025 dan berlanjut ke 2026 berpotensi menjadi katalis utama pertumbuhan pendapatan emiten operator jalan tol terbesar di Indonesia tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan hingga kuartal III-2025, JSMR membukukan pendapatan sebesar Rp 21,1 triliun, tumbuh 4% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh pendapatan tol inti yang mencapai Rp 13,42 triliun, meningkat 5% yoy.
Baca JugaDekranasda Bali Fashion Day (DBFD) 2026: Etalase Nyata Daya Saing IKM Lokal Bali
Kenaikan Tarif Tol Jadi Penopang Utama Pendapatan
Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai pertumbuhan pendapatan JSMR masih terjaga berkat penyesuaian tarif tol di sejumlah ruas strategis. Kenaikan tarif tersebut mendorong rata-rata pendapatan tol naik sekitar 5% yoy, meskipun volume lalu lintas tercatat sedikit melemah 0,3% yoy.
Menurutnya, elastisitas lalu lintas yang rendah membuat kenaikan tarif tidak berdampak signifikan terhadap volume kendaraan, sehingga margin pendapatan tetap terjaga.
Segmen Konstruksi Masih Tertekan
Di sisi lain, pendapatan konstruksi JSMR masih menunjukkan pelemahan signifikan. Hingga kuartal III-2025, segmen ini mencatatkan penurunan 24% yoy menjadi Rp 6,56 triliun, seiring dengan proses normalisasi proyek infrastruktur.
Namun secara kuartalan, terdapat sinyal pemulihan. Pendapatan kuartal III-2025 melonjak menjadi Rp 8,14 triliun, didorong oleh pemulihan pendapatan konstruksi yang tumbuh 96% secara kuartalan (qoq).
Sementara itu, pendapatan dari segmen lainnya relatif stabil di kisaran Rp 1,11 triliun, meskipun masih terkoreksi tipis 1% yoy.
Profitabilitas Membaik, Laba Bersih Tertekan Faktor Non-Operasional
Dari sisi profitabilitas, laba kotor dan EBITDA JSMR masing-masing meningkat 6% dan 8% yoy, dengan margin EBITDA naik menjadi 44%. Capaian ini mencerminkan efisiensi operasional yang masih terjaga.
Namun, laba bersih justru tercatat turun 16% yoy menjadi Rp 2,73 triliun, terutama akibat tekanan beban non-operasional, termasuk pajak tangguhan. Pada kuartal III-2025, laba bersih bahkan kembali melemah 9% qoq dan 10% yoy.
Neraca Solid, tapi Leverage Tetap Jadi Perhatian
Secara neraca, JSMR masih mempertahankan posisi keuangan yang relatif kuat. Total aset meningkat 10% yoy menjadi Rp 155 triliun. Meski demikian, indikator profitabilitas seperti Return on Equity (ROE) dan Return on Assets (ROA) masing-masing turun ke level 6% dan 2%.
Sukarno menilai bahwa secara keseluruhan kinerja operasional JSMR tetap tangguh, namun pemulihan pendapatan dan laba bersih masih berjalan lebih lambat dibandingkan ekspektasi awal.
Prospek 2026: Tarif Tol Masih Jadi Katalis
Ke depan, penyesuaian tarif tol yang dilakukan pada 2025 diperkirakan masih akan berdampak positif hingga tahun fiskal 2026. Kenaikan tarif di sejumlah ruas berkisar antara 3,5% hingga 11,4%, termasuk beberapa ruas utama yang sebelumnya mengalami penundaan dan dijadwalkan disesuaikan pada kuartal IV-2025.
Risiko Divestasi Tol Waskita Jadi Sorotan
Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia, Arnanto Januri, menyoroti potensi risiko dari isu divestasi aset jalan tol milik PT Waskita Karya Tbk (WSKT) ke dalam portofolio Jasa Marga.
WSKT saat ini memiliki 10 konsesi jalan tol dengan total panjang 479 km, di mana sekitar 25% masih dalam tahap konstruksi. Menurut perhitungan JP Morgan, sebagian besar tol yang telah beroperasi masih mencatatkan kerugian bersih sekitar Rp 1,4 triliun per tahun.
Jika seluruh aset tersebut diakuisisi, dampaknya bisa setara dengan 40% dari proyeksi pendapatan JSMR 2026. Selain itu, proyek tol yang belum selesai berpotensi menambah belanja modal sekitar Rp 15 triliun, yang dapat meningkatkan utang bersih JSMR hingga Rp 10 triliun.
ESG Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Dari sisi Environmental, Social, and Governance (ESG), Analis Maybank Sekuritas, Etta Rusdiana Putra, mencatat skor ESG JSMR berada di level 39, masih di bawah benchmark Maybank sebesar 50.
Tekanan terutama berasal dari indikator lingkungan, seiring meningkatnya intensitas emisi, energi, dan penggunaan air akibat bertambahnya panjang jalan tol dan volume lalu lintas.
Meski demikian, JSMR dinilai memiliki peluang perbaikan melalui inisiatif:
Daur ulang air
Penggunaan energi terbarukan
Pengoperasian 52 stasiun pengisian kendaraan listrik (EV)
Target penurunan emisi 10% hingga 2029
Rekomendasi Saham JSMR
Secara valuasi, para analis menilai saham JSMR masih menarik dengan prospek jangka menengah yang didukung oleh pertumbuhan pendapatan tol dan ekspansi infrastruktur.
Kiwoom Sekuritas: Buy, target harga Rp 5.300
Maybank Sekuritas: Buy, target harga Rp 6.000
JP Morgan Sekuritas: Overweight, target harga Rp 5.175
Sukarno memproyeksikan pendapatan JSMR 2026 mencapai Rp 30,8 triliun dengan laba bersih sekitar Rp 4 triliun.
Regan
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Waktunya Beristirahat Pilihan Wisata Terbaik di Semarang 2026 untuk Melepas Penat
- Kamis, 29 Januari 2026
Batas Gaji Orang Tua KIP Kuliah 2026 Resmi, Ini Syarat Lengkap dan Besaran Bantuan
- Kamis, 29 Januari 2026
Berita Lainnya
Danantara Buka Jalan Baru Kolaborasi Swasta di Bisnis Hotel BUMN Nasional
- Kamis, 29 Januari 2026
Danantara Targetkan Laba BUMN Rp350 Triliun pada 2026 Lewat Hilirisasi dan Konsolidasi
- Kamis, 29 Januari 2026
Jasa Marga Berlakukan Rekayasa Lalu Lintas di Tol Janger 30 Januari–2 Februari 2026
- Kamis, 29 Januari 2026
KAI Lakukan Cek Kelayakan Rel Malang-Wlingi untuk Persiapkan Angkutan Lebaran 2026
- Kamis, 29 Januari 2026




.jpeg)








