Harga Kakao Kering Petani Aceh Tenggara Naik Jadi Rp 43.000 per Kg

Ilustrasi Biji Kakao. (Foto: industri.kontan.co.id)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 26 Mei 2026 | 10:54:01 WIB

ACEH TENGGARA - Nilai jual komoditas kakao kering