Kamis, 22 Januari 2026

Otomotif : Kendaraan Listrik Murni Dinilai Efektif Kurangi Subsidi Energi Dan Polusi Nasional

Otomotif : Kendaraan Listrik Murni Dinilai Efektif Kurangi Subsidi Energi Dan Polusi Nasional
Otomotif : Kendaraan Listrik Murni Dinilai Efektif Kurangi Subsidi Energi Dan Polusi Nasional

JAKARTA - Dorongan menuju penggunaan kendaraan listrik di Indonesia kian menguat seiring meningkatnya tekanan fiskal akibat subsidi energi dan persoalan kualitas lingkungan. 

Dalam konteks ini, kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) kembali menjadi sorotan sebagai solusi yang dinilai paling relevan. Pandangan tersebut muncul dari analisis pengamat otomotif yang menilai bahwa transisi ke BEV bukan sekadar tren teknologi, melainkan kebutuhan strategis nasional.

Peralihan ke kendaraan berbasis listrik dipandang mampu memberikan manfaat ganda. Di satu sisi, pemerintah dapat menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak bersubsidi. Di sisi lain, kualitas udara dan lingkungan berpeluang membaik secara signifikan. Perspektif inilah yang kemudian mendorong diskursus mengenai efektivitas BEV dibandingkan jenis kendaraan lainnya.

Baca Juga

Dorong Pelindungan Paten Inovasi Teknologi Kelistrikan di PLTU Paiton

BEV dinilai unggul dibanding kendaraan konvensional dan hybrid

Pengamat Otomotif Sony Susmana menilai kendaraan listrik murni merupakan instrumen paling efektif dalam menekan beban subsidi energi sekaligus mengurangi polusi. Menurutnya, jika dibandingkan kendaraan bermesin konvensional berbahan bakar fosil maupun kendaraan hybrid, BEV memberikan dampak fiskal dan lingkungan yang lebih optimal.

“Dibandingkan kendaraan bermesin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE) maupun Hybrid Electric Vehicle (HEV), BEV dinilai memberikan dampak fiskal dan lingkungan yang lebih optimal,” kata Sony dikutip Selasa (20/1). Pernyataan tersebut menegaskan posisi BEV sebagai pilihan teknologi yang lebih bersih dan efisien dalam jangka panjang.

Kendaraan hybrid memang dianggap lebih hemat bahan bakar dibandingkan kendaraan konvensional. Namun, keberadaan mesin pembakaran internal di dalamnya tetap menyisakan ketergantungan pada BBM. Hal ini membuat dampak penghematan subsidi dan penurunan emisi belum sepenuhnya maksimal.

Tekanan subsidi energi jadi alasan kuat percepatan adopsi

Sony memandang peningkatan adopsi BEV sebagai langkah krusial untuk mengurangi konsumsi BBM bersubsidi. Selama ini, subsidi energi menjadi salah satu pos belanja terbesar negara dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dengan beralih ke transportasi berbasis listrik, tekanan terhadap anggaran negara dapat dikendalikan secara bertahap.

“Dengan beralih ke transportasi berbasis listrik, pemerintah dinilai memiliki ruang lebih besar untuk mengendalikan tekanan fiskal sekaligus mendukung agenda transisi energi,” katanya. Pernyataan ini mencerminkan harapan agar kebijakan transportasi sejalan dengan strategi pengelolaan keuangan negara.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan alokasi subsidi energi pada 2024 mencapai Rp 177,62 triliun, meningkat dari realisasi 2023 sebesar Rp 164,3 triliun. Tren ini mempertegas urgensi kebijakan yang mendorong pergeseran dari kendaraan berbasis fosil menuju kendaraan listrik.

Dampak positif terhadap kesehatan fiskal negara

Dalam pandangan Sony, BEV memiliki potensi besar dalam menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Ketergantungan tersebut selama ini membuat anggaran negara rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Dengan memperluas penggunaan kendaraan listrik, risiko tersebut dapat ditekan secara signifikan.

