Harga Batu Bara Mendekati US$110 per Ton, Cuaca Ekstrem dan Sinyal Teknikal Jadi Penentu Arah Pasar
- Jumat, 23 Januari 2026
JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menyita perhatian pelaku pasar energi global. Komoditas yang kerap dijuluki batu hitam ini menunjukkan penguatan meski terbatas.
Kenaikan harga terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasokan energi akibat cuaca ekstrem. Kondisi ini membuat batu bara kembali dilirik sebagai sumber energi cadangan.
Pada perdagangan terakhir, harga batu bara tercatat mengalami kenaikan tipis. Tren ini menandai adanya sentimen positif yang mulai terbentuk di pasar.
Baca JugaBahlil Instruksikan Penambahan Kuota BBM Subsidi Demi Kelancaran Distribusi Papua dan Aceh
Harga batu bara mendekati level psikologis penting US$110 per ton. Level ini menjadi sorotan karena kerap menjadi titik uji kekuatan tren harga.
Harga Batu Bara Menguat di Pasar Global
Harga batu bara tercatat naik pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026. Penguatan ini terjadi di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang.
Harga batu bara ditutup di level US$109,55 per ton. Angka tersebut menguat 0,18 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.
Kenaikan ini menunjukkan adanya respons pasar terhadap kondisi global. Meskipun persentase kenaikan relatif kecil, arah pergerakan dinilai cukup penting.
Level US$109,55 per ton membuat harga batu bara semakin dekat dengan ambang US$110 per ton. Ambang ini sering dianggap sebagai batas psikologis bagi pelaku pasar.
Pergerakan harga tersebut mencerminkan sentimen yang mulai membaik. Investor terlihat kembali melirik batu bara sebagai aset energi strategis.
Kondisi cuaca ekstrem di berbagai negara menjadi salah satu faktor utama. Cuaca buruk meningkatkan risiko gangguan pasokan energi.
Situasi ini tidak hanya terjadi di satu kawasan. Sejumlah negara menghadapi tantangan serupa akibat badai musim dingin.
Amerika Serikat menjadi salah satu contoh yang paling disorot. Negara tersebut menghadapi ancaman badai musim dingin yang berpotensi mengganggu pasokan listrik.
Batu Bara Kembali Dilirik di Tengah Cuaca Buruk
Cuaca ekstrem mendorong perubahan strategi dalam pengelolaan energi. Batu bara kembali dipertimbangkan sebagai sumber energi cadangan.
Bloomberg News melaporkan bahwa pemerintah Amerika Serikat meminta operator jaringan listrik bersiap. Mereka diminta beralih ke sumber energi cadangan untuk menghadapi badai musim dingin.
Tanpa sumber energi cadangan yang memadai, Amerika Serikat berisiko mengalami pemadaman listrik massal. Kondisi tersebut dikenal sebagai blackout yang dapat berdampak luas.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan kesiapan pasokan listrik nasional. Negara tersebut memiliki cadangan listrik sebesar 35 gigawatt yang belum terpakai.
Cadangan ini disiapkan untuk menghadapi situasi darurat. Langkah tersebut diambil demi menjaga stabilitas pasokan listrik.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menegaskan komitmen pemerintah. Ia menyatakan bahwa listrik akan tersedia jika bangsa membutuhkannya.
“Pemerintah memastikan bahwa jika bangsa membutuhkan, maka listrik akan tersedia,” tegas Chris Wright. Pernyataan tersebut menegaskan kesiapan energi nasional.
Dalam bauran energi Amerika Serikat, gas alam masih mendominasi. Gas alam menyumbang sekitar 40 persen dari total energy mix.
Energi baru dan terbarukan berada di posisi kedua. Porsinya mencapai sekitar 24 persen dari pembangkitan energi.
Sementara itu, batu bara menyumbang sekitar 17 persen dari pembangkitan energi di Amerika Serikat. Porsi ini memang lebih kecil dibandingkan gas dan energi terbarukan.
Namun, peran batu bara berpotensi meningkat. Hal ini terjadi jika sumber energi cadangan diaktifkan.
Dalam situasi darurat, batu bara dinilai mampu memberikan pasokan yang stabil. Kondisi ini membuat perannya kembali strategis.
Kembalinya perhatian terhadap batu bara turut memengaruhi sentimen harga. Pasar merespons kemungkinan peningkatan permintaan jangka pendek.
Analisis Teknikal Harga Batu Bara
Selain faktor fundamental, analisis teknikal juga menjadi perhatian pelaku pasar. Analisis ini digunakan untuk membaca arah pergerakan harga selanjutnya.
Pertanyaan utama pasar adalah arah harga pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026. Investor mencermati apakah harga mampu melanjutkan kenaikan atau justru terkoreksi.
