Harga Minyak Dunia Tergelincir Setelah Ketegangan Global Mulai Mereda 2026
- Jumat, 23 Januari 2026
JAKARTA - Harga minyak dunia mengalami penurunan sekitar 2% pada Kamis (Jumat WIB), menembus level terendah dalam satu pekan.
Penurunan ini dipicu meredanya ketegangan geopolitik di Greenland dan Iran, serta beberapa perkembangan positif yang berpotensi mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Brent ditutup pada USD 64,06 per barel, sedangkan WTI turun ke USD 59,36 per barel.
Penurunan harga mencerminkan berkurangnya premi risiko terkait konflik dan potensi gangguan pasokan. Kepala Analis Saxo Bank, Ole Hansen, menilai pasar kini menyesuaikan diri setelah adanya indikasi stabilitas di kawasan Arktik dan Timur Tengah. Kondisi ini mendorong sentimen investor minyak lebih hati-hati.
Baca JugaBahlil Instruksikan Penambahan Kuota BBM Subsidi Demi Kelancaran Distribusi Papua dan Aceh
Kepala analis perusahaan pialang IG, Tony Sycamore, memperkirakan harga minyak akan bertahan di sekitar USD 60 per barel selama ketegangan global tetap terkendali. Hal ini menunjukkan pasar mulai fokus pada faktor fundamental pasokan dan permintaan minyak global.
Meski demikian, ketidakpastian tetap ada karena dinamika perang Rusia-Ukraina dan sanksi terhadap produsen minyak besar seperti Iran dan Venezuela masih memengaruhi pasar.
Ketegangan Greenland dan Iran Berkurang
Presiden AS, Donald Trump, melunakkan ancaman terhadap Greenland dan Iran, sehingga pasar merespons secara positif. Trump menegaskan akses permanen AS ke Greenland telah diamankan melalui kesepakatan dengan NATO, yang memicu pengurangan risiko geopolitik.
Selain itu, Trump menyatakan tidak mengincar aksi militer terhadap Iran selama Teheran mematuhi aturan nuklir internasional. Iran sendiri merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga OPEC, sehingga meredanya risiko konflik berdampak langsung pada harga minyak.
Uni Eropa pun mempertimbangkan kembali hubungan transatlantik dengan AS setelah ancaman tarif dan ketegangan sebelumnya. Hal ini menambah stabilitas persepsi pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
“Premi risiko terkait Greenland dan Iran berkurang, sehingga harga minyak ikut menurun,” kata Hansen. Pernyataan ini menegaskan bahwa sentimen geopolitik masih memengaruhi fluktuasi harga minyak.
Diplomasi Ukraina-AS dan Dampaknya
Pembicaraan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Trump di Davos menggarisbawahi upaya diplomasi untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Sementara syarat jaminan keamanan untuk Ukraina telah disepakati, isu wilayah masih menjadi tantangan utama.
Kesepakatan potensial untuk perdamaian di Ukraina, serta kemungkinan pencabutan sanksi terhadap Rusia, dapat menambah pasokan minyak global. Rusia merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dunia, sehingga setiap perubahan kebijakan berdampak signifikan pada harga.
Namun, tanda-tanda Rusia ingin menghentikan pertempuran masih minim. Ini menunjukkan meskipun ada optimisme diplomasi, pasar minyak tetap mencermati risiko jangka panjang terkait produksi dan distribusi energi.
Angkatan laut Prancis yang mencegat kapal tanker Rusia menjadi pengingat bahwa sanksi dan pengawasan terhadap ekspor minyak tetap berperan dalam memengaruhi harga minyak.
Reformasi Energi Venezuela dan Pengaruh Pasokan
Venezuela tengah melakukan reformasi besar terhadap undang-undang hidrokarbon. Reformasi ini memungkinkan perusahaan asing maupun lokal mengoperasikan ladang minyak melalui kontrak baru dan memperoleh hasil penjualan meskipun menjadi mitra minoritas.
Langkah ini diproyeksikan meningkatkan aliran minyak dari Venezuela, sehingga turut menurunkan harga minyak dunia. Perusahaan perdagangan besar seperti Vitol dan Trafigura juga mulai mengekspor bahan bakar dari Venezuela di bawah kesepakatan AS.
Selain itu, kondisi geopolitik dan sanksi yang membatasi ekspor minyak Venezuela telah menimbulkan volatilitas sebelumnya. Reformasi dan peningkatan ekspor bisa membantu menyeimbangkan pasokan global.
Kondisi ini memberi sinyal positif bagi pasar, tetapi tetap harus diikuti perkembangan diplomasi dan implementasi di lapangan.
Kapasitas Penyimpanan dan Kesehatan Ekonomi
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan penambahan 3,6 juta barel minyak ke penyimpanan pekan terakhir, melebihi ekspektasi pasar. Peningkatan kapasitas penyimpanan ini menambah tekanan penurunan harga minyak.
Selain itu, perkiraan kesehatan perusahaan-perusahaan Eropa memburuk, dengan laba kuartal IV 2025 diproyeksikan turun 4,2%. Faktor ekonomi global turut menekan harga, karena pertumbuhan permintaan dapat melambat jika sektor industri melemah.
Namun, CEO Aramco, Amin Nasser, menilai kekhawatiran kelebihan pasokan minyak global terlalu dibesar-besarkan. Nasser menekankan pertumbuhan permintaan tetap kuat dan stok minyak global semakin menipis.
Dengan faktor geopolitik mereda, reformasi energi, dan kapasitas penyimpanan meningkat, harga minyak dunia menyesuaikan diri dan mencerminkan keseimbangan baru antara risiko dan pasokan global.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Layanan SIM Keliling Jakarta Siap Bantu Perpanjang SIM Di Lima Lokasi
- Jumat, 23 Januari 2026
BPBD Jakarta Peringatkan Hujan Lebat Potensial Guyur Ibu Kota Hingga 24 Januari
- Jumat, 23 Januari 2026
Samsat Keliling Polda Metro Jaya Masih Dibuka di 14 Lokasi Jadetabek
- Jumat, 23 Januari 2026
Wamenag Tekankan Kualitas Layanan KUA Harus Meningkat dan Tidak Lambat
- Jumat, 23 Januari 2026
Berita Lainnya
Konsumsi Listrik Nasional Naik, Program Listrik Desa Dorong Akses Merata 2025
- Jumat, 23 Januari 2026
Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru, Update Lengkap Seluruh SPBU Indonesia
- Jumat, 23 Januari 2026
Kementerian PU Siapkan Langkah Darurat Perbaiki Jalan Terputus Aceh Saat Bencana
- Jumat, 23 Januari 2026
Terpopuler
1.
9 Tanda Tubuh Overdosis Garam yang Wajib Diwaspadai
- 23 Januari 2026
2.
Cara Alami Mengatasi Nyeri Haid Tanpa Obat yang Efektif
- 23 Januari 2026
3.
Pakar Hati-Hati! Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Trump
- 23 Januari 2026












