Kenaikan Harga Minyak Global Terus Berlanjut Berkat Sentimen Positif Pasar

Kamis, 22 Januari 2026 | 09:16:40 WIB
Kenaikan Harga Minyak Global Terus Berlanjut Berkat Sentimen Positif Pasar

JAKARTA - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026, seiring gangguan pasokan dari dua ladang besar di Kazakhstan dan ketegangan geopolitik yang terus meningkat. 

Investor global menyoroti penghentian sementara produksi ladang Tengiz dan Korolev, ekspektasi peningkatan persediaan minyak mentah AS, serta ancaman tarif baru AS terkait Greenland.

Lonjakan Harga Brent dan WTI

Menurut laporan CNBC, harga minyak Brent naik 1 sen menjadi USD 64,93 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 3 sen menjadi USD 60,39 per barel. Kenaikan ini menandai reaksi pasar terhadap ketidakpastian pasokan minyak global.

Kedua patokan harga minyak dunia ini sebelumnya telah menutup sesi perdagangan sekitar 1,5% lebih tinggi setelah produsen OPEC+ melaporkan gangguan distribusi listrik di Kazakhstan, memaksa penghentian sementara produksi di ladang Tengiz dan Korolev sejak Minggu lalu.

Gangguan Produksi di Kazakhstan

Operator ladang minyak Tengiz, TCO, telah menyatakan force majeure terkait pengiriman minyak mentah ke sistem pipa CPC, karena adanya masalah pada distribusi listrik dan peralatan di terminal CPC Laut Hitam yang mengalami kerusakan serius. Produksi di kedua ladang ini diperkirakan bisa terhenti selama tujuh hingga sepuluh hari.

Selain itu, minyak dari ladang Kashagan dialihkan ke pasar domestik untuk pertama kalinya akibat kemacetan di terminal, sehingga volume ekspor berkurang. 

Direktur ICIS, Ajay Parmar, menekankan, “Tengiz termasuk salah satu ladang minyak terbesar di dunia, sehingga penghentian produksi ini tentu saja mengganggu aliran minyak mentah.”

Faktor Geopolitik dan Tarif AS

Ketegangan geopolitik juga memengaruhi pasar minyak. Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada jalan mundur dalam upayanya untuk mengendalikan Greenland, dengan ancaman penerapan tarif terhadap sekutu Eropa. 

Retorika ini menambah sentimen penghindaran risiko di pasar, karena tarif dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai, “Meningkatnya ketegangan geopolitik menambah tekanan pada pasar minyak karena tarif dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, memicu sentimen penghindaran risiko.”

Persediaan Minyak Mentah AS

Sementara itu, pasar juga mencermati kondisi persediaan minyak mentah AS. Diperkirakan persediaan minyak mentah dan bensin meningkat sekitar 1,7 juta barel pekan lalu, sedangkan persediaan distilat kemungkinan menurun. Data American Petroleum Institute akan dirilis pada sore hari EST, dan angka resmi pemerintah AS akan keluar Kamis pukul 12 siang EST.

Dukungan dari Ekonomi China

Selain faktor pasokan dan geopolitik, data ekonomi global turut mendukung harga minyak. Pasar mendapat dorongan dari data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal keempat China yang lebih baik dari perkiraan. 

Ekonomi China tumbuh 5% pada 2025, sementara kapasitas pengolahan kilang minyak meningkat 4,1% tahunan, dan produksi minyak mentah naik 1,5%.

Analis IG, Tony Sycamore, menambahkan, “Ketahanan di negara pengimpor minyak terbesar dunia ini memberikan dorongan pada sentimen permintaan.” Data ini memberikan harapan bahwa permintaan bahan bakar global tetap kuat meskipun ada risiko gangguan pasokan.

Dampak Jangka Pendek dan Prospek Harga

Meskipun gangguan pasokan Kazakhstan bersifat sementara, pasar tetap sensitif terhadap berita tersebut. Menurut Parmar, jika retorika tarif AS terus berlanjut, harga minyak kemungkinan akan turun kembali. 

Namun, dalam jangka pendek, ketidakpastian pasokan dan data PDB China yang positif membuat investor tetap optimistis.

Kenaikan harga minyak ini juga dipengaruhi oleh harapan pertumbuhan ekonomi global, yang dapat mendorong permintaan bahan bakar. 

Pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, harga Brent berjangka naik 98 sen atau 1,53% menjadi USD 64,92 per barel, dan WTI Februari menguat 90 sen atau 1,51% menjadi USD 60,34.

Langkah Produsen dan Mitigasi Pasokan

Produsen Kazakhstan Tengizchevroil, yang dipimpin Chevron, telah menanggapi gangguan listrik dengan penghentian sementara produksi di ladang Tengiz dan Korolev. Pemulihan diharapkan dalam 7–10 hari ke depan, meskipun proses perbaikan memerlukan koordinasi teknis intensif.

Langkah-langkah mitigasi pasokan, seperti pengalihan minyak Kashagan ke pasar domestik, menjadi bagian strategi untuk meminimalkan gangguan. Investor pun memantau ketat perkembangan perbaikan dan produksi kembali ladang-ladang ini.

Sentimen Pasar dan Harapan Investor

Kenaikan harga minyak dunia hari ini mencerminkan kombinasi faktor geopolitik, gangguan pasokan, dan data ekonomi global. Investor tetap memperhatikan ketegangan politik, retorika tarif, serta indikator ekonomi utama dari pengimpor minyak terbesar.

Meskipun ada ketidakpastian jangka pendek, pasar minyak menunjukkan daya tahan karena ekspektasi permintaan yang stabil. 

Para analis menekankan bahwa ketergantungan pasar pada pasokan Kazakhstan sementara dapat menimbulkan volatilitas harga, tetapi dukungan fundamental dari permintaan China menjadi penyangga.

Harga minyak dunia melonjak pada Kamis, 22 Januari 2026, didorong oleh gangguan pasokan di Kazakhstan, ketegangan geopolitik, dan data ekonomi positif dari China. Brent dan WTI sama-sama menguat, mencerminkan reaksi pasar terhadap kombinasi faktor-faktor global ini.

 Investor tetap waspada terhadap perkembangan ladang minyak Tengiz dan Korolev, ancaman tarif AS, serta data persediaan minyak mentah yang akan segera dirilis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar minyak tetap sensitif terhadap faktor eksternal, dan pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh pemulihan produksi Kazakhstan, dinamika geopolitik, dan indikator ekonomi global.

Terkini