Secara teknikal pada perspektif harian atau daily time frame, batu bara berada di zona bullish. Kondisi ini tercermin dari indikator Relative Strength Index.
Nilai RSI 14 hari tercatat di level 55. RSI di atas 50 mengindikasikan bahwa aset berada dalam tren naik.
Meskipun demikian, sinyal kehati-hatian mulai terlihat. Indikator Stochastic RSI 14 hari menunjukkan level yang cukup tinggi.
Stochastic RSI tercatat berada di angka 93. Level ini jauh di atas ambang 80 yang menandakan kondisi jenuh beli.
Kondisi jenuh beli atau overbought meningkatkan risiko koreksi harga. Investor perlu mencermati potensi pelemahan jangka pendek.
Untuk perdagangan hari ini, harga batu bara dinilai berisiko mengalami penurunan. Koreksi teknikal bisa terjadi setelah kenaikan sebelumnya.
Level pivot point menjadi acuan utama pergerakan harga. Pivot point terpantau berada di kisaran US$108 per ton.
Jika harga bergerak turun dari pivot tersebut, area support akan diuji. Support terdekat berada di kisaran US$107 hingga US$106 per ton.
Area support ini menjadi batas bawah penting. Penembusan ke bawah level ini dapat memperdalam koreksi.
Namun, peluang penguatan tetap terbuka. Jika sentimen positif bertahan, harga berpotensi kembali naik.
Dalam skenario penguatan, resisten terdekat berada di level US$110 per ton. Level ini menjadi tantangan utama bagi harga batu bara.
Jika harga mampu menembus US$110 per ton, potensi kenaikan lanjutan terbuka. Harga bisa bergerak ke rentang US$111 hingga US$117 per ton.
Rentang tersebut menjadi target optimistis dalam jangka pendek. Namun, pencapaiannya bergantung pada sentimen pasar dan kondisi global.
Dinamika Pasar dan Sikap Investor
Pergerakan harga batu bara saat ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Kombinasi cuaca, kebijakan energi, dan indikator teknikal saling berinteraksi.
Investor cenderung bersikap lebih hati-hati. Kondisi overbought mendorong sebagian pelaku pasar untuk menunggu konfirmasi arah.
Volatilitas tetap menjadi ciri utama pasar batu bara. Perubahan sentimen global dapat dengan cepat memengaruhi harga.
Kondisi cuaca ekstrem masih menjadi faktor kunci. Selama risiko gangguan pasokan energi ada, batu bara berpotensi tetap diminati.
Di sisi lain, transisi energi global tetap berjalan. Peran batu bara tetap menghadapi tantangan dari energi bersih.
Namun dalam jangka pendek, aspek keamanan energi menjadi prioritas. Hal ini membuka ruang bagi batu bara untuk kembali berperan.
Dengan mendekati level US$110 per ton, harga batu bara berada di titik krusial. Arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh sentimen pasar.
Investor disarankan memantau perkembangan global secara cermat. Informasi cuaca dan kebijakan energi menjadi faktor penting.
Analisis teknikal dan fundamental perlu dikombinasikan. Pendekatan ini membantu mengelola risiko di tengah ketidakpastian.
Secara keseluruhan, harga batu bara masih menunjukkan kecenderungan positif. Namun, potensi koreksi tetap perlu diantisipasi.
Nathasya Zallianty
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Layanan SIM Keliling Jakarta Siap Bantu Perpanjang SIM Di Lima Lokasi
- Jumat, 23 Januari 2026
BPBD Jakarta Peringatkan Hujan Lebat Potensial Guyur Ibu Kota Hingga 24 Januari
- Jumat, 23 Januari 2026
Samsat Keliling Polda Metro Jaya Masih Dibuka di 14 Lokasi Jadetabek
- Jumat, 23 Januari 2026
Wamenag Tekankan Kualitas Layanan KUA Harus Meningkat dan Tidak Lambat
- Jumat, 23 Januari 2026
Berita Lainnya
Harga Minyak Dunia Tergelincir Setelah Ketegangan Global Mulai Mereda 2026
- Jumat, 23 Januari 2026
Konsumsi Listrik Nasional Naik, Program Listrik Desa Dorong Akses Merata 2025
- Jumat, 23 Januari 2026
Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru, Update Lengkap Seluruh SPBU Indonesia
- Jumat, 23 Januari 2026
Terpopuler
1.
9 Tanda Tubuh Overdosis Garam yang Wajib Diwaspadai
- 23 Januari 2026
2.
Cara Alami Mengatasi Nyeri Haid Tanpa Obat yang Efektif
- 23 Januari 2026
3.
Pakar Hati-Hati! Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Trump
- 23 Januari 2026












