Mandiri Sekuritas Ungkap Penentu Ketertarikan Investor pada IPO

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 02 Juli 2026
 Mandiri Sekuritas Ungkap Penentu Ketertarikan Investor pada IPO
Mandiri Sekuritas jelaskan kriteria utama investor dalam menilai saham IPO. (Foto: MNC Media)

JAKARTA – Mandiri Sekuritas memaparkan bahwa antusiasme para pemodal terhadap saham korporasi yang menyelenggarakan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) saat ini kian kritis sekaligus selektif. 

Para pelaku pasar mengantongi bermacam opsi instrumen investasi, baik demi memburu potensi keuntungan dari selisih harga (capital gain) ataupun imbal hasil dividen untuk jangka panjang.

Direktur Investment Banking PT Mandiri Sekuritas, Juwita Lestari, mengutarakan bahwa ketika menakar saham IPO, para pemodal bakal membedah rekam jejak fundamental korporasi, laporan performa keuangan historis, hingga beraneka rasio finansial dari calon emiten.

 Poin tersebut diutarakannya dalam agenda Plenary Session Investor Daily yang bertempat di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Di samping itu, kalangan pelaku pasar pun turut mengomparasikan nilai valuasi dari korporasi yang bakal IPO terhadap emiten sejenis yang sudah melantai di bursa. 

Penentuan nominal harga penawaran menjadi elemen krusial lantaran pemodal bakal menakar apakah tingkat valuasi yang disodorkan masih kompetitif jika disandingkan dengan perusahaan lain di klaster industri yang serupa.

“Jadi kalau dari sisi investor melihat potensi dari calon emiten itu bisa growth story ke depannya, prospeknya baik, fundamentalnya didukung oleh mungkin dari laporan keuangannya, juga rasio-rasionya dibandingkan dengan perusahaan sejenis, dan itu semua menunjukkan prospek yang baik dan proven secara historis. Ini bisa menjadi salah satu pertimbangan investor untuk membeli saham IPO,” katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Juwita menjelaskan, iklim pasar yang sedemikian rupa menjadikan tugas dari penjamin emisi (underwriter) tidak sekadar mendampingi tahapan pencatatan saham di papan bursa, melainkan juga mengedukasi calon emiten terkait ekspektasi dari para pemilik modal. 

Menurut pandangannya, IPO bukanlah titik akhir dari penggalangan dana, melainkan gerbang awal ikatan jangka panjang bersama pemodal yang bakal konsisten mengawasi rapor kinerja korporasi beserta realisasi target yang dicantumkan dalam dokumen prospektus.

"Harapannya IPO itu bukan hanya sekali dan selesai bagi investor, tapi ke depannya bagi emiten-emiten setelah IPO mungkin mau melakukan penawaran obligasi, surat utang, sukuk, ataupun melakukan penambahan modal melalui right issue, tentunya harapannya investor akan terus berpartisipasi," tutur Juwita sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia mengimbuhkan, melangkah ke ranah pasar modal tidak semata-mata ditujukan demi menjaring perolehan modal lewat jalur IPO, tetapi juga menyokong akselerasi pertumbuhan korporasi secara berkesinambungan. 

Industri pasar modal di Indonesia mengantongi basis pemodal yang masif, merentang dari investor ritel hingga lembaga institusi, baik dari lingkup domestik maupun mancanegara, yang berpeluang menjadi keran pendanaan bagi emiten yang memiliki fundamental kokoh.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua