Jumat, 20 Februari 2026

Harga Minyak Dunia Naik Lebih Satu Persen Brent Tembus USD71

Harga Minyak Dunia Naik Lebih Satu Persen Brent Tembus USD71
Harga Minyak Dunia Naik Lebih Satu Persen Brent Tembus USD71

JAKARTA - Pergerakan pasar energi global kembali menunjukkan dinamika yang signifikan. 

Harga minyak dunia melonjak lebih dari satu persen pada perdagangan Kamis waktu setempat atau Jumat WIB. Lonjakan tersebut terjadi di tengah upaya Amerika Serikat dan Iran meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya memicu kekhawatiran pasar.

Kenaikan harga ini mencerminkan respons pelaku pasar terhadap perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah. Wilayah tersebut dikenal sebagai pusat utama produksi minyak global. Setiap dinamika politik dan militer di kawasan ini kerap memengaruhi sentimen perdagangan energi dunia.

Baca Juga

KAI Logistik Antisipasi Lonjakan Angkutan Barang Menjelang dan Saat Lebaran 2026

Mengutip Yahoo Finance, Jumat, 20 Februari 2026, harga minyak mentah Brent berjangka sebagai patokan internasional untuk kontrak beli atau jual di masa depan, naik sebanyak satu persen menjadi USD71,03 per barel.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate sebagai harga patokan untuk pasar domestik Amerika Serikat, naik sebesar 1,1 persen menjadi USD65,77 per barel. Kenaikan kedua acuan ini memperlihatkan penguatan sentimen di pasar global maupun domestik AS.

Ketegangan Geopolitik Dorong Lonjakan Harga

Penguatan harga terjadi saat Washington dan Teheran berupaya menurunkan tensi melalui jalur diplomasi. Meski demikian, aktivitas militer di kawasan tersebut tetap meningkat. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang memicu spekulasi pasar.

Kawasan Teluk Persia menjadi perhatian utama karena merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Setiap potensi gangguan terhadap arus pengiriman minyak dapat berdampak langsung pada suplai global. Kondisi inilah yang mendorong investor bersikap waspada.

Analis di ING menjelaskan, harga minyak melonjak karena pasar semakin khawatir atas potensi tindakan AS yang akan segera dilakukan terhadap Iran. Bagi pasar minyak, kekhawatiran utamanya adalah apa arti tindakan tersebut, bukan hanya bagi pasokan minyak Iran, tetapi juga bagi aliran minyak Teluk Persia yang lebih luas, mengingat risiko gangguan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz.

Penjelasan tersebut menegaskan bahwa kekhawatiran tidak hanya terbatas pada produksi Iran. Ancaman terhadap jalur distribusi utama justru dinilai lebih krusial dalam menentukan arah harga minyak jangka pendek.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Pasar Energi

Perhatian pasar semakin meningkat setelah media pemerintah Iran melaporkan penutupan Selat Hormuz selama beberapa jam pada Selasa. Meski belum jelas apakah jalur tersebut telah sepenuhnya dibuka kembali, kabar ini cukup mengguncang sentimen perdagangan.

Selat Hormuz merupakan salah satu titik strategis terpenting dalam perdagangan minyak mentah dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya. Gangguan singkat sekalipun dapat menimbulkan lonjakan harga yang signifikan.

Ketidakpastian mengenai status jalur pelayaran ini memicu kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok. Pasar energi sangat sensitif terhadap potensi hambatan distribusi. Oleh karena itu, laporan penutupan meski hanya sementara langsung memengaruhi harga.

Situasi ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara stabilitas geopolitik dan pergerakan komoditas energi. Investor terus memantau setiap perkembangan diplomatik maupun militer di kawasan tersebut.

Pendekatan Tunggu Dan Lihat Pelaku Pasar

Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah analis menilai konflik berskala besar masih kecil kemungkinannya. Kepala Ahli Strategi di Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, menyampaikan pandangannya terkait situasi ini.

"Ketegangan antara Washington dan Teheran tetap tinggi, tetapi pandangan yang berlaku adalah konflik bersenjata skala penuh tidak mungkin terjadi, sehingga mendorong pendekatan tunggu dan lihat," kata Kikukawa.

Ia menambahkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak menginginkan kenaikan tajam harga minyak mentah. Stabilitas harga dinilai penting bagi perekonomian domestik dan global.

"Presiden AS Donald Trump tidak menginginkan kenaikan tajam harga minyak mentah, dan bahkan jika aksi militer terjadi, kemungkinan besar akan terbatas pada serangan udara jangka pendek," tambah Kikukawa. Pernyataan ini memberi gambaran bahwa risiko konflik besar masih dianggap terbatas oleh sebagian pelaku pasar.

Diplomasi Jenewa Dan Harapan Stabilitas Pasar

Gedung Putih menyampaikan bahwa beberapa kemajuan telah dicapai dalam pembicaraan dengan Iran di Jenewa minggu ini. Meski demikian, masih terdapat perbedaan pandangan terkait sejumlah isu penting. Perundingan tersebut menjadi salah satu faktor yang dipantau ketat oleh pelaku pasar energi.

Para pejabat menambahkan mereka mengharapkan Teheran untuk kembali dengan proposal yang lebih rinci dalam beberapa minggu ke depan. Harapan terhadap kelanjutan dialog ini memberi sedikit optimisme bagi pasar. Namun ketidakpastian tetap membayangi hingga kesepakatan konkret tercapai.

Kombinasi antara aktivitas militer, diplomasi, dan laporan penutupan Selat Hormuz menciptakan volatilitas harga. Pasar minyak berada dalam fase sensitif terhadap setiap pernyataan resmi maupun perkembangan lapangan.

Lonjakan lebih dari satu persen pada harga Brent dan West Texas Intermediate mencerminkan keseimbangan rapuh antara risiko geopolitik dan harapan diplomasi. Ke depan, arah harga minyak dunia akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran serta stabilitas jalur distribusi energi global.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Menhut Raja Juli Antoni Soroti Banjir Sumatera Untuk Evaluasi Tata Kelola Hutan Nasional

Menhut Raja Juli Antoni Soroti Banjir Sumatera Untuk Evaluasi Tata Kelola Hutan Nasional

Kadin Sebut Tarif Resiprokal 19 Persen Indonesia Amerika Serikat Kompetitif

Kadin Sebut Tarif Resiprokal 19 Persen Indonesia Amerika Serikat Kompetitif

Harga Minyak Melonjak Akibat Iran AS Saham Migas Bersiap Pesta

Harga Minyak Melonjak Akibat Iran AS Saham Migas Bersiap Pesta

Pemerintah Setop Impor BBM Solar Demi Kedaulatan Energi

Pemerintah Setop Impor BBM Solar Demi Kedaulatan Energi

Daftar Harga BBM Pertamina 20 Februari 2026 Terbaru Lengkap Nasional

Daftar Harga BBM Pertamina 20 Februari 2026 Terbaru Lengkap Nasional