Jumat, 23 Januari 2026

Indonesia Targetkan Lifting Minyak 610 Ribu Barel pada 2026

Indonesia Targetkan Lifting Minyak 610 Ribu Barel pada 2026
Indonesia Targetkan Lifting Minyak 610 Ribu Barel pada 2026

JAKARTA - Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan lifting minyak pada tahun 2026 sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat ketahanan energi nasional. 

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, target lifting minyak ditetapkan sebesar 610 ribu barel per hari, sebuah angka yang menunjukkan optimisme pemerintah dalam memaksimalkan potensi sumber daya energi dalam negeri. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa capaian tersebut akan menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan energi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Baca Juga

Bahlil Instruksikan Penambahan Kuota BBM Subsidi Demi Kelancaran Distribusi Papua dan Aceh

"Lifting kita untuk 2026 sebesar 610 ribu barel yang dimasukkan dalam RAPBN," kata Bahlil.

Menurutnya, target ini akan tercapai melalui sejumlah strategi, termasuk reaktivasi sumur-sumur tua, penerapan teknologi baru, serta percepatan pengembangan lapangan minyak dan gas yang sudah mendapatkan persetujuan pengembangan atau Plan of Development (POD).

Strategi Pemerintah untuk Meningkatkan Lifting Minyak

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah Indonesia menjalankan berbagai strategi terintegrasi yang melibatkan berbagai pihak, baik dari sektor publik maupun swasta. Salah satu strategi utama adalah reaktivasi sumur-sumur tua, yang melibatkan masyarakat sekitar dalam prosesnya. Reaktivasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi minyak nasional. 

Selain itu, penerapan teknologi modern dalam pengelolaan sumur minyak juga menjadi fokus utama, dengan tujuan untuk memaksimalkan hasil dari sumur-sumur yang ada.

Bahlil Lahadalia juga menambahkan bahwa pemerintah mempercepat proses perizinan untuk sumur-sumur tua yang terletak di beberapa wilayah strategis, seperti Jambi, Sumatera Selatan, dan Jawa Tengah. 

"Kami memastikan bahwa seluruh kontraktor kontrak kerja sama (K3S) telah dipanggil untuk mendorong percepatan realisasi produksi migas sesuai dengan target yang ditetapkan," ujarnya. 

Dengan percepatan ini, diharapkan produksi minyak Indonesia dapat memenuhi target dan memberikan kontribusi positif bagi ketahanan energi nasional.

Pencapaian Lifting Minyak pada 2025

Indonesia berhasil mencapai target lifting minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 605 ribu barel per hari (bph). Ini merupakan pencapaian penting, karena lifting minyak menunjukkan kenaikan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir. 

Pencapaian ini dapat dicapai berkat kontribusi signifikan dari perusahaan migas nasional, khususnya PT Pertamina. Lifting minyak yang tercatat pada 2025 juga sudah memperhitungkan kontribusi dari Natural Gas Liquid (NGL) dan kondensat yang dihasilkan oleh PT Donggi Senoro LNG, yang berperan penting dalam mencapai angka tersebut.

Pakar Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Profesor Imron Mawardi, mengungkapkan bahwa peran PT Pertamina sangat krusial dalam pencapaian target ini. "Kontribusi Pertamina sangat membantu mencapai target di dalam APBN itu," ujar Imron. 

Menurutnya, BUMN migas ini tidak hanya menguasai sebagian besar produksi minyak nasional, tetapi juga memiliki sejumlah anak perusahaan yang menjadi kontributor terbesar dalam produksi migas, seperti PT Pertamina EP Cepu yang mengelola Blok Cepu bersama ExxonMobil.

Peran Pertamina dalam Ketahanan Energi Nasional

Pertamina, sebagai BUMN migas terbesar di Indonesia, memegang peranan sentral dalam pencapaian target lifting minyak nasional. Perusahaan ini memiliki penguasaan besar terhadap produksi minyak dalam negeri, dengan sejumlah anak perusahaan yang turut berkontribusi dalam menghasilkan minyak dari berbagai blok migas di Indonesia. 

