Stabilitas BI Rate Mendorong Optimisme MTLA dalam Meningkatkan Marketing Sales
- Jumat, 23 Januari 2026
JAKARTA - Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% telah membawa dampak positif bagi sektor properti, terutama bagi PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA).
Keputusan ini dilihat sebagai peluang bagi pengembang untuk memacu penjualan properti, khususnya dalam segmen hunian yang sangat bergantung pada pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Direktur PT Metropolitan Land Tbk., Olivia Surodjo, menilai bahwa suku bunga yang stabil dapat membantu menjaga daya beli masyarakat, serta mempercepat keputusan pembelian, terutama di pasar properti yang masih berusaha pulih dari tantangan ekonomi.
Baca JugaFolago Gandeng Mitra Besar Indonesia untuk Lonjakan Pendapatan Film 2026
Menurut Olivia, "Stabilitas suku bunga ini diharapkan dapat membantu menjaga minat beli masyarakat, terutama di segmen hunian yang sangat bergantung pada pembiayaan KPR."
Dengan suku bunga yang tetap, konsumen dapat memanfaatkan fasilitas KPR dengan bunga yang lebih terjangkau, yang pada gilirannya dapat merangsang permintaan di pasar properti.
Dampak Stabilitas BI Rate Terhadap Minat Beli Properti
Stabilitas suku bunga memang bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang dampaknya pada keputusan konsumen dalam membeli properti. Suku bunga yang terjaga memberi rasa nyaman kepada pembeli rumah, karena mereka tidak perlu khawatir akan adanya lonjakan biaya cicilan KPR di masa depan.
MTLA menyadari hal ini dan berusaha untuk memaksimalkan kondisi ini dengan menciptakan produk properti yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.
Selain itu, kebijakan PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah) yang masih diberlakukan memberikan ruang lebih besar bagi transaksi properti, dengan memberikan insentif kepada konsumen yang membeli properti baru.
Insentif ini menjadi daya tarik tambahan, terutama bagi first home buyers yang menjadi fokus utama MTLA dalam strategi penjualannya.
"Meskipun tidak langsung, kebijakan suku bunga yang stabil cukup mendukung kinerja penjualan kami, dan membantu mempercepat keputusan pembelian," lanjut Olivia.
Strategi Selektif MTLA dalam Menyasar Pasar Properti
Meskipun situasi pasar menunjukkan tren yang positif, MTLA tetap mengambil pendekatan selektif dalam menawarkan produknya.
Dengan kondisi ekonomi yang masih berada dalam tahap pemulihan, pengembang harus sangat berhati-hati dalam mengembangkan dan menawarkan produk properti. MTLA berfokus pada segmen first home buyer, yang dipandang masih memiliki potensi permintaan yang besar.
Di tengah situasi ini, penting bagi pengembang untuk memahami preferensi pasar dan menyediakan produk yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan konsumen.
"Kami tetap menjaga selektivitas dalam penjualan, menawarkan produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar yang ada," tambah Olivia.
Pengembang properti seperti MTLA harus jeli dalam menilai tren kebutuhan konsumen, dan memastikan produk yang mereka tawarkan memiliki value-added yang dapat memberikan keuntungan lebih bagi pembeli.
Target Marketing Sales 2026: Fokus pada Peningkatan Pre-Sales dan Recurring Income
Untuk tahun 2026, MTLA sedang dalam proses finalisasi target marketing sales. Namun, optimisme tetap tinggi, dengan perusahaan menargetkan peningkatan marketing sales yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Fokus utama MTLA pada tahun 2026 adalah mencapai target yang lebih tinggi dalam segi pre-sales (penjualan sebelum properti dibangun) dan recurring income (pendapatan berulang dari penyewaan properti).
Kebijakan makro yang mendukung, terutama stabilitas suku bunga dan insentif pemerintah untuk sektor properti, menjadi faktor pendorong utama untuk mencapai target tersebut.
"Kami optimistis bahwa pada 2026 kami akan mampu mencapai target yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Olivia.
Prospek Sektor Properti pada 2026: Stabil dan Penuh Peluang
Secara umum, sektor properti Indonesia pada 2026 diperkirakan akan tetap stabil, dengan pasar hunian menjadi sektor yang paling potensial. Stabilitas suku bunga yang dipertahankan oleh BI memberikan kemudahan bagi konsumen untuk mendapatkan pembiayaan melalui KPR.
