Kamis, 22 Januari 2026

Dari Kairo, Menag Ajak Umat Jadikan Ekoteologi Dasar Menjaga Alam

Dari Kairo, Menag Ajak Umat Jadikan Ekoteologi Dasar Menjaga Alam
Dari Kairo, Menag Ajak Umat Jadikan Ekoteologi Dasar Menjaga Alam

JAKARTA - Isu kerusakan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan menjadi perhatian serius berbagai kalangan dunia, termasuk tokoh-tokoh agama. 

Dalam konteks inilah Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab keagamaan. 

Penegasan tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Seminar Internasional Fikih Lingkungan atau Ekoteologi yang digelar di Al-Azhar Conference Center, Kairo, Mesir.

Baca Juga

Dorong Pelindungan Paten Inovasi Teknologi Kelistrikan di PLTU Paiton

Dalam forum ilmiah internasional tersebut, Menag menekankan bahwa agama, khususnya Islam, memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran global untuk menjaga kelestarian alam. 

Menurutnya, krisis lingkungan yang terjadi saat ini bukan hanya persoalan teknis atau ekonomi, melainkan juga krisis moral dan spiritual yang membutuhkan pendekatan berbasis nilai-nilai keagamaan.

Lingkungan sebagai Amanah Ilahi

Dalam paparannya, Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, bumi bukanlah milik mutlak manusia. Alam semesta merupakan amanah atau titipan dari Allah SWT yang harus dijaga keseimbangannya oleh manusia sebagai khalifah di muka bumi. 

Oleh karena itu, setiap tindakan yang merusak lingkungan pada hakikatnya bertentangan dengan nilai-nilai ibadah dan tujuan utama pembangunan peradaban.

“Setiap aktivitas yang merusak lingkungan pada dasarnya bertentangan dengan tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban,” kata Menag.

Pernyataan ini menegaskan bahwa eksploitasi alam tanpa memperhatikan kelestarian bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi juga pelanggaran terhadap prinsip-prinsip keagamaan.

Ekoteologi sebagai Fondasi Kesadaran Kolektif

Lebih lanjut, Menag menyoroti pentingnya ekoteologi sebagai fondasi dalam membangun kesadaran kolektif umat Islam terhadap isu lingkungan. 

Ia menjelaskan bahwa ekoteologi mengajarkan hubungan yang seimbang antara manusia dan alam, yang didasarkan pada prinsip amanah, tanggung jawab moral, dan keseimbangan.

“Ekoteologi mengajarkan bahwa hubungan antara manusia dan lingkungan harus dibangun di atas prinsip amanah, tanggung jawab moral, dan keseimbangan,” lanjutnya.

Menurut Nasaruddin, pendekatan ini menempatkan nurani dan etika sebagai unsur utama dalam mengelola kemajuan, terutama di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan teknis. “Saat ini, dunia tidak hanya membutuhkan kecerdasan teknis, tetapi juga nurani dan etika dalam menghadapi kemajuan,” jelasnya. 

Pernyataan tersebut menegaskan perlunya keseimbangan antara inovasi dan nilai moral agar pembangunan tidak merusak lingkungan dan kemanusiaan.

Sinergi Pemikiran Islam Hadapi Krisis Global

Seminar internasional ini mengusung tema “Tantangan Berinteraksi dengan Lingkungan dalam Tafsir dan Sunnah”. Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Agama RI, Al-Azhar Al-Sharif, Kedutaan Besar RI di Kairo, serta Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir. 

Kolaborasi ini mencerminkan kuatnya sinergi pemikiran Islam lintas negara dalam menjawab tantangan global, khususnya krisis lingkungan.

Ratusan peserta hadir dalam seminar ini, terdiri dari ulama, akademisi, dosen, peneliti, mahasiswa, serta pemerhati isu lingkungan. Mereka bersama-sama mendiskusikan kontribusi pemikiran Islam dalam menghadapi persoalan lingkungan global melalui pendekatan teologis, yuridis, dan etis.

Simbol Kepedulian dan Inklusivitas

Di sela kegiatan seminar, Menag Nasaruddin Umar juga melakukan penyerahan simbolis mushaf Al-Qur’an Braille yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI kepada Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Salama Gomaa Dawud. 

Penyerahan ini menjadi simbol komitmen Indonesia dalam mendorong inklusivitas dan akses keagamaan bagi penyandang disabilitas, sekaligus memperkuat hubungan keilmuan antara Indonesia dan Al-Azhar.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Al-Azhar menegaskan bahwa Islam memiliki perhatian besar terhadap pelestarian lingkungan. 

“Menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab institusi, tetapi juga kewajiban setiap individu, karena kerusakan lingkungan akan dirasakan oleh seluruh umat manusia,” ujarnya.

Diplomasi Keagamaan Indonesia–Mesir

Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Kairo, Zaim Al Khalis Nasution, menilai seminar ini sebagai bukti kuatnya hubungan historis dan intelektual antara Indonesia, Mesir, dan Al-Azhar. 

Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat diplomasi keagamaan dan kolaborasi pemikiran Islam dalam menghadapi tantangan global, terutama terkait lingkungan hidup.

Ia menambahkan bahwa pendekatan keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk kebijakan dan kesadaran publik terkait isu-isu global yang berdampak luas, termasuk perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Pemikiran Fikih Lingkungan dari Para Cendekiawan

Dalam sesi seminar, sejumlah cendekiawan terkemuka turut memaparkan konsep fikih lingkungan secara mendalam. 

Hasan El Sagher, Kepala Akademi Internasional Pelatihan Imam dan Pendakwah Al-Azhar, serta Mukhlis Hanafi, Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI, membahas perspektif Al-Qur’an dan Sunnah dalam membangun etika lingkungan.

Pembahasan juga mencakup penguatan kebijakan publik berbasis nilai-nilai keagamaan dan peran strategis institusi keagamaan dalam edukasi ekologis. 

Turut hadir dalam acara tersebut Abbas Shouman, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar, serta Amany Lubis, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga.

Menuju Peradaban Berkelanjutan

Melalui seminar ini, Nasaruddin Umar kembali menegaskan bahwa peradaban Islam harus dibangun di atas nilai-nilai keagamaan yang mendalam. Membangun hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan menjadi langkah penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, ekoteologi bukan sekadar wacana akademik, tetapi harus menjadi panduan nyata dalam kehidupan sehari-hari umat beragama. 

Dengan menjadikan nilai moral dan spiritual sebagai dasar, upaya menjaga lingkungan diharapkan mampu memberikan solusi jangka panjang bagi krisis global yang dihadapi umat manusia saat ini.

Sindi

Sindi

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Layanan Samsat Keliling Jakarta dan Sekitarnya Tersedia di 14 Lokasi

Layanan Samsat Keliling Jakarta dan Sekitarnya Tersedia di 14 Lokasi

Kemenhaj Tegaskan Petugas Haji Wajib Fokus Melayani Jemaah Haji

Kemenhaj Tegaskan Petugas Haji Wajib Fokus Melayani Jemaah Haji

DPR Tekankan Pentingnya Undang-Undang untuk Keberlanjutan Program MBG

DPR Tekankan Pentingnya Undang-Undang untuk Keberlanjutan Program MBG

Indonesia dan Qatar Sepakati Perjanjian Pertahanan Senilai Rp 37,95 Triliun

Indonesia dan Qatar Sepakati Perjanjian Pertahanan Senilai Rp 37,95 Triliun

32.000 Pegawai SPPG Akan Jadi PPPK, Proses Dimulai Februari 2026

32.000 Pegawai SPPG Akan Jadi PPPK, Proses Dimulai Februari 2026