Pasar Asia Bersiap Turun, Investor Wait and See Keputusan The Fed

Ilustrasi bursa Asia. (Dok: Bloomberg)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:51:11 WIB

JAKARTA – Pasar saham di kawasan Asia tampaknya bersiap menyudahi tren penguatan yang sempat bergulir selama tiga hari berturut-turut. 

Dinamika pergerakan ini mengekor potret kejatuhan Wall Street pasca-para pemodal mulai mengalihkan modal mereka keluar dari saham sektor teknologi, sekaligus bersiap mengantisipasi pengumuman kebijakan moneter perdana Federal Reserve (The Fed) di bawah kepemimpinan gubernur anyar, Kevin Warsh.

Kontrak berjangka indeks saham untuk wilayah Jepang, Korea Selatan, dan Australia memperlihatkan indikasi bakal bergerak memerah pada pembukaan pasar nanti. 

Aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham produsen cip bertindak sebagai beban utama bagi bursa saham Amerika Serikat hingga menyeret indeks S&P 500 ke zona merah dan memicu Nasdaq 100 ambles hingga hampir 2%.

Berikut rincian indikator pasar global terkini:

  • Kontrak Berjangka Asia (Jepang, Korsel, Australia): Mengindikasikan pembukaan di zona merah
  • Indeks Nasdaq 100: Ambles mendekati 2% akibat aksi jual saham produsen cip
  • Saham SpaceX: Melesat hampir 50% pasca-IPO hingga melangkahi kapitalisasi pasar Amazon
  • Harga Minyak Mentah WTI: Bergerak stabil di kisaran US$76 per barel pasca-anjlok 6%

Sektor SpaceX meneruskan reli penguatannya pasca-IPO lewat lonjakan hampir 50% dan sukses menyalip Amazon.com, Inc. untuk menjadi korporasi terbesar kelima di dunia bersandarkan nilai kapitalisasi pasar. 

Sementara itu, komoditas minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melaju stabil pada kisaran US$76 per barel setelah sempat anjlok sekitar 6% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Mayoritas bank sentral di negara maju, termasuk The Fed, diproyeksikan tidak akan merombak kebijakan moneter mereka pada pekan ini. 

"Bagi pasar, latar belakang suku bunga yang 'lebih tinggi untuk waktu lebih lama', alih-alih siklus pengetatan baru, menurut pandangan kami tetap dapat mendukung valuasi saham. Terutama jika hal itu mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang tangguh di tengah tekanan inflasi yang mereda secara bertahap," kata Mona Mahajan dari Edward Jones, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pihak AS dan Iran dilaporkan sedang bersiap menandatangani kesepakatan damai sementara, namun rincian detailnya masih memicu keraguan pasar terkait aspek operasional di Selat Hormuz. 

Imbal hasil obligasi pemerintah AS terpantau masih bertahan di atas posisi terendah pada Senin, walaupun harga acuan minyak telah merosot ke level paling rendah sejak memasuki awal Maret lalu.

“Dalam jangka pendek, harga minyak memang turun cukup tajam, tetapi pasar sedang mencoba menentukan mana yang lebih penting dampak jangka pendek atau ketidakjelasan pengaruhnya terhadap inflasi dalam jangka panjang,” kata David Robin, analis strategi suku bunga di TJM Institutional Services LLC, sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Atensi para pelaku pasar kini sepenuhnya beralih menyoroti rapat perdana Kevin Warsh selaku Gubernur The Fed.

Warsh diprediksi bakal mengubah pola komunikasi bank sentral dan kemungkinan tidak akan menyertakan proyeksi pribadinya dalam skema "dot plot" seperti yang dilakukan oleh pendahulunya. 

Investor dipastikan mencermati sinyal apakah fokus kebijakan The Fed ke depan akan lebih condong pada sikap sabar atau justru kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap prospek laju inflasi.

“Dalam hitungan bulan, narasi pasar telah berubah dari ‘berapa kali pemangkasan suku bunga tahun ini?’ menjadi ‘berapa kali kenaikan suku bunga yang mungkin terjadi?’ Itu perubahan besar dan menempatkan Warsh dalam posisi yang tidak mudah. Ia bisa mengakui penurunan harga minyak baru-baru ini dan terdengar lebih sabar, tetapi ia juga tidak boleh terlihat lengah jika tekanan inflasi yang lebih luas bergerak ke arah yang salah,” ujar Bret Kenwell dari eToro, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Reporter: Ibtihal