“BEV memiliki potensi besar dalam menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Dalam jangka menengah hingga panjang, hal ini berdampak positif terhadap kesehatan fiskal negara,” ujar Sony. Ia menilai bahwa manfaat fiskal dari BEV tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan.

Pengurangan konsumsi BBM bersubsidi secara langsung akan mengurangi beban APBN. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk subsidi dapat dialihkan ke sektor lain yang lebih produktif, seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur.

Keunggulan lingkungan dari kendaraan listrik murni

Dari sisi lingkungan, BEV dinilai memiliki keunggulan yang sulit disaingi teknologi kendaraan lainnya. Sony menjelaskan bahwa kendaraan listrik murni tidak menghasilkan emisi gas buang sama sekali saat digunakan. Hal ini berbeda dengan kendaraan hybrid yang masih mengandalkan mesin pembakaran internal.

BEV sepenuhnya menggunakan tenaga listrik sehingga dinilai sebagai teknologi paling bersih di sektor transportasi. Dengan semakin padatnya lalu lintas di kawasan perkotaan, keberadaan kendaraan tanpa emisi menjadi faktor penting dalam menekan polusi udara.

Selain itu, berkurangnya emisi gas buang juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Kualitas udara yang lebih baik dapat menurunkan risiko penyakit pernapasan dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan, terutama di kota-kota besar.

Efisiensi energi dan peran infrastruktur pendukung

Sony juga menyoroti efisiensi energi BEV yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Tanpa proses pembakaran, energi listrik dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk menggerakkan kendaraan. Kehilangan energi yang biasanya terjadi pada mesin konvensional dapat diminimalkan.

Dengan pertumbuhan infrastruktur pengisian daya yang terus meningkat, BEV diposisikan sebagai pilar utama dalam transformasi transportasi rendah emisi di Indonesia. Ketersediaan stasiun pengisian daya menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik.

Peningkatan infrastruktur ini diharapkan berjalan seiring dengan kebijakan insentif dan edukasi publik. Dengan demikian, adopsi BEV tidak hanya didorong oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh kesadaran akan manfaat lingkungan.

Transisi energi dan arah kebijakan transportasi nasional

Pandangan yang disampaikan Sony menegaskan bahwa pengembangan kendaraan listrik murni memiliki dimensi strategis yang luas. BEV bukan hanya solusi teknis, tetapi juga bagian dari kebijakan transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.

Dengan menggabungkan aspek fiskal, lingkungan, dan efisiensi energi, BEV dinilai mampu menjawab tantangan transportasi masa depan. Keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan dukungan infrastruktur.

Jika adopsi BEV terus ditingkatkan, Indonesia berpeluang mengurangi beban subsidi energi sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan. Dalam jangka panjang, langkah ini diharapkan mampu menciptakan sistem transportasi yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Layanan Samsat Keliling Jakarta dan Sekitarnya Tersedia di 14 Lokasi

Layanan Samsat Keliling Jakarta dan Sekitarnya Tersedia di 14 Lokasi

Kemenhaj Tegaskan Petugas Haji Wajib Fokus Melayani Jemaah Haji

Kemenhaj Tegaskan Petugas Haji Wajib Fokus Melayani Jemaah Haji

DPR Tekankan Pentingnya Undang-Undang untuk Keberlanjutan Program MBG

DPR Tekankan Pentingnya Undang-Undang untuk Keberlanjutan Program MBG

Dari Kairo, Menag Ajak Umat Jadikan Ekoteologi Dasar Menjaga Alam

Dari Kairo, Menag Ajak Umat Jadikan Ekoteologi Dasar Menjaga Alam

Indonesia dan Qatar Sepakati Perjanjian Pertahanan Senilai Rp 37,95 Triliun

Indonesia dan Qatar Sepakati Perjanjian Pertahanan Senilai Rp 37,95 Triliun