JAKARTA - Upaya pencegahan bencana hidrometeorologi di Jakarta terus diperkuat seiring meningkatnya potensi cuaca ekstrem. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kembali melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah antisipatif untuk menekan risiko hujan berintensitas tinggi yang berpotensi memicu banjir dan genangan di wilayah ibu kota.
Memasuki hari keempat pelaksanaan, BPBD DKI Jakarta mengarahkan fokus operasi ke wilayah perairan utara dan sisi selatan Jakarta. Strategi ini dipilih untuk mencegat awan hujan sebelum bergerak masuk ke daratan, sehingga dampak hujan ekstrem dapat diminimalkan sejak dini.
Strategi Pencegahan Hujan Intensitas Tinggi
Baca JugaDorong Pelindungan Paten Inovasi Teknologi Kelistrikan di PLTU Paiton
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menjelaskan bahwa fokus penyemaian awan di wilayah perairan dan sisi selatan Jakarta merupakan langkah strategis berdasarkan analisis cuaca terkini.
“Operasi modifikasi cuaca hari keempat ini difokuskan pada wilayah perairan utara dan wilayah selatan Jakarta sebagai langkah strategis untuk mengurangi potensi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah daratan Jakarta,” kata Yohan.
Menurutnya, pendekatan ini dilakukan untuk memecah dan meluruhkan awan hujan sebelum mencapai kawasan permukiman padat. Dengan demikian, volume air hujan yang turun di wilayah daratan dapat ditekan sehingga risiko bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan.
Operasi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadapi musim hujan yang kerap diiringi cuaca ekstrem. Langkah preventif tersebut diharapkan mampu mengurangi beban sistem drainase kota serta menekan potensi banjir di titik-titik rawan.
Pelaksanaan Operasi Menggunakan Pesawat TNI AU
Dalam pelaksanaannya, OMC hari keempat melibatkan pesawat CASA 212 A-2105 milik TNI Angkatan Udara. Pesawat tersebut diterjunkan dalam tiga sorti penerbangan yang dirancang untuk menjangkau area strategis pembentukan awan hujan.
Yohan menjelaskan bahwa sorti pertama dan kedua difokuskan pada wilayah perairan utara Jakarta dengan ketinggian antara 8.000 hingga 12.000 kaki. Pada dua sorti awal tersebut, petugas melakukan penyemaian awan menggunakan total 1.600 kilogram bahan semai berupa Natrium Klorida atau NaCl.
“Pada sorti ini digunakan kembali 800 kilogram NaCl untuk mengoptimalkan peluruhan awan hujan di wilayah perairan,” ujar Yohan.
Penggunaan NaCl bertujuan mempercepat proses pembentukan butir air di dalam awan sehingga hujan dapat turun lebih awal di wilayah laut, sebelum awan bergerak menuju daratan Jakarta. Dengan cara ini, intensitas hujan yang sampai ke wilayah kota diharapkan berkurang secara signifikan.
Penyemaian Awan di Wilayah Selatan Jakarta
Memasuki sorti ketiga yang dilaksanakan pada siang hari, fokus operasi dialihkan ke wilayah selatan Jakarta, khususnya area overhead Bogor dan Depok. Penyemaian dilakukan pada ketinggian yang lebih rendah, yakni sekitar 5.000 hingga 6.000 kaki.
Pada sorti ini, petugas menggunakan 800 kilogram Kalsium Oksida atau CaO. Bahan tersebut berfungsi untuk memecah awan potensial yang berisiko membawa hujan lebat ke wilayah hilir, termasuk Jakarta.
Langkah ini dinilai penting karena wilayah Bogor dan Depok kerap menjadi daerah hulu pembentukan awan hujan yang kemudian bergerak ke Jakarta. Dengan menekan intensitas hujan di wilayah hulu, potensi peningkatan debit air di sungai-sungai yang mengalir ke Jakarta dapat dikendalikan.
BPBD DKI Jakarta menegaskan bahwa seluruh kegiatan penyemaian dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan penerbangan serta efektivitas operasi. Setiap sorti direncanakan berdasarkan analisis cuaca dan pergerakan awan secara real time.
Koordinasi Lintas Lembaga Terus Diperkuat
Yohan menegaskan bahwa penentuan lokasi dan waktu penyemaian awan tidak dilakukan secara sembarangan. Seluruh keputusan operasional didasarkan pada data real-time dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), termasuk informasi arah angin, jenis awan, serta potensi curah hujan.
Koordinasi antara BPBD DKI Jakarta, BMKG, TNI AU, dan mitra teknis lainnya akan terus dilakukan secara intensif selama periode pelaksanaan OMC. Evaluasi harian menjadi bagian penting untuk memastikan setiap langkah yang diambil memberikan dampak optimal dalam mitigasi cuaca ekstrem.
“BPBD Provinsi DKI Jakarta bersama BMKG dan TNI AU akan terus melakukan evaluasi dan koordinasi harian selama periode pelaksanaan OMC untuk memastikan efektivitas upaya mitigasi cuaca ekstrem,” pungkas Yohan.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
ICEX Resmi Berizin OJK, Menandai Era Baru Bursa Kripto Kompetitif di Indonesia
- Rabu, 21 Januari 2026
PNM Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan, Inovasi, dan Kolaborasi
- Rabu, 21 Januari 2026
Pegadaian Catatkan Lonjakan Harga Emas, Beberapa Produk Tembus Rp2,82 Juta
- Rabu, 21 Januari 2026
Berita Lainnya
DPR Tekankan Pentingnya Undang-Undang untuk Keberlanjutan Program MBG
- Rabu, 21 Januari 2026
Indonesia dan Qatar Sepakati Perjanjian Pertahanan Senilai Rp 37,95 Triliun
- Rabu, 21 Januari 2026
Terpopuler
1.
JMA Syariah Targetkan Pendapatan Kontribusi Tumbuh 20 Persen
- 21 Januari 2026
2.
Amankah Merendam Teh dalam Susu Semalaman? Ini Penjelasannya
- 21 Januari 2026
3.
4.
Tarif Listrik PLN Januari 2026 Tetap Stabil, Simak Informasinya
- 21 Januari 2026











