Lonjakan Permintaan Emas Global Q1 2026 Capai Rekor 1.231 Ton
- Kamis, 30 April 2026
SURABAYA – Permintaan emas global Q1 2026 meroket hingga 1.231 ton akibat agresivitas investor Asia di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi nilai tukar mata uang.
Laporan terbaru dari World Gold Council menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Analis pasar menyebutkan bahwa pergerakan harga yang fluktuatif justru memicu minat beli yang lebih tinggi di kawasan timur.
Baca JugaPrediksi Pergerakan IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini 30 April 2026
"Minat investasi di pasar Asia, khususnya China dan India, menunjukkan ketahanan luar biasa meskipun harga emas dunia berada di level tertinggi," ujar Shaokai Fan, Kepala Asia-Pasifik di World Gold Council, melansir sumber data pasar, Kamis (30/4/2026).
Shaokai Fan menjelaskan bahwa diversifikasi aset menjadi alasan utama para investor di wilayah tersebut untuk terus menambah simpanan logam mulia mereka sepanjang awal tahun ini.
Pembelian oleh bank sentral di berbagai negara juga memberikan kontribusi besar dalam menjaga stabilitas permintaan di pasar internasional.
Volume transaksi yang mencapai 1.231 ton ini mencerminkan kepercayaan pasar yang tetap solid terhadap emas sebagai aset pelindung nilai.
Kondisi geopolitik yang belum stabil ikut mendorong para manajer investasi untuk mengalihkan portofolio ke instrumen yang lebih aman.
Sektor perhiasan di beberapa negara berkembang tercatat mengalami sedikit penyesuaian akibat kenaikan harga ritel yang cukup tajam.
Namun, penurunan di sektor retail fisik tersebut mampu ditutup oleh lonjakan investasi pada produk emas batangan dan koin.
Aliran modal ke dalam Exchange Traded Fund atau ETF emas juga mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat mengalami tekanan pada periode sebelumnya.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa investor institusional mulai kembali melirik logam mulia sebagai pilar utama dalam strategi manajemen risiko mereka.
Kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang yang belum sepenuhnya mereda membuat daya tarik aset tanpa bunga ini tetap kompetitif di mata dunia.
Beberapa negara di Asia Tenggara juga dilaporkan memberikan sumbangan angka pembelian yang cukup stabil untuk mendukung akumulasi cadangan devisa nasional.
Kekuatan mata uang lokal yang tertekan terhadap dollar AS sering kali memaksa masyarakat beralih ke emas guna menjaga daya beli harta mereka.
Para pelaku pasar kini tengah memperhatikan kebijakan suku bunga global yang diperkirakan akan mempengaruhi arah pergerakan harga pada kuartal mendatang.
Perubahan proyeksi kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia menjadi faktor krusial yang menentukan volume perdagangan di bursa komoditas.
Sentimen positif dari sektor industri teknologi yang membutuhkan komponen emas turut memberikan dukungan pada sisi permintaan fisik secara keseluruhan.
Optimisme terhadap logam mulia diprediksi masih akan berlanjut sepanjang sisa tahun ini.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Update Harga BBM Pertamina 11 April 2026 Stabil di Seluruh Wilayah Indonesia
- Sabtu, 11 April 2026











