Pasang Harga Rp442 per Saham, Cek Fundamental Prospek IPO BACH

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 02 Juli 2026
Pasang Harga Rp442 per Saham, Cek Fundamental Prospek IPO BACH
Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Antara)

JAKARTA – PT Bach Multi Global Tbk. (BACH) menentukan nilai penawaran umum sebesar Rp442 per saham, dari rentang penawaran awal Rp400-Rp500. 

Bagaimana potensi menarik yang ditawarkan oleh saham baru ini? Masa penawaran umum BACH berlangsung mulai 2 Juli hingga 6 Juli 2026 dan dijadwalkan melantai secara resmi di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2026. 

Dalam pelaksanaan IPO ini, perseroan menunjuk PT Erdhika Elit Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek, bersama PT Pilarmas Investindo Sekuritas sebagai penjamin emisi efek. Keduanya mengawal IPO BACH dengan komitmen penuh (full commitment).

Senior Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas memaparkan bahwa dalam menyaring saham IPO yang berpotensi, kinerja fundamental perusahaan dalam jangka menengah serta panjang akan menjadi indikator penentu utama arah pergerakan harga saham pasca IPO. 

"Kami melihat BACH menarik diperhatikan. Selain kinerja, BACH menawarkan harga termasuk undervalued," kata Sukarno, Rabu (1/7/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengacu pada riset Kiwoom Sekuritas yang diterbitkan pada 29 Juni 2026, tim riset mengulas kondisi fundamental emiten jasa perindustrian ini, sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Sepanjang 2025, BACH membukukan pendapatan senilai Rp1,73 triliun atau meningkat 39,7% year on year (YoY). 

Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan kuat pada sektor penjualan generator sebesar 93,3% YoY menjadi Rp853,7 miIiar dan layanan sewa generator yang melonjak hingga 1.240% YoY menjadi Rp124,2 miIiar. 

Pendapatan dari pengerjaan konstruksi serta pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi mengalami penurunan tipis 4,4% YoY menjadi Rp755,0 miIiar, namun tetap menjadi kontributor utama.

Dari aspek bottom line, laba bersih BACH pada 2025 melonjak hampir dua kali lipat, yakni sebesar 97,5% YoY menjadi Rp155,5 miIiar. 

Analis juga menyoroti indikator profitabilitas yang kuat, dengan return on equity (ROE) di posisi 20%, lebih tinggi dari rata-rata industri sebesar 6%. Sementara itu, net profit margin BACH yang merangkak naik dari 6% menjadi 9% pada 2025, melampaui rata-rata industri yang berada di posisi 2%.

Melihat prospek bisnis ke depan, BACH memproyeksikan pendapatan akan meningkat dari Rp1,73 triliun pada 2025 menjadi Rp3,04 triliun pada 2030, yang mencerminkan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 12%. 

Di sisi lain, laba bersih diperkirakan bertambah 158% menjadi Rp401 miIiar. 

"Pertumbuhan diperkirakan akan didorong oleh ekspansi segmen kelistrikan dengan tambahan kapasitas hingga 50 MW per tahun, serta segmen telekomunikasi melalui proyek infrastruktur dan sumber pendapatan berulang (recurring revenue streams)," tulis analis, sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Angka ini menggambarkan proyeksi peningkatan margin laba bersih dari 9% menjadi 13,2% pada 2030. Analis menganggap poin ini menjadi modal krusial yang menopang pertumbuhan laba jangka panjang BACH.

Sementara itu, jika mencermati valuasi saham yang ditawarkan dalam IPO, analis menjelaskan bahwa harga penawaran IPO yang berada dalam kisaran Rp400–500 mengimplikasikan rasio price to earnings (PE) sebesar 10–13 kali, atau lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata industri sebesar 28 kali, sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Namun, dari rasio price to book value (PBV), harga IPO BACH berada di angka 2,1–2,4 kali, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri sebesar 1,8 kali. Sedangkan untuk rasio price to sales (P/S) berada di angka 0,9–1,2 kali, lebih rendah daripada rata-rata industri di posisi 1,3 kali.

Artinya, valuasi IPO BACH terlihat memikat karena ditransaksikan dengan diskon terhadap industri dari sudut pandang earnings dan sales, sedangkan premium PBV menggambarkan ekspektasi terhadap profitabilitas serta pertumbuhan.

Namun penting diperhatikan, analis juga memaparkan aspek-aspek yang dapat menjadi risiko, di antaranya ketergantungan pada pemasok genset, ketatnya kompetisi industri, piutang usaha yang macet, perubahan kebijakan pemerintah/PLN, hingga faktor konsolidasi industri menara telekomunikasi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

 Di samping itu, terdapat pula risiko ketergantungan terhadap pertumbuhan pembangunan menara baru, kegagalan dalam memenuhi kualifikasi SLA, fluktuasi nilai tukar mata uang asing, tekanan ekonomi makro serta ekonomi global, sengketa hukum, perubahan regulasi, hingga risiko terkait volatilitas harga saham, likuiditas saham, dan ketidakpastian pembagian dividen. 

"Seluruh faktor tersebut dapat berdampak negatif terhadap kinerja operasional perusahaan, kondisi keuangan, serta daya tarik investasi secara keseluruhan," tegasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua