Laba Grup Merdeka Melejit, Intip Prospek Saham MDKA serta MBMA
JAKARTA – Rapor keuangan jajaran emiten di bawah bendera Grup Merdeka memperlihatkan lonjakan positif pada kuartal I-2026 selaras dengan mulai bergulirnya operasional proyek andalan serta apresiasi harga komoditas di pasar global.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan perolehan pendapatan konsolidasi senilai US$ 620,3 juta atau terkerek naik 24 persen secara tahunan (year-on-year).
Capaian EBITDA MDKA pun ikut melesat hingga 182 persen secara tahunan menjadi US$ 249,9 juta, dibarengi dengan raihan laba bersih yang menyentuh angka US$ 57,5 juta.
Komoditas emas tampil sebagai penyumbang porsi terbesar bagi EBITDA perusahaan, yang kemudian diikuti oleh produk Nickel Pig Iron (NPI), limonit, High-Grade Nickel Matte (HGNM), serta tembaga.
Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, Albert Saputro, mengutarakan bahwa performa yang solid ini dipicu oleh lonjakan harga komoditas emas, volume penjualan aset limonit, margin sektor nikel, beserta realisasi penjualan perdana yang bersumber dari Tambang Emas Pani.
"Kinerja ini menunjukkan ketahanan portofolio perusahaan yang terdiversifikasi dan mencerminkan fokus kami yang berkelanjutan pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, serta pengembangan platform pertumbuhan utama di sektor emas, nikel, dan tembaga,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Di sisi lain, anak usaha dari MDKA, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), mengantongi pertumbuhan pendapatan sebesar 24 persen menuju level US$ 455,1 juta.
MBMA pun sukses membalikkan keadaan dengan mencetak raihan laba bersih senilai US$ 29,9 juta, berbanding terbalik dari posisi rugi bersih pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) meraup nilai pendapatan sebesar US$ 2,6 juta sejalan dengan proses transisi Tambang Emas Pani menuju tahapan produksi komersial.
Walaupun demikian, EMAS terpantau masih menanggung rugi bersih senilai US$ 10,9 juta yang disebabkan oleh beban operasional pada wilayah tambang baru serta pos biaya keuangan.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, mengemukakan bahwa penguatan performa keuangan MDKA ditopang oleh tingginya tingkat harga emas dunia beserta sumbangsih dari Tambang Emas Pani.
"Ke depannya, Pani justru bisa menjadi katalis utama apabila ramp-up produksi berjalan sesuai target,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyebutkan bahwa peta prospek pada semester II-2026 mendatang bakal sangat bergantung pada stabilitas grafik harga emas serta isu kelebihan pasokan (oversupply) nikel di pasar dunia.
"Sentimen positif emiten-emiten ini antara lain progres ramp-up kapasitas Pani dan potensi harga emas yang masih tinggi, sedangkan sentimen negatifnya adalah oversupply nikel dan EMAS yang masih butuh waktu untuk mencapai breakeven,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan peringatan mengenai potensi risiko beban pendanaan sebagai dampak dari tingginya level suku bunga acuan bagi korporasi yang sedang gencar ekspansi.
"Proyek strategis Grup Merdeka mesti selesai tepat waktu agar segera berkontribusi terhadap pendapatan,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Menyoal keputusan investasi, saham MDKA mendapatkan rekomendasi buy on weakness, saham MBMA disarankan untuk tindakan trading buy, sedangkan untuk instrumen EMAS diposisikan sebagai alternatif speculative buy dengan tingkat risiko yang relatif tinggi.
Kalangan pemodal direkomendasikan untuk mencermati pergerakan saham MDKA dan MBMA dengan memasang target harga masing-masing pada level Rp 3.000 dan Rp 600 per lembar saham.