Pasar Minyak Bergejolak, Harga Brent Naik Imbas Serangan AS di Iran

Ilustrasi Minyak mentah. (Foto: NET0
Penulis: Ibtihal
Selasa, 26 Mei 2026 | 10:54:01 WIB

NEW YORK - Nilai jual minyak bumi internasional kembali merangkak naik menyusul langkah Amerika Serikat (AS) yang mengeksekusi serangan militer terhadap rentetan sasaran di Iran, sehingga mempertebal kecemasan akan tersendatnya distribusi pasokan global dari area Timur Tengah yang menjadi pilar energi dunia. 

Pada sesi awal transaksi Asia, Selasa (26/5/2026), nilai Brent crude futures dibukukan terapresiasi kisaran 1,5% atau senilai US$ 1,40 menuju angka US$ 97,56 per barel tepat pada pukul 00.06 waktu setempat. 

Di sesi terdahulu, harga Brent dilaporkan sempat anjlok sedalam hampir 7%. 

Di saat bersamaan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS ditransaksikan pada posisi US$91,25 per barel, menguat tipis dibanding sesi terakhir pada Senin, walau terpantau masih turun sebesar 5,5% jika disandingkan dengan posisi penutupan Jumat. Transaksi penutupan resmi untuk WTI tidak diterbitkan pada Senin lantaran momentum libur nasional Memorial Day di AS.

Akselerasi harga minyak bumi ini dipicu oleh memanasnya perselisihan pasca Komando Pusat AS (US Central Command) merilis pernyataan telah mengeksekusi operasi “defensif” di area selatan wilayah Iran. 

Sasaran gempuran diinformasikan menyasar armada kapal yang dicurigai tengah bersiap memasang ranjau laut serta pos peluncuran peluru kendali. Pihak Washington mengonfirmasi bahwa pergerakan taktis tersebut diorientasikan demi membentengi pasukan AS dari potensi ancaman militer Iran. 

Di sudut lain, saluran media Iran mengabarkan rentetan suara dentuman terdengar di kawasan Bandar Abbas serta area pesisir di sekitar Selat Hormuz, rute pelayaran krusial yang menjadi jantung jalur niaga minyak internasional.

Eskalasi ketegangan di area tersebut seketika memicu kepanikan pasar, mengingat otoritas Iran sebelumnya telah memblokade hampir seluruh mobilitas kapal non-Iran untuk keluar-masuk kawasan Teluk Persia semenjak perselisihan pecah. Keadaan ini telah menghambat setidaknya seperlima dari total pasokan minyak dan gas global, sekaligus memicu lonjakan nilai jual energi dalam beberapa waktu belakangan.

Kendati demikian, saluran diplomasi dilaporkan masih diupayakan. Jajaran pejabat teras Iran, termasuk ketua tim negosiasi serta menteri luar negeri, diinformasikan melangsungkan dialog di Doha bersama Perdana Menteri Qatar demi mengulas cetak biru konsensus damai dengan pihak Amerika Serikat. 

Kedua belah pihak dikabarkan telah membedah draf nota kesepahaman yang diharapkan mampu merintis jalan menuju gencatan senjata sekaligus memberikan tenggat waktu 60 hari untuk proses perundingan lanjutan.

Laporan dari Nikkei turut menyebutkan kans adanya kesepakatan yang mewajibkan pihak Iran untuk membersihkan instrumen ranjau di area Selat Hormuz dalam kurun waktu 30 hari, dengan maksud agar koridor pelayaran internasional dapat kembali diakses dengan aman. 

Otoritas Iran juga diisukan bakal menghapus pungutan biaya transit bagi armada kapal.

“Para trader bertaruh besar bahwa terobosan diplomatik akan segera membuka kembali jalur tanker yang selama ini tersendat di Selat Hormuz,” ujar Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.

Statistik pelacakan kapal memperlihatkan sejumlah aktivitas pelayaran mulai bergulir kembali, termasuk pergerakan tiga kapal tanker LNG yang melintasi Selat Hormuz menuju arah Pakistan, China, serta India. 

Satu unit armada supertanker yang mengangkut minyak dari Irak menuju China pun dilaporkan kembali berlayar pasca sempat tertahan selama kurang lebih tiga bulan.

Namun, faktor ketidakpastian terpantau masih menyelimuti psikologis pasar. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan poin tuntutannya agar pihak Iran menyerahkan pasokan uranium yang diperkaya kepada pihak Amerika Serikat untuk segera dimusnahkan. 

Pengamat pasar dari IG, Tony Sycamore, menguraikan bahwa dinamika ini memperlihatkan bahwa pondasi konsensus damai tersebut sejatinya masih sangat ringkih.

“Ini menjadi pengingat keras bahwa kesepakatan bisa saja gagal di menit-menit akhir, seperti lima upaya sebelumnya,” ujarnya.

Melalui perpaduan antara eskalasi operasi militer dan proses diplomasi yang berjalan di tengah tensi yang tinggi, sektor pasar minyak global saat ini berada pada posisi yang rentan, sembari menanti poros baru dari konflik yang memegang potensi besar dalam mengacaukan pasokan energi internasional.

Reporter: Ibtihal