Jumat, 06 Maret 2026

Sejarah Nastar dari Tart Eropa hingga Ikon Kue Lebaran

Sejarah Nastar dari Tart Eropa hingga Ikon Kue Lebaran
Sejarah Nastar dari Tart Eropa hingga Ikon Kue Lebaran

JAKARTA - Aroma kue kering sering kali menjadi pertanda bahwa suasana Lebaran sudah semakin dekat. . Di antara berbagai jenis kue yang tersaji di meja tamu, nastar hampir selalu menjadi salah satu yang paling dinantikan. Kue kecil berisi selai nanas ini seolah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Idulfitri di Indonesia.

Bentuknya yang mungil, rasa manis yang berpadu dengan sedikit asam dari nanas, serta teksturnya yang lembut membuat nastar digemari banyak orang. Toples-toples berisi nastar biasanya tersusun rapi di ruang tamu, siap disantap oleh keluarga maupun tamu yang datang bersilaturahmi.

Namun, di balik tampilannya yang sederhana, nastar ternyata memiliki kisah perjalanan yang panjang. Kue ini bukan sepenuhnya berasal dari Nusantara, melainkan hasil pertemuan budaya kuliner Eropa dengan bahan-bahan tropis Asia Tenggara. Perjalanan sejarahnya menunjukkan bagaimana sebuah resep asing dapat beradaptasi dan akhirnya menjadi bagian dari identitas kuliner lokal.

Baca Juga

10 Model Baju Lebaran 2026 Terbaru yang Stylish dan Fashionable

Asal-usul Nastar dari Tradisi Pastry Eropa

Mengutip The Pie Journal, istilah nastar berasal dari bahasa Belanda yaitu ananas tart, yang berarti tart nanas. Nama tersebut menggambarkan bentuk awal kue ini yang terinspirasi dari tradisi membuat pai dan tart di Eropa.

Pada abad ke-17, bangsa Eropa membawa berbagai kebiasaan kuliner mereka ke wilayah Asia Tenggara, termasuk teknik membuat pastry. Kue tart dan pai pada masa itu biasanya dibuat menggunakan adonan berbahan mentega dengan berbagai isian selai buah.

Buah yang lazim digunakan di Eropa antara lain apel atau aprikot. Kedua buah tersebut mudah ditemukan di negara-negara beriklim sedang, sehingga sering menjadi bahan utama dalam berbagai kue tart.

Namun kondisi berbeda ditemui di wilayah tropis seperti Nusantara. Buah-buahan khas Eropa tidak mudah didapat, sehingga masyarakat setempat mulai mencari alternatif bahan yang lebih tersedia. Nanas kemudian dipilih sebagai pengganti karena tumbuh melimpah di daerah tropis dan memiliki rasa manis yang khas.

Dari sinilah muncul perpaduan unik antara teknik pastry Eropa dengan bahan lokal Asia Tenggara. Hasil adaptasi tersebut melahirkan kue tart kecil berisi selai nanas yang kemudian dikenal sebagai nastar.

Perubahan Bentuk dan Tekstur Sesuai Selera Lokal

Seiring waktu, nastar mengalami berbagai perubahan agar lebih sesuai dengan selera masyarakat Indonesia. Salah satu perubahan paling terlihat adalah ukuran dan bentuknya.

Jika tart khas Eropa biasanya dibuat dalam ukuran besar, di Indonesia kue ini dibuat lebih kecil sehingga dapat disantap dalam satu atau dua gigitan. Bentuknya pun beragam, mulai dari bulat hingga lonjong.

Permukaan nastar biasanya diolesi kuning telur sebelum dipanggang sehingga menghasilkan tampilan mengilap yang khas. Lapisan tersebut juga memberikan warna kuning keemasan yang menarik.

Teksturnya pun berbeda dari tart Eropa yang cenderung lebih padat. Nastar dibuat lebih lembut dan mudah hancur di mulut. Adonan mentega yang digunakan memberikan sensasi lumer ketika digigit.

Sementara itu, selai nanasnya dimasak cukup lama hingga teksturnya menjadi kental dengan warna cokelat keemasan. Proses memasak yang lama juga menghasilkan rasa karamel yang khas sehingga memberikan perpaduan rasa manis dan sedikit asam.

Perubahan-perubahan tersebut menjadikan nastar memiliki karakter tersendiri yang berbeda dari kue tart di negara asalnya.

