Prospek Produksi Membaik, Harga CPO Tertekan Sentimen Global

Sabtu, 09 Mei 2026 | 09:35:48 WIB
Ilustrasi Panen kelapa sawit di kebun, (Foto: Kontan.id)

JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan pada Jumat (8/5/2026). Hal ini terjadi seiring sikap waspada para pelaku pasar dalam mencermati dinamika perundingan damai di kawasan Timur Tengah.

Mengacu pada data BMD di penutupan Jumat (8/5/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Mei 2026 merosot 13 Ringgit Malaysia ke level 4.478 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak Juni 2026, harga jatuh 35 Ringgit Malaysia menjadi 4.472 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak CPO untuk Juli 2026 terkoreksi 36 Ringgit Malaysia menjadi 4.505 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Agustus 2026 menurun 34 Ringgit Malaysia ke angka 4.521 Ringgit Malaysia per ton.

Adapun kontrak berjangka CPO September 2026 merosot 32 Ringgit Malaysia ke posisi 4.526 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan untuk kontrak Oktober 2026 melemah 24 Ringgit Malaysia menjadi 4.532 Ringgit Malaysia per ton.

Melansir Bernama, seorang pedagang menyebutkan bahwa sentimen geopolitik, terutama pertikaian di wilayah Asia Barat, tetap menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar minyak nabati dunia.

Pasokan CPO Selain isu geopolitik, pasar juga dihantui oleh kondisi fundamental sektor kelapa sawit yang belum sepenuhnya kokoh. Perkiraan adanya kenaikan pasokan di saat permintaan cenderung melambat turut memberikan tekanan pada harga CPO.

“Ketegangan lanjutan dapat menopang harga atau memicu kenaikan sesaat,” tuturnya.

Investor kini tengah menunggu kejelasan terkait arah konflik di Timur Tengah yang berpeluang memengaruhi nilai minyak mentah global serta tingkat kebutuhan minyak nabati, termasuk komoditas sawit.

Di sisi lain, prediksi membaiknya produksi sawit di negara-negara produsen utama memperkuat kecemasan pasar atas potensi surplus pasokan dalam beberapa bulan mendatang.

Terkini