AS-Iran Damai dan Minyak Anjlok Jadi Katalis IHSG, Cek Prospeknya

Seseorang sedang Mencari Nilai Saham. (Foto: bisnis.com)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 17 Juni 2026 | 09:46:33 WIB

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan tren kenaikan yang signifikan pada aktivitas transaksi Senin (15/6/2026) dengan berakhir melonjak 4,12% menuju posisi 6.254,97, disokong oleh stimulus positif dari kabar mufakat damai AS–Iran serta penurunan harga minyak dunia.

Tim riset Phintraco Sekuritas berpandangan bahwa dari sisi teknikal prospek IHSG dalam jangka pendek masih terbilang positif. 

Indeks sukses berakhir di atas rata-rata pergerakan yang mengindikasikan adanya pergeseran tren menuju fase yang lebih konstruktif. 

Di samping itu, indikator MACD tetap memperlihatkan histogram positif yang terus merangkak naik, mengisyaratkan momentum penguatan belum sepenuhnya usai. Meski begitu, para pelaku pasar mesti tetap berhati-hati terhadap risiko aksi ambil untung.

"IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 6.150 hingga 6.400 pada perdagangan berikutnya," tulis tim riset yang dikutip, Selasa (16/6/2026).

Laju penguatan IHSG pada penutupan transaksi tersebut menjadi salah satu lonjakan harian paling masif dalam beberapa waktu belakangan, bahkan sempat menggapai posisi 6.345 di tengah-tengah sesi perdagangan seiring bertumbuhnya optimisme pasar atas meredanya perselisihan geopolitik di Timur Tengah.

Pemicu utama datang dari rencana penandatanganan kesepakatan damai AS–Iran di Swiss pada Jumat (19/6), yang mendongkrak ekspektasi terciptanya stabilitas di kawasan serta peluang normalisasi rute pelayaran strategis di Selat Hormuz. 

Stimulus tersebut ikut memicu penguatan bursa saham global, tidak terkecuali Indonesia.

Ditinjau dari sektor komoditas, harga minyak mentah dunia terkoreksi cukup dalam. West Texas Intermediate (WTI) menyusut lebih dari 4% ke kisaran US$80 per barel, sementara Brent melemah ke rentang US$83 per barel. 

Penurunan ini meredakan kecemasan seputar hambatan pasokan energi global.

Bagi Indonesia yang posisinya masih bertumpu pada impor energi, merosotnya harga minyak dipandang bernilai positif lantaran berpeluang menekan laju inflasi, mengikis tekanan pada mata uang rupiah, sekaligus meminimalkan risiko melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hembusan sentimen positif juga tampak di pasar valuta asing, di mana rupiah menguat 0,85% ke posisi Rp17.709 per dolar AS pada Senin (15/6), selaras dengan naiknya gairah investor terhadap aset berisiko di pasar domestik.

Di bursa domestik, sektor bahan baku (basic materials) tampil sebagai motor penggerak utama penguatan lewat lonjakan sebesar 7,26%, dipicu oleh optimisme atas pemulihan roda ekonomi dunia serta ekspektasi bergairahnya kembali aktivitas industri. 

Kenaikan serupa melanda saham-saham siklikal yang sensitif terhadap dinamika ekonomi global, seiring harapan meredanya tensi geopolitik yang diyakini dapat kembali melancarkan jalur niaga internasional.

Reporter: Ibtihal