Selain itu, masih tingginya kebutuhan akan hunian di berbagai wilayah juga menjadi faktor pendorong sektor ini.
Namun demikian, MTLA tetap waspada terhadap sejumlah tantangan yang mungkin muncul, seperti dinamika daya beli masyarakat yang bisa berfluktuasi, serta ketidakpastian ekonomi global yang bisa mempengaruhi pasar domestik.
Oleh karena itu, "Pengembang perlu lebih adaptif dan fokus pada produk yang terjangkau serta memiliki nilai tambah," tegas Olivia.
Daya Beli dan Tantangan Ekonomi Global: Menghadapi Ketidakpastian
Meski sektor properti tampak optimis, MTLA tetap mencermati dengan seksama tantangan-tantangan yang ada, salah satunya adalah daya beli masyarakat. Daya beli yang belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi dan inflasi menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh pengembang properti.
Selain itu, dinamika ekonomi global yang tak menentu, seperti potensi kenaikan harga bahan bangunan atau ketegangan perdagangan internasional, juga dapat memengaruhi kinerja sektor properti. Oleh karena itu, pengembang perlu menjaga fleksibilitas dan menyesuaikan strategi sesuai dengan perkembangan yang ada.
Pentingnya Menjaga Kepercayaan Konsumen di Tengah Pemulihan Ekonomi
Salah satu faktor kunci dalam menjaga stabilitas sektor properti adalah kepercayaan konsumen. MTLA menyadari bahwa kepercayaan konsumen sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi dan kebijakan yang ada. Seiring dengan pemulihan daya beli, konsumen akan semakin percaya diri dalam mengambil keputusan pembelian.
Kebijakan pemerintah yang mendukung pembangunan properti, serta insentif pajak seperti PPN DTP, juga memberi peluang lebih besar bagi konsumen untuk membeli rumah, terlebih bagi mereka yang baru pertama kali membeli rumah (first home buyer).
Optimisme MTLA untuk Masa Depan Sektor Properti Indonesia
Dengan didukung oleh kebijakan yang relatif kondusif dan tetap stabilnya suku bunga, MTLA memiliki optimisme tinggi untuk menyongsong tahun 2026.
Fokus pada segmen first home buyer, strategi penjualan yang selektif, dan perencanaan produk yang tepat menjadi modal utama bagi perusahaan dalam menghadapi pasar yang kompetitif.
"Kami berharap bahwa dengan dukungan kebijakan makro yang ada, serta strategi produk yang sesuai, kami dapat mencapai target marketing sales yang lebih baik pada tahun 2026," ujar Olivia, menutup penjelasan tentang prospek pasar properti yang cerah bagi MTLA.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Layanan SIM Keliling Jakarta Siap Bantu Perpanjang SIM Di Lima Lokasi
- Jumat, 23 Januari 2026
BPBD Jakarta Peringatkan Hujan Lebat Potensial Guyur Ibu Kota Hingga 24 Januari
- Jumat, 23 Januari 2026
Samsat Keliling Polda Metro Jaya Masih Dibuka di 14 Lokasi Jadetabek
- Jumat, 23 Januari 2026
Wamenag Tekankan Kualitas Layanan KUA Harus Meningkat dan Tidak Lambat
- Jumat, 23 Januari 2026
Berita Lainnya
PT Rama Indonesia Siap Akuisisi Saham Mayoritas DPUM untuk Pertumbuhan Grup
- Jumat, 23 Januari 2026
Bus DAMRI Jogja–YIA Kini Jadi Pilihan Transportasi Bandara Paling Praktis
- Jumat, 23 Januari 2026
Danantara Indonesia Targetkan Investasi Hingga US$14 Miliar Tahun Ini
- Jumat, 23 Januari 2026
Terpopuler
1.
9 Tanda Tubuh Overdosis Garam yang Wajib Diwaspadai
- 23 Januari 2026
2.
Cara Alami Mengatasi Nyeri Haid Tanpa Obat yang Efektif
- 23 Januari 2026
3.
Pakar Hati-Hati! Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Trump
- 23 Januari 2026












