Kamis, 22 Januari 2026

UMKM Bisa Naik Kelas Lewat Program Dapur Makan Bergizi Gratis

UMKM Bisa Naik Kelas Lewat Program Dapur Makan Bergizi Gratis
UMKM Bisa Naik Kelas Lewat Program Dapur Makan Bergizi Gratis

JAKARTA - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyebut pelaku usaha membutuhkan modal hingga Rp4 miliar untuk mengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Skema ini menunjukkan bahwa keterlibatan UMKM tidak bisa dipukul rata hanya dari sudut pandang usaha mikro.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman menjelaskan, program MBG melibatkan seluruh tingkatan usaha berdasarkan kapasitas permodalan. “Di dalam program makan bergizi gratis, itu ada keterlibatan usaha mikro, ada usaha ultramikro, ada usaha kecil, ada usaha menengah. Nah, ini semua dilihat dalam skala modal,” kata Maman dalam rapat kerja Komisi VII DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.

Kebutuhan modal untuk membangun dapur MBG berada pada kisaran Rp1 miliar—Rp4 miliar, dengan rata-rata sekitar Rp3 miliar. Pemerintah mendorong pelibatan usaha menengah sebagai operator utama dapur MBG, selama sumber permodalan dan persyaratan administrasi terpenuhi.

Baca Juga

Tarif Listrik PLN Januari 2026 Tetap Stabil, Simak Informasinya

Ekosistem UMKM dalam MBG

Meskipun usaha menengah menjadi operator utama, usaha mikro dan ultramikro tetap dilibatkan. Peran mereka adalah sebagai pemasok (supplier) bahan pangan sesuai kapasitas produksi masing-masing daerah.

Skema ini memungkinkan pelaku usaha kecil tetap terhubung dalam rantai pasok MBG. Mereka tidak perlu menanggung beban modal besar, namun tetap mendapat peluang bisnis dan pengembangan kapasitas.

Maman menilai keterlibatan UMKM dalam MBG membuka kesempatan untuk naik kelas. Ia mencontohkan pemasok daging di Tangerang Selatan yang kini berkembang dari usaha kecil menjadi usaha menengah setelah berperan dalam penyediaan dapur MBG.

Program MBG dirancang sebagai ekosistem yang melibatkan seluruh tingkatan usaha. “Dalam keterlibatan ekosistem MBG ini, semua tingkatan usaha itu terlibat,” terangnya.

Skala Keterlibatan UMKM

Per 10 November 2025, sebanyak 18.614 UMKM telah terlibat sebagai pemasok dalam program MBG. Pemerintah menargetkan keterlibatan hingga 450.000 UMKM sebagai supplier pada sekitar 30.000 dapur MBG di seluruh Indonesia.

Rata-rata UMKM mempekerjakan 1–5 tenaga kerja. Dengan demikian, total penyerapan tenaga kerja dari ekosistem MBG diperkirakan mencapai sekitar 2,25 juta orang.

Program MBG tidak hanya menyediakan layanan makanan bergizi bagi masyarakat. Program ini juga menjadi platform strategis untuk memperkuat ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM.

Melalui ekosistem MBG, UMKM memiliki kesempatan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan manajemen. Hal ini sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah.

Dampak Jangka Panjang bagi UMKM

Keterlibatan dalam MBG memungkinkan UMKM belajar standar operasional yang lebih profesional. Pengalaman ini menjadi modal untuk pengembangan usaha ke tingkat menengah dan bahkan skala nasional.

Program ini juga mendorong kolaborasi antara usaha kecil dan menengah. Dengan demikian, UMKM dapat memanfaatkan jaringan pasok yang lebih luas dan meningkatkan volume produksi.

Selain peluang naik kelas, MBG membantu UMKM memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok nasional. Hal ini memberi efek positif terhadap stabilitas usaha dan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Maman menekankan bahwa skema MBG dirancang tidak hanya untuk mendistribusikan makanan. Skema ini juga membangun ekosistem ekonomi inklusif yang memungkinkan semua tingkatan UMKM berperan sesuai kapasitasnya.

Keberadaan ekosistem MBG menjadi contoh konkret integrasi UMKM dalam proyek berskala besar. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi antarlevel usaha dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, keterlibatan UMKM dalam MBG mendorong inovasi dan adaptasi. Pelaku usaha belajar mengelola produksi, kualitas, serta distribusi pangan sesuai standar program.

Dengan dukungan pemerintah dan ekosistem MBG, UMKM memiliki jalur untuk memperluas pasar. Peluang ini mencakup pengembangan usaha baru dan peningkatan kapasitas produksi yang lebih profesional.

Program MBG juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di berbagai daerah. Keterlibatan UMKM sebagai supplier bahan pangan memungkinkan penyerapan tenaga kerja lokal yang lebih luas.

Maman menegaskan bahwa semua tingkatan usaha memiliki peran penting. Tanpa keterlibatan usaha mikro dan ultramikro, rantai pasok MBG tidak akan berjalan optimal.

Melalui pengalaman dalam MBG, UMKM dapat memetakan kapasitas produksi mereka. Ini membantu usaha kecil untuk merencanakan ekspansi usaha ke skala menengah secara bertahap.

Ekosistem MBG menunjukkan bahwa program pemerintah dapat menjadi alat pemberdayaan ekonomi. Selain menyediakan layanan sosial, program ini memberi dampak ekonomi yang nyata bagi pelaku usaha.

Dengan total UMKM yang terlibat semakin besar, efek jangka panjang terhadap ekonomi nasional diperkirakan signifikan. MBG menjadi contoh model integrasi usaha skala mikro hingga menengah dalam proyek pemerintah.

Keterlibatan UMKM dalam MBG juga mencerminkan komitmen pemerintah untuk mengembangkan kapasitas usaha lokal. Setiap pelaku usaha diberi kesempatan sesuai modal dan kemampuan, menciptakan kesetaraan dalam ekosistem.

Program MBG menegaskan bahwa pembangunan ekonomi dan pemberdayaan sosial dapat berjalan beriringan. Melalui program ini, UMKM dapat terus bertumbuh sambil mendukung kesejahteraan masyarakat.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Proyeksi Harga Nikel 2026 Tembus US$25.000 per Ton Setelah Pemangkasan Produksi

Proyeksi Harga Nikel 2026 Tembus US$25.000 per Ton Setelah Pemangkasan Produksi

Keberlanjutan Insentif Mobil Listrik Penting untuk Stabilitas Fiskal

Keberlanjutan Insentif Mobil Listrik Penting untuk Stabilitas Fiskal

Indonesia Resmi Gabung Koalisi Pasar Karbon Global untuk Solusi Alam Berkelanjutan

Indonesia Resmi Gabung Koalisi Pasar Karbon Global untuk Solusi Alam Berkelanjutan

Produksi Lokal BYD dan Vinfast Diharapkan Dongkrak Pasar Mobil Listrik 2026

Produksi Lokal BYD dan Vinfast Diharapkan Dongkrak Pasar Mobil Listrik 2026

IAI Luncurkan Tim Arsitektur di Tiap Kabupaten Kota Dukung Pembangunan Nasional

IAI Luncurkan Tim Arsitektur di Tiap Kabupaten Kota Dukung Pembangunan Nasional