Rabu, 20 Mei 2026

Emiten BAUT Incar Kenaikan Omzet Hingga Rp 180 Miliar di Tahun 2026

Emiten BAUT Incar Kenaikan Omzet Hingga Rp 180 Miliar di Tahun 2026
Ilustrasi baut dan mur. (Foto: kompas.com)

JAKARTA – PT Mitra Angkasa Sejahtera Tbk (BAUT) menetapkan target pertumbuhan penjualan neto lebih dari 30 persen menjadi Rp 180 miliar pada tahun 2026. 

Emiten manufaktur logam bahan konstruksi jenis mur dan baut tersebut menyiapkan sejumlah langkah taktis untuk mendongkrak performa bisnis perseroan.

Target besar tersebut disampaikan langsung dalam acara Paparan Publik yang diselenggarakan pada Selasa (19/5/2026). Selain mematok kenaikan omzet, emiten berkode saham BAUT ini juga mengincar perolehan laba bersih secara berkelanjutan mulai tahun ini dengan menerapkan peta jalan digitalisasi demi efisiensi operasional.

Baca Juga

Danantara: Yield Dividen Saham BUMN Sangat Atraktif di Atas 11 Persen

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Foong Tak Hoy selaku Direktur Utama BAUT memaparkan, "With ekspansi yang akan dilakukan Perseroan sebagai target 2026 and akselerasi digital, Perseroan berada pada jalur yang solid untuk mencapai pertumbuhan omzet lebih dari 30 persen," ujarnya.

Guna merealisasikan target omzet tersebut, dilansir dari Money, manajemen BAUT berencana menambah dua outlet jaringan RJ Steel baru yang ditempatkan secara bertahap di wilayah DKI Jakarta sepanjang 2026. Langkah ini memperluas jaringan korporasi yang hingga akhir 2025 telah mengoperasikan 22 outlet komersial di Indonesia.

Ekspansi gerai fisik tersebut diimbangi dengan kebijakan efisiensi pengeluaran internal yang ditargetkan mampu menghemat biaya operasional hingga 6 persen pada tahun ini. 

Manajemen berupaya merampingkan struktur biaya di seluruh unit kerja serta mengalihkan alokasi dana ke sektor-sektor yang lebih produktif.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Foong Tak Hoy selaku Direktur Utama BAUT mengutarakan, "Strategi tersebut bertujuan mendorong profitabilitas berkelanjutan di FY2026 dan seterusnya," ungkapnya.

Skema penghematan itu diwujudkan secara konkret melalui pemangkasan total Stock Keeping Unit (SKU) logistik gudang hingga 15 persen guna mengoptimalkan produktivitas inventori barang. Kebijakan ini diklaim mampu meminimalisasi biaya penanganan gudang sekaligus mempererat relasi bisnis dengan mitra pemasok utama.

Selain efisiensi internal, BAUT terus memperluas jaringan kemitraan dengan sektor manufaktur, furnitur, kontraktor konstruksi, hingga keterlibatan dalam proyek strategis nasional. Produk bermerek FastFix milik perseroan yang meluncur sejak 2024 juga mulai didistribusikan secara nasional melalui gerai retail MR DIY.

Pihak manajemen berjanji akan menjaga keterbukaan informasi yang prima kepada para pemegang saham mengenai setiap capaian bisnis maupun laporan finansial secara berkala. Hal ini dipandang krusial untuk menjaga iklim investasi yang sehat di pasar modal.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Foong Tak Hoy selaku Direktur Utama BAUT menuturkan, "Kami ingin membangun komunikasi yang terbuka, transparan, dan berkelanjutan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemegang saham dan investor," katanya.

Berdasarkan data performa tahun 2025, BAUT membukukan pendapatan sebesar Rp 136,33 milar, mengalami penurunan jika dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp 152,96 miIiar. Walau pendapatan menyusut, emiten ini sukses menekan angka rugi bersih menjadi Rp 11,85 miliar dari posisi rugi tahun sebelumnya sebesar Rp 13,46 miliar.

Faktor eksternal seperti kelesuan ekonomi global dan banjirnya produk impor murah dari China menjadi pemicu utama fluktuasi harga jual mur dan baut lokal sepanjang tahun lalu. Hal tersebut diperparah oleh sikap kehati-hatian para pelanggan domestik dalam merealisasikan belanja barang akibat dinamika ekonomi nasional.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Foong Tak Hoy selaku Direktur Utama BAUT menjelaskan, "Perseroan menyadari bahwa pencapaian kinerja keuangan pada tahun buku 2025 masih belum sepenuhnya memenuhi harapan. Namun demikian, melalui evaluasi menyeluruh, perbaikan sistem secara berkelanjutan, serta komitmen seluruh jajaran manajemen dan karyawan, Perseroan meyakini bahwa langkah-langkah perbaikan yang sedang dijalankan akan memperkuat fondasi usaha dan mendukung pemulihan kinerja pada masa yang akan datang," ujarnya.

Manajemen menegaskan bahwa perbaikan fundamental internal yang tengah berjalan saat ini diproyeksikan akan mengembalikan stabilitas performa korporasi. Tata kelola perusahaan yang bersih diposisikan sebagai pilar utama pertumbuhan bisnis.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Foong Tak Hoy selaku Direktur Utama BAUT menegaskan, "Kami optimis bahwa dengan strategi yang tepat, tata kelola yang kuat, serta semangat inovasi yang berkelanjutan, BAUT akan terus berkembang dan memberikan kontribusi positif serta nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," tegasnya.

Indikasi pemulihan kinerja bisnis perseroan mulai terlihat pada laporan keuangan triwulan pertama tahun ini. Pada kuartal I 2026, BAUT mencatatkan rugi bersih senilai Rp 3,2 miliar, angka yang membaik sebesar 52,2 persen dari posisi rugi periode serupa tahun lalu sebesar Rp 6,7 miliar.

Ibtihal

Ibtihal

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

PTPP Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris Melalui RUPS Tahunan

PTPP Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris Melalui RUPS Tahunan

Resmi Merger, Aset BPR Kredit Mandiri Indonesia Capai Rp1,04 Triliun

Resmi Merger, Aset BPR Kredit Mandiri Indonesia Capai Rp1,04 Triliun

Strategi Bank SMBC Indonesia Antisipasi Potensi Kenaikan BI Rate

Strategi Bank SMBC Indonesia Antisipasi Potensi Kenaikan BI Rate

Prudential Syariah Rilis PRUTahapan Cemerlang untuk Dana Pendidikan

Prudential Syariah Rilis PRUTahapan Cemerlang untuk Dana Pendidikan

Integrasi Danamon dan MUFG Jakarta Targetkan Gabungan Aset Rp477 Triliun

Integrasi Danamon dan MUFG Jakarta Targetkan Gabungan Aset Rp477 Triliun