Beragam Variasi Nastar di Berbagai Daerah

Dalam perkembangannya, nastar tidak hanya hadir dalam satu bentuk resep. Banyak daerah maupun keluarga yang memiliki variasi tersendiri dalam membuat kue ini.

Beberapa orang menambahkan keju parut ke dalam adonan untuk memberikan sentuhan rasa gurih. Kombinasi manis dari selai nanas dan gurih dari keju menciptakan cita rasa yang lebih kompleks.

Ada pula yang membentuk nastar menyerupai buah nanas lengkap dengan hiasan daun kecil di bagian atasnya. Bentuk unik ini membuat tampilannya semakin menarik ketika disajikan di meja tamu.

Selain variasi bentuk, perbedaan juga muncul pada resep adonan maupun selai nanas. Beberapa resep menambahkan susu bubuk agar tekstur kue menjadi lebih lembut.

Ada pula yang menambahkan sedikit perasan jeruk nipis pada selai nanas. Bahan ini memberikan rasa segar sekaligus menyeimbangkan rasa manis dari selai.

Keberagaman variasi tersebut menunjukkan bagaimana resep nastar terus berkembang mengikuti selera dan kreativitas masyarakat.

Perjalanan Nastar Menjadi Ikon Kue Lebaran

Pada masa awal kemunculannya, kue-kue bergaya Eropa seperti nastar tidak mudah ditemukan. Bahan-bahan seperti mentega dan gula tergolong mahal sehingga hanya kalangan tertentu yang dapat membuatnya.

Biasanya kue ini dibuat oleh keluarga berada atau komunitas peranakan yang memiliki akses terhadap bahan-bahan tersebut. Seiring waktu, industri bahan pangan berkembang dan berbagai bahan kue menjadi lebih mudah diperoleh.

Hal ini membuat nastar semakin sering dibuat di rumah-rumah. Lambat laun kue ini menjadi bagian dari tradisi menyambut hari raya, khususnya Lebaran.

Tradisi membuat kue kering menjelang Idulfitri juga berkaitan dengan budaya menjamu tamu. Saat Lebaran tiba, rumah-rumah terbuka bagi keluarga, kerabat, dan tetangga yang datang untuk bersilaturahmi.

Toples berisi nastar biasanya disajikan sebagai hidangan ringan setelah menyantap makanan utama. Rasanya yang tidak terlalu berat membuat kue ini cocok dinikmati bersama secangkir teh atau kopi.

Di banyak keluarga, proses membuat nastar bahkan menjadi kegiatan bersama menjelang Lebaran. Selai nanas dimasak perlahan hingga mengental, adonan dibentuk satu per satu, lalu dipanggang hingga aroma mentega dan nanas karamel memenuhi dapur.

Aroma khas tersebut sering kali menjadi penanda bahwa hari raya sudah semakin dekat. Tradisi ini juga membuat resep nastar terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Kini, nastar tidak hanya populer di Indonesia. Kue ini juga dikenal di Malaysia dan Singapura dengan berbagai variasi masing-masing. Meski begitu, di Indonesia nastar telah menjelma menjadi salah satu ikon kuliner Lebaran yang paling dinanti setiap tahunnya.

Celo

Celo

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Pecel Lesehan Marimar Kediri Jadi Favorit Warga Berburu Menu Sahur Ramadan Murah

Pecel Lesehan Marimar Kediri Jadi Favorit Warga Berburu Menu Sahur Ramadan Murah

Menu Sahur Sehat Agar Puasa Kuat Seharian Tanpa Lemas dan Mudah Lapar

Menu Sahur Sehat Agar Puasa Kuat Seharian Tanpa Lemas dan Mudah Lapar

Bubur Rujak Khas Saronggi Sumenep Jadi Menu Buka Puasa Favorit Warga Setempat

Bubur Rujak Khas Saronggi Sumenep Jadi Menu Buka Puasa Favorit Warga Setempat

Menu Buka Puasa Praktis Sepuluh Menit Siap Saji Lezat Mudah Dibuat Ramadan

Menu Buka Puasa Praktis Sepuluh Menit Siap Saji Lezat Mudah Dibuat Ramadan

Kesalahan Umum Saat Membuat Nasi Goreng yang Sering Merusak Rasa

Kesalahan Umum Saat Membuat Nasi Goreng yang Sering Merusak Rasa