JAKARTA - Di tengah selektivitas modal global yang meningkat dan penyesuaian rantai pasok internasional, Batam berhasil membuktikan diri sebagai kawasan yang tetap menarik bagi investor.
Realisasi investasi riil yang mencapai Rp69,30 triliun sepanjang 2025 menunjukkan bahwa Batam tidak hanya mampu mempertahankan arus modal, tetapi juga mampu melampaui target yang ditetapkan.
Angka tersebut bahkan berada sekitar 15% di atas target tahunan sebesar Rp60 triliun. Capaian ini menempatkan Batam sebagai salah satu kawasan dengan kualitas eksekusi investasi industri yang menonjol di Indonesia.
Baca JugaTarif Listrik PLN Januari 2026 Tetap Stabil, Simak Informasinya
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad menyatakan, capaian tersebut mencerminkan penguatan fundamental ekonomi kawasan. Menurutnya, pertumbuhan investasi Batam tidak semata didorong oleh penambahan jumlah proyek, tetapi oleh ekspansi dan pendalaman kapasitas pelaku usaha yang telah beroperasi.
“Yang tercermin adalah uang yang bekerja di lapangan-bukan sekadar rencana di atas kertas,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa investasi yang masuk ke Batam benar-benar terealisasi dalam bentuk aset dan kegiatan produksi, bukan sekadar komitmen yang belum berwujud.
Percepatan Realisasi di Paruh Kedua Menandai Capital Deepening
Ia menambahkan, percepatan realisasi pada paruh kedua 2025 menandai meningkatnya belanja modal industri, seiring Batam memasuki fase capital deepening yang berperan langsung meningkatkan produktivitas dan daya saing kawasan.
Kondisi ini penting karena menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi di Batam mulai memperbesar kapasitas produksinya, bukan hanya sekadar membuka fasilitas baru. Peningkatan belanja modal ini menjadi indikasi bahwa investor melihat potensi pertumbuhan jangka panjang di kawasan ini.
Dari sisi struktur, Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Candra menjelaskan, bahwa komposisi investasi Batam semakin matang, baik berdasarkan asal negara penanam modal maupun sektor usaha.
Sepanjang 2025, Singapura tetap menjadi sumber investasi utama, diikuti Taiwan, RRT, Malaysia, Hongkong (RRT), Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Swiss dan Perancis-kombinasi yang mencerminkan keterhubungan Batam dengan jaringan manufaktur dan logistik regional. Menurut Li Claudia, struktur ini menunjukkan orientasi investasi yang semakin terkonsentrasi pada sektor produktif penopang industri inti.
“Komposisi negara dan sektor tersebut memperlihatkan Batam semakin terintegrasi dalam rantai pasok regional dan global,” katanya.
Lonjakan PMDN Jadi Sinyal Kepercayaan Investor Domestik
Penguatan struktur investasi itu ditopang oleh lonjakan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis menyampaikan, bahwa berdasarkan laporan investasi yang disampaikan secara nasional, realisasi investasi Batam mencapai Rp44,01 triliun, melampaui target Rp36,99 triliun atau 118,97%.
Secara year-on-year, PMDN meningkat 125,90%, dari Rp8,16 triliun pada 2024 menjadi Rp18,43 triliun pada 2025, sementara penanaman modal asing (PMA) juga naik menjadi Rp25,58 triliun.
“Lonjakan PMDN menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor domestik serta kuatnya reinvestasi pelaku usaha nasional-penyangga penting di tengah volatilitas global,” ujar Fary.
Kenaikan investasi domestik ini penting karena menjadi indikator bahwa iklim usaha di Batam semakin kondusif bagi pelaku usaha lokal. Selain itu, reinvestasi oleh perusahaan yang sudah beroperasi menunjukkan bahwa mereka melihat keuntungan dan prospek pertumbuhan yang nyata, sehingga memilih menambah kapasitas produksi di Batam.
Dengan begitu, pertumbuhan investasi Batam bukan hanya mengandalkan modal asing, tetapi juga dukungan kuat dari investor dalam negeri.
Capaian Investasi Menunjukkan Aktivitas Ekonomi Nyata
Dari perspektif makro, capaian ini berlangsung ketika banyak ekonomi menghadapi pengetatan likuiditas dan penataan ulang rantai pasok. Dalam konteks tersebut, kemampuan Batam mempertahankan momentum investasi menandakan keunggulan struktural sebagai lokasi produksi yang efisien, dekat pasar regional, dan didukung infrastruktur industri yang relatif matang.
Sebagai penutup, BP Batam menjelaskan bahwa capaian tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi yang benar-benar berlangsung di lapangan, seiring meningkatnya belanja modal dan penguatan kapasitas produksi pelaku usaha.
Metode pengukuran ini menangkap realisasi investasi yang diwujudkan dalam aset produktif seperti mesin, peralatan industri, dan fasilitas produksi- yang digunakan langsung dalam kegiatan usaha. Pendekatan tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai pembentukan kapasitas ekonomi di Batam.
Dengan dasar itu, realisasi investasi 2025 tercatat Rp69,30 triliun, meningkat dari posisi hingga triwulan III sebesar Rp54,7 triliun dan berada sekitar 15% di atas target tahunan-menegaskan bahwa pertumbuhan investasi Batam tidak hanya bersifat nominal, tetapi juga berkualitas dan berdampak nyata bagi struktur industri kawasan.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
ICEX Resmi Berizin OJK, Menandai Era Baru Bursa Kripto Kompetitif di Indonesia
- Rabu, 21 Januari 2026
PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi
- Rabu, 21 Januari 2026
Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta
- Rabu, 21 Januari 2026
Berita Lainnya
Proyeksi Harga Nikel 2026 Tembus US$25.000 per Ton Setelah Pemangkasan Produksi
- Rabu, 21 Januari 2026
Indonesia Resmi Gabung Koalisi Pasar Karbon Global untuk Solusi Alam Berkelanjutan
- Rabu, 21 Januari 2026
Produksi Lokal BYD dan Vinfast Diharapkan Dongkrak Pasar Mobil Listrik 2026
- Rabu, 21 Januari 2026
Terpopuler
1.
JMA Syariah Targetkan Pendapatan Kontribusi Tumbuh 20 Persen
- 21 Januari 2026
2.
Amankah Merendam Teh dalam Susu Semalaman? Ini Penjelasannya
- 21 Januari 2026
3.
4.
Tarif Listrik PLN Januari 2026 Tetap Stabil, Simak Informasinya
- 21 Januari 2026











