Proyek Jalan Tambang dan PLTS Sokong Kenaikan Pendapatan SOLA

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 17 Juni 2026
Proyek Jalan Tambang dan PLTS Sokong Kenaikan Pendapatan SOLA
Xolare (SOLA) Rampungkan Proyek PLTS di Raja Ampat. (Sumber Gambar: Perseroan)

JAKARTA – Emiten produsen sekaligus konstruksi aspal modifikasi, PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) menargetkan peningkatan pendapatan serta laba pada tahun 2026 selaras dengan pengokohan pipeline proyek, diversifikasi bidang usaha, dan penambahan backlog konstruksi.

Direktur Utama Xolare RCR Energy, Mochamad Bhadaiwi, menguraikan bahwa SOLA membidik total pendapatan menyentuh Rp 412,57 miliar pada tahun 2026 atau tumbuh 23,5% jika disandingkan dengan perolehan sepanjang 2025 yang berada di angka Rp 333,99 miIiar.

Seirama dengan kenaikan top line tersebut, manajemen SOLA mengincar laba tahun berjalan dapat menembus Rp 52,74 miliar pada tahun 2026. Angka itu bergerak naik dari capaian laba bersih tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 44,66 miliar. 

"Fokus pipeline diarahkan untuk memperkuat revenue visibility, backlog konstruksi, dan diversifikasi produk maupun layanan SOLA,” ujar Bhadaiwi dalam keterangan resmi, Rabu (17/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam rangka memenangkan target tersebut, SOLA menetapkan tiga pilar pertumbuhan yang utama. Pilar pertama yaitu ekspansi bisnis jalan hauling serta konstruksi pertambangan di daerah Sumatra dan Kalimantan.

Pertama, SOLA membidik peluang peningkatan serta pemeliharaan jalan hauling batubara, termasuk menyediakan solusi cement treated base (CTB), cement treated recycled base (CTRB), penstabilan tanah, aspal emulsi, hingga teknik double chip seal.

Kedua, SOLA akan melangsungkan ekspansi produk aspal serta material industrial grade. Bhadaiwi menyebutkan bahwa SOLA mempunyai rencana guna memperlebar jangkauan pemasaran aspal emulsi, polymer modified bitumen (PMB), cold mix asphalt, produk pelapis, waterproofing, dan membran bitumen.

“Strategi tersebut diperkuat melalui skema call-off order untuk pelanggan sektor minyak dan gas, pertambangan, serta infrastruktur, dengan dukungan jaringan pabrik yang tersebar di Sumatra Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” kata Bhadaiwi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ketiga, SOLA akan memfokuskan pada ekspansi energi terbarukan serta bisnis engineering, procurement and construction (EPC). 

SOLA mengincar peluang proyek PLTS, ekspansi PLTS yang berbasis independent power producer (IPP), sekaligus penyediaan layanan EPC dan pemeliharaan untuk sektor energi serta migas.

Sejumlah proyek saat ini tengah ditangani oleh SOLA, beberapa di antaranya ialah peningkatan jalan hauling PT Servo Lintas Raya sepanjang 36 kilometer, pembangunan area Wisma Titan, dan konstruksi jalan hauling untuk PT Royalltama Mulia Konstruksi.

Di samping itu, SOLA juga menjalankan call-off order aspal emulsi untuk PT Pertamina Hulu Rokan serta memasok aspal polimer, aspal emulsi, hingga cold mix asphalt bagi beraneka proyek jalan nasional maupun jalan tol.

Bhadaiwi menjelaskan bahwa kesempatan ekspansi bisnis perseroan ke depan dinilai masih terbuka sangat lebar, yang disokong oleh pengerjaan energi baru terbarukan (EBT), keperluan pembangunan infrastruktur, sampai kesempatan bisnis dekarbonisasi industri.

"RUPTL 2025–2034 mendorong pertumbuhan PLTS, EBT, dan storage. Selain itu, regulasi CCUS dan pengembangan nilai ekonomi karbon juga membuka peluang baru bagi SOLA,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua