BMKG Tetapkan Siaga Hujan Lebat Pantura Jawa Tengah Akhir Januari 2026

Rabu, 21 Januari 2026 | 13:43:47 WIB
BMKG Tetapkan Siaga Hujan Lebat Pantura Jawa Tengah Akhir Januari 2026

JAKARTA - Memasuki akhir Januari 2026, kondisi cuaca di sejumlah wilayah Jawa Tengah kembali menjadi sorotan. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi menetapkan status siaga hujan lebat untuk kawasan Pantai Utara atau Pantura Jateng. Penetapan ini didasarkan pada prakiraan curah hujan yang diperkirakan mencapai 200 hingga 300 milimeter dalam satu dasarian, khususnya pada periode Dasarian III Januari 2026.

Peringatan tersebut menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. BMKG menilai dinamika atmosfer yang masih aktif berpotensi memicu hujan dengan intensitas tinggi dan berdampak pada berbagai sektor kehidupan, mulai dari keselamatan warga hingga kelancaran aktivitas ekonomi.

Status siaga sebagai peringatan tertinggi BMKG

Status siaga hujan lebat yang ditetapkan BMKG merupakan level peringatan tertinggi dalam sistem Peringatan Dini Curah Hujan Tinggi. Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menyebutkan bahwa status ini perlu diantisipasi secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan.

“Status siaga tersebut merupakan peringatan dini tertinggi dalam Peringatan Dini Curah Hujan Tinggi yang perlu diantisipasi bersama,” kata Teguh di Cilacap, Rabu, 21 Januari 2026. Ia menekankan bahwa potensi curah hujan tinggi dapat memicu dampak lanjutan apabila tidak diiringi langkah mitigasi yang tepat.

BMKG terus memantau perkembangan atmosfer dan menyampaikan informasi terbaru agar risiko bencana hidrometeorologi dapat ditekan semaksimal mungkin.

Wilayah Pantura masuk kategori siaga hujan lebat

Wilayah Pantura Jawa Tengah menjadi fokus utama dalam penetapan status siaga ini. BMKG mencatat sejumlah daerah di kawasan tersebut diprakirakan mengalami curah hujan sangat tinggi pada periode 21 hingga 31 Januari 2026.

Daerah yang masuk status siaga meliputi Kabupaten Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Demak, Kudus, dan Jepara, serta Kota Pekalongan. Curah hujan di wilayah tersebut diperkirakan berada pada kisaran 200–300 milimeter per dasarian, angka yang cukup signifikan untuk memicu genangan dan banjir.

Karakter geografis Pantura yang relatif datar turut meningkatkan risiko meluasnya genangan air, terutama di kawasan permukiman padat dan daerah aliran sungai.

Status waspada meluas ke daerah lain Jawa Tengah

Selain status siaga, BMKG juga menetapkan status waspada hujan lebat di sejumlah wilayah lain di Jawa Tengah. Status waspada diberikan untuk daerah dengan potensi curah hujan antara 150 hingga 200 milimeter per dasarian.

Wilayah yang masuk kategori waspada antara lain Kabupaten Brebes, Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Banjarnegara, Wonosobo, Purworejo, Temanggung, Magelang, Kendal, Semarang, Boyolali, Klaten, Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, dan Wonogiri. Status ini juga berlaku untuk Kota Tegal, Kota Magelang, Kota Semarang, Kota Salatiga, serta Kota Surakarta.

Meski berada satu tingkat di bawah status siaga, daerah berstatus waspada tetap diminta meningkatkan kesiapsiagaan karena potensi hujan lebat masih dapat menimbulkan dampak lokal.

Ancaman banjir dan longsor perlu diantisipasi

BMKG mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi berpotensi menimbulkan berbagai dampak hidrometeorologi. Banjir dan genangan air menjadi ancaman utama di wilayah dataran rendah, terutama pada daerah dengan sistem drainase yang kurang optimal.

Sementara itu, tanah longsor berpotensi terjadi di wilayah perbukitan dan pegunungan, khususnya di daerah yang sudah jenuh air akibat hujan berkelanjutan. Kondisi tersebut dapat mengganggu akses transportasi, merusak infrastruktur, dan membahayakan keselamatan warga.

BMKG menilai langkah antisipasi sejak dini sangat penting untuk meminimalkan risiko kerugian, baik materiil maupun nonmateriil.

Imbauan kewaspadaan bagi pemerintah dan masyarakat

Menanggapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan. Teguh Wardoyo menekankan pentingnya memantau informasi cuaca terkini dan segera mengambil langkah antisipatif.

“Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini dari BMKG dan segera melakukan langkah antisipasi guna mengurangi risiko bencana hidrometeorologi,” ujarnya. Langkah tersebut antara lain menjaga kebersihan saluran air, menghindari aktivitas di daerah rawan longsor, serta menyiapkan rencana evakuasi jika diperlukan.

BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi peringatan dini sesuai dengan perkembangan kondisi atmosfer di wilayah Jawa Tengah.

Pemantauan cuaca terus dilakukan secara intensif

BMKG menegaskan bahwa pemantauan dinamika atmosfer akan terus dilakukan secara intensif sepanjang akhir Januari 2026. Informasi terbaru mengenai status cuaca dan peringatan dini akan disampaikan secara berkala melalui kanal resmi BMKG.

Dengan adanya status siaga dan waspada ini, diharapkan seluruh pihak dapat lebih siap menghadapi potensi cuaca ekstrem. Kesiapsiagaan bersama dinilai menjadi kunci utama untuk mengurangi dampak hujan lebat dan menjaga keselamatan masyarakat di Jawa Tengah.

Terkini