JAKARTA - Ketegangan geopolitik kembali menjadi bahan bakar utama pergerakan pasar energi global.
Konflik yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat mendorong harga minyak mendidih dalam waktu singkat. Dampaknya tidak hanya terasa di pasar komoditas, tetapi juga menjalar ke bursa saham, terutama pada emiten terkait minyak, gas, dan perkapalan.
Kenaikan harga minyak kali ini bukan sekadar reaksi jangka pendek. Pelaku pasar melihat adanya risiko serius terhadap pasokan energi global, khususnya dari kawasan Timur Tengah. Setiap sinyal eskalasi langsung diterjemahkan menjadi lonjakan harga dan peningkatan volatilitas.
Baca JugaKAI Logistik Antisipasi Lonjakan Angkutan Barang Menjelang dan Saat Lebaran 2026
Melansir laman Axios, Penasihat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perang antara Iran dan Amerika Serikat tinggal menunggu pekan saja, kalau diplomasi kedua negara itu gagal. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa risiko konflik terbuka belum sepenuhnya mereda.
Situasi ini membuat pelaku pasar bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Ketidakpastian geopolitik menjadi katalis kuat yang mengerek harga minyak dan mengangkat saham sektor energi.
Tekanan Militer Dan Sanksi Energi Memanas
Sejauh ini, Amerika Serikat telah meningkatkan tekanan militer dan politik terhadap Teheran. Kehadiran armada militer di kawasan Teluk diperkuat sebagai bentuk kesiapsiagaan. Selain itu, sanksi ekonomi terhadap sektor energi dan sistem keuangan Iran juga diperketat.
Washington disebut mempercepat koordinasi dengan sekutu regionalnya untuk mengantisipasi potensi eskalasi. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pendekatan diplomasi berjalan beriringan dengan strategi tekanan. Kombinasi ini meningkatkan kecemasan pasar terhadap stabilitas kawasan.
Di sisi lain, Iran membuat keputusan yang mengejutkan pasar dengan menutup sebagian akses Selat Hormuz, meskipun hanya berlangsung beberapa jam. Langkah tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak dunia karena sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati jalur strategis tersebut.
Penutupan sementara itu dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Iran siap menggunakan jalur energi global sebagai alat tekanan geopolitik. Aksi ini memperlihatkan betapa vitalnya Selat Hormuz dalam rantai pasok minyak dunia.
Lonjakan Harga Capai Level Tertinggi
Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Rabu kemarin 18 Februari 2026, harga minyak mentah dunia sempat naik kisaran 4 persen sampai 5 persen dalam sehari. Tren positif tersebut berlanjut pada perdagangan Kamis dengan penguatan yang cenderung lebih moderat.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup di posisi US$ 71,91 per barel pada Kamis 19 Februari 2026. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juli 2025 atau lebih dari enam bulan terakhir.
Harga minyak melonjak seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam pasokan dari kawasan Timur Tengah. Sentimen geopolitik menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar.
Jika ketegangan terus meningkat dan gangguan distribusi berulang, risiko terhadap stabilitas pasokan energi global dan biaya logistik internasional bisa semakin besar. Kekhawatiran inilah yang membuat harga minyak tetap berada dalam tren menguat.
Emiten Migas Dan Perkapalan Bersinar
Kenaikan harga minyak memberikan dampak langsung terhadap saham terkait energi. Di dalam negeri, sejumlah emiten migas hingga perusahaan yang berhubungan dengan kapal kembali manggung. Sentimen positif ini terlihat dari pergerakan harga saham yang moncer dalam beberapa waktu terakhir.
Bahkan jika ditarik sejak awal tahun, ada emiten yang sudah mencatatkan kenaikan double digit hingga ratusan persen. Lonjakan tersebut mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi peningkatan pendapatan dan laba perusahaan energi.
Saham sektor perkapalan juga ikut terdorong karena meningkatnya kebutuhan distribusi energi. Ketika risiko pasokan muncul, permintaan terhadap jasa transportasi minyak dan gas cenderung naik. Hal ini membuka peluang pertumbuhan bagi perusahaan pelayaran energi.
Pergerakan saham tersebut menunjukkan keterkaitan erat antara harga komoditas global dan pasar modal domestik. Ketika minyak menguat, sektor terkait biasanya menjadi primadona investor.
Risiko Pasokan Dan Dampak Global
Kawasan Timur Tengah merupakan pusat produksi minyak global. Gangguan sekecil apa pun pada distribusi dapat berdampak luas terhadap harga dan stabilitas ekonomi. Selat Hormuz sebagai jalur vital memiliki peran strategis yang sulit digantikan.
Dengan sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur tersebut, setiap ancaman penutupan memicu kekhawatiran serius. Pasar tidak hanya memerhatikan produksi, tetapi juga keamanan transportasi energi.
Apabila konflik berkembang menjadi konfrontasi lebih luas, dampaknya bisa menjalar ke biaya logistik dan inflasi global. Harga energi yang tinggi berpotensi memengaruhi sektor industri, transportasi, hingga konsumsi rumah tangga.
Untuk saat ini, pasar masih mencermati perkembangan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat. Namun selama risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda, harga minyak berpeluang tetap tinggi. Situasi ini membuat emiten migas dan perkapalan berada dalam sorotan sebagai pihak yang berpotensi menikmati momentum kenaikan harga energi global.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
12 Resep Menu Sahur Sehat dan Bergizi Agar Tubuh Tetap Bertenaga Saat Puasa
- Jumat, 20 Februari 2026
5 Resep Sahur Praktis Tanpa Tepung yang Tinggi Protein dan Bergizi
- Jumat, 20 Februari 2026
Harga Sembako Jogja 20 Februari 2026 Terbaru: Cabai Rawit Merah Tembus 100 Ribu per Kilogram
- Jumat, 20 Februari 2026
Cara Cek Penerima PIP 2026 dan Jadwal Pencairan Terbaru Resmi Pemerintah
- Jumat, 20 Februari 2026
Berita Lainnya
Menhut Raja Juli Antoni Soroti Banjir Sumatera Untuk Evaluasi Tata Kelola Hutan Nasional
- Jumat, 20 Februari 2026
Kadin Sebut Tarif Resiprokal 19 Persen Indonesia Amerika Serikat Kompetitif
- Jumat, 20 Februari 2026












.jpg)