Menag Tekankan Isra Miraj Jadi Momentum Penguatan Spiritual Umat Beradab
- Kamis, 15 Januari 2026
JAKARTA - Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW kembali mengingatkan umat Islam bahwa perjalanan agung Rasulullah bukan sekadar kisah monumental dalam sejarah keislaman, melainkan sumber nilai yang relevan untuk menjawab tantangan kehidupan modern.
Di tengah dinamika sosial, krisis moral, dan tekanan hidup yang kian kompleks, Isra Miraj hadir sebagai momentum refleksi spiritual untuk membangun pribadi beriman sekaligus masyarakat yang beradab.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar saat mengisi tausyiah dalam peringatan Isra Miraj tingkat Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang digelar di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Rabu malam. Dalam suasana khidmat, Menag menekankan pentingnya menjadikan peringatan Isra Miraj sebagai sarana peningkatan kualitas spiritual, intelektual, dan sosial umat Islam.
Baca JugaCek Bansos Januari 2026 Pakai KTP, Ini Daftar Bantuan dan Jadwal Lengkapnya
Menurut Nasaruddin Umar, Isra Miraj tidak boleh dipahami hanya sebagai peristiwa historis yang dikenang setiap tahun, melainkan harus dimaknai sebagai pedoman nilai yang hidup dan terus relevan sepanjang zaman.
“Isra Miraj bukan sekadar peristiwa historis, tetapi mengandung pesan spiritual, intelektual, dan sosial yang sangat relevan bagi kehidupan umat manusia sepanjang zaman,” ujar Menag.
Dalam tausyiahnya, Menag menguraikan makna Isra Miraj sebagai perjalanan spiritual dari masjid ke masjid. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha mengandung pesan simbolik yang sangat mendalam, yakni bahwa seluruh ruang kehidupan manusia sejatinya merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Menag menegaskan bahwa pesan utama dari peristiwa Isra Miraj adalah transformasi cara pandang umat Islam dalam memaknai aktivitas sehari-hari. Ibadah tidak semata-mata terbatas pada ritual di tempat ibadah, tetapi harus meresap ke seluruh aspek kehidupan.
“Rumah kita harus menjadi masjid, kantor kita harus menjadi masjid, dan setiap ruang aktivitas kita harus menjadi tempat sujud kepada Allah SWT,” ujar Menag.
Pesan tersebut, lanjutnya, menuntut kesadaran bahwa nilai-nilai keislaman harus hadir dalam perilaku, etos kerja, relasi sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara. Dengan demikian, keberagamaan tidak berhenti pada simbol dan formalitas, tetapi benar-benar membentuk karakter dan akhlak mulia.
Dalam konteks ibadah, Menag juga mengingatkan bahwa salat merupakan inti dari peristiwa Isra Miraj. Salat, menurutnya, adalah Miraj bagi orang beriman—sebuah perjalanan spiritual yang menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta.
Ia menegaskan bahwa salat tidak hanya melibatkan gerakan fisik semata, tetapi harus disertai kesadaran batin yang utuh. Salat yang dilakukan dengan penuh penghayatan akan melahirkan ketenangan, kedisiplinan, dan kepekaan sosial.
Salat, kata Menag, bukan sekadar ritual yang dijalankan karena kewajiban, melainkan sarana untuk membentuk kesadaran diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Dari salat yang berkualitas, akan lahir pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin Umar juga mengajak umat Islam untuk memanfaatkan bulan Rajab dan Syaban sebagai fase persiapan spiritual menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Kedua bulan ini, menurutnya, merupakan waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dalam keluarga.
Rajab dan Syaban disebut sebagai masa pemanasan spiritual yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Pada fase ini, umat Islam diajak untuk memperbanyak taubat, meningkatkan amal ibadah, serta membangun keharmonisan keluarga sebagai fondasi utama kehidupan beragama.
Menag menilai, keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter religius generasi muda. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai spiritual di lingkungan keluarga menjadi sangat penting, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Menutup tausyiahnya, Menag Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam agar tidak berhenti pada keberagamaan yang bersifat formal dan ritual semata. Ia mengajak seluruh umat untuk terus meningkatkan kualitas penghayatan dan praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita harus naik kelas dalam beragama. Tidak cukup hanya menjalankan ritual, tetapi juga memahami maknanya dan menjadikannya energi positif dalam kehidupan,” demikian Menag.
Peringatan Isra Miraj tersebut turut dihadiri Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kepri Zostafia, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan instansi vertikal, serta tokoh agama dan masyarakat setempat.
Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh makna, mencerminkan semangat kebersamaan dalam membangun kehidupan beragama yang moderat dan beradab. Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, kemajuan Provinsi Kepulauan Riau, serta terwujudnya masyarakat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Enday Prasetyo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Cek PIP 2026 Online Resmi Kemendikdasmen, Jadwal Cair dan Besaran Dana Lengkap
- Kamis, 15 Januari 2026
Program Indonesia Pintar Diperluas, Siswa TK Mulai Terima Bantuan 2026
- Kamis, 15 Januari 2026
Prabowo Kumpulkan 1.200 Akademisi Nasional, Istana Jadi Pusat Dialog Ilmiah
- Kamis, 15 Januari 2026
Menag Tekankan Isra Miraj Jadi Momentum Penguatan Spiritual Umat Beradab
- Kamis, 15 Januari 2026
Berita Lainnya
Program Indonesia Pintar Diperluas, Siswa TK Mulai Terima Bantuan 2026
- Kamis, 15 Januari 2026
Prabowo Kumpulkan 1.200 Akademisi Nasional, Istana Jadi Pusat Dialog Ilmiah
- Kamis, 15 Januari 2026
Ombudsman Soroti Biomassa sebagai Solusi Energi Bersih dan Penggerak Ekonomi Nasional
- Kamis, 15 Januari 2026
Kader Posyandu Diperkuat Jadi Garda Terdepan Gerakan Keluarga SIGAP Nasional
- Kamis, 15 Januari 2026








