Kemendag Perkuat Ekspor Kecap Indonesia ke Belanda Lewat Kontrak Dagang
- Kamis, 15 Januari 2026
JAKARTA - Diplomasi dagang Indonesia kembali menunjukkan hasil konkret melalui sektor pangan olahan.
Upaya memperluas pasar ekspor tidak hanya dilakukan pada komoditas utama, tetapi juga pada produk bernilai tambah yang memiliki identitas budaya kuat, seperti kecap. Produk khas Indonesia ini kini mendapat peluang besar untuk memperkuat eksistensinya di pasar Eropa, khususnya Belanda.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyampaikan bahwa produsen kecap asal Indonesia telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan importir dan distributor terkemuka asal Belanda. Nilai kontrak kerja sama tersebut mencapai 120 ribu dolar AS atau setara sekitar Rp2 miliar. Kesepakatan ini menjadi langkah awal dalam memperluas penetrasi kecap Indonesia di pasar internasional.
Baca JugaKeterlambatan RKAB 2026 Picu Ketidakpastian Pasar Alat Berat Nasional
Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menjelaskan bahwa penandatanganan LoI tersebut dilakukan oleh PT Unilever Indonesia Tbk dengan merek Bango bersama InterAromat BV. Kesepakatan itu berlangsung dalam pameran Horecava 2026 yang digelar di Amsterdam, Belanda, beberapa waktu lalu.
Menurut Puntodewi, penandatanganan ini bukan sekadar transaksi dagang, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi produk gastronomi Indonesia di pasar Eropa. Melalui kerja sama ini, kecap Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan memperluas pangsa pasar di Negeri Kincir Angin.
“Penandatanganan LoI ini membuktikan komitmen Kemendag dalam mendorong produk lokal unggulan agar semakin kompetitif dan dicintai konsumen dunia,” katanya.
Ia menambahkan, kerja sama ini sekaligus menjadi sarana untuk mendorong peningkatan ekspor kecap Indonesia ke Belanda. Dengan dukungan importir dan distributor yang memiliki jaringan luas, peluang produk kecap Indonesia untuk menjangkau konsumen Eropa menjadi semakin terbuka.
Puntodewi juga mengungkapkan bahwa berdasarkan riset pasar yang dilakukan InterAromat BV, kecap Indonesia memiliki karakter khas dan cita rasa unik yang tidak mudah ditandingi oleh produk serupa yang saat ini beredar di pasar Belanda. Keunikan tersebut menjadi nilai tambah yang dapat menarik minat konsumen lokal maupun internasional.
Dengan rekam jejak yang panjang serta kualitas produk yang telah teruji, kecap Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pasar Belanda. Tidak hanya itu, produk tersebut juga diproyeksikan untuk merambah ke negara-negara Eropa lainnya sebagai bagian dari ekspansi pasar.
Pemerintah berharap, keberhasilan kerja sama ini dapat menjadi contoh bagi produk makanan olahan Indonesia lainnya untuk mengikuti jejak yang sama. Menurut Puntodewi, kolaborasi yang erat antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi faktor kunci dalam memperluas akses pasar internasional secara berkelanjutan.
“Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci dalam memperluas akses pasar internasional. Keberhasilan ekspor kecap ini kami harapkan dapat menjadi katalis bagi produk makanan olahan Indonesia lainnya untuk merambah pasar global secara berkesinambungan,” ujarnya.
Penandatanganan LoI ini juga merupakan tindak lanjut dari aktivasi program S’RASA di Belanda yang telah diluncurkan pada 2025. Program tersebut menjadi salah satu instrumen promosi kuliner Indonesia di luar negeri yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
S’RASA merupakan program promosi kuliner Indonesia yang dilakukan melalui restoran-restoran Indonesia yang beroperasi di luar negeri. Program ini diinisiasi oleh Kemendag bersama lima kementerian dan lembaga lainnya sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara ke pasar global.
Melalui program ini, restoran Indonesia di luar negeri tidak hanya berfungsi sebagai etalase budaya, tetapi juga sebagai pintu masuk bagi produk pangan Indonesia untuk menembus pasar internasional. Rempah, bumbu, dan produk olahan khas Indonesia diperkenalkan secara langsung kepada konsumen mancanegara melalui pengalaman kuliner.
Menanggapi pelaksanaan program S’RASA di Belanda, Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda, Mariska Dwianti Dhanutirto, menilai program tersebut sebagai langkah strategis yang memiliki dampak luas. Menurutnya, S’RASA tidak hanya memperkuat diplomasi kuliner Indonesia, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan ekspor.
“Kami mendorong restoran Indonesia di luar negeri tidak hanya sebagai sarana promosi budaya, tetapi juga sebagai pintu masuk peningkatan ekspor rempah dan bumbu Indonesia ke pasar global,” jelas Mariska.
Ia menambahkan, keterlibatan restoran Indonesia di Belanda dalam program ini dapat memperkuat rantai pasok produk pangan Indonesia. Dengan meningkatnya permintaan, peluang bagi pelaku usaha di dalam negeri untuk memperluas produksi dan meningkatkan kualitas juga semakin terbuka.
Secara keseluruhan, kerja sama ekspor kecap ke Belanda ini mencerminkan arah kebijakan perdagangan Indonesia yang tidak hanya berfokus pada volume ekspor, tetapi juga pada penguatan citra produk nasional di pasar global. Melalui strategi promosi terpadu dan kemitraan dengan pelaku usaha internasional, produk makanan olahan Indonesia diharapkan mampu bersaing dan berkelanjutan di pasar dunia.
Ke depan, Kemendag berkomitmen untuk terus memperluas pasar ekspor produk unggulan Indonesia dengan memanfaatkan diplomasi dagang dan promosi berbasis kekuatan budaya. Keberhasilan kecap Indonesia menembus pasar Belanda diharapkan menjadi langkah awal bagi penetrasi produk kuliner Nusantara yang lebih luas di kawasan Eropa.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Cek PIP 2026 Online Resmi Kemendikdasmen, Jadwal Cair dan Besaran Dana Lengkap
- Kamis, 15 Januari 2026
Program Indonesia Pintar Diperluas, Siswa TK Mulai Terima Bantuan 2026
- Kamis, 15 Januari 2026
Prabowo Kumpulkan 1.200 Akademisi Nasional, Istana Jadi Pusat Dialog Ilmiah
- Kamis, 15 Januari 2026
Menag Tekankan Isra Miraj Jadi Momentum Penguatan Spiritual Umat Beradab
- Kamis, 15 Januari 2026
Berita Lainnya
Industri Keramik Nasional Siap Bangkit dengan Investasi Baru dan Kebijakan Pemerintah
- Kamis, 15 Januari 2026
Pemerintah Siapkan Perpres untuk Penugasan Pertamina Impor Migas Amerika Serikat
- Kamis, 15 Januari 2026
Kementerian ESDM Respons Positif Kajian KPK soal Impor Migas Pertamina dari AS
- Kamis, 15 Januari 2026