Beberapa anak perusahaan Pertamina, seperti PT Pertamina Hulu Rokan, PT Pertamina EP, dan PT Pertamina Hulu Energi ONWJ, menjadi kontributor terbesar dalam produksi migas nasional.

Profesor Imron Mawardi menyarankan agar Pertamina terus meningkatkan kinerjanya di sektor hulu. "Kita sekarang berharap benar-benar dari Pertamina, yang harus terus meningkatkan kontribusinya di sisi hulu," katanya. 

Ia menambahkan bahwa sektor migas memiliki dampak besar pada perekonomian Indonesia, dengan banyak sektor lain yang sangat bergantung pada industri migas. Oleh karena itu, semakin baik kinerja Pertamina, maka semakin besar pula dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Imron juga menekankan pentingnya meningkatkan eksplorasi sumur baru, agar produksi migas nasional dapat terus meningkat dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah.

 "Dengan meningkatkan produktivitas sumur-sumur yang ada dan mengembangkan eksplorasi sumur baru, diharapkan impor minyak kita dapat terus menurun," ujarnya. Peningkatan produktivitas sumur-sumur minyak ini juga diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan ketahanan energi nasional yang lebih baik.

Dampak Ekonomi dari Sektor Migas

Selain mendukung ketahanan energi, sektor migas juga memiliki dampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Imron Mawardi menjelaskan bahwa industri migas memiliki "linkage" atau keterkaitan yang panjang dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian. 

"Industri migas termasuk sektor yang linkage-nya, multiplier-nya besar," kata Imron. Keberadaan sektor migas yang kuat akan mendorong pertumbuhan sektor-sektor lainnya, seperti industri manufaktur, transportasi, dan perdagangan, yang pada gilirannya akan menghasilkan kegiatan ekonomi yang lebih besar dan menciptakan lapangan kerja.

Dengan penguasaan produksi migas yang lebih besar, Pertamina tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan energi domestik, tetapi juga dalam mendorong perekonomian Indonesia ke arah yang lebih maju dan berkelanjutan. 

"Keberadaan industri migas yang baik itu akan mendorong sektor-sektor lain sehingga menghasilkan kegiatan ekonomi cukup besar," tambah Imron.

Target Lifting Minyak di 2026 dan Tantangan ke Depan

Target lifting minyak yang ditetapkan oleh pemerintah untuk 2026 sebesar 610 ribu barel per hari adalah langkah penting menuju kemandirian energi Indonesia. Namun, tantangan besar tetap ada, terutama dalam menghadapi dinamika industri hulu migas yang penuh tantangan. 

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa pencapaian target lifting minyak pada 2025 merupakan hasil dari upaya yang sangat masif di tengah tantangan yang ada. 

"Alhamdulillah, meski dengan berbagai gejolak, kita berhasil mencapai 605 ribu barel per hari," ujarnya.

Dengan terus mengoptimalkan potensi sumur-sumur yang ada dan mengembangkan sumur-sumur baru, diharapkan Indonesia dapat mencapainya dan menjaga ketahanan energi nasional pada 2026 dan seterusnya.

Celo

Celo

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Indonesia Bidik Lifting Minyak 610 Ribu Barel Tahun Ini 2026

Indonesia Bidik Lifting Minyak 610 Ribu Barel Tahun Ini 2026

Harga Minyak Dunia Tergelincir Setelah Ketegangan Global Mulai Mereda 2026

Harga Minyak Dunia Tergelincir Setelah Ketegangan Global Mulai Mereda 2026

Konsumsi Listrik Nasional Naik, Program Listrik Desa Dorong Akses Merata 2025

Konsumsi Listrik Nasional Naik, Program Listrik Desa Dorong Akses Merata 2025

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru, Update Lengkap Seluruh SPBU Indonesia

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru, Update Lengkap Seluruh SPBU Indonesia

Jadwal Pemadaman Listrik Jogja Hari Ini Untuk Warga Kulon Progo-Bantul

Jadwal Pemadaman Listrik Jogja Hari Ini Untuk Warga Kulon Progo-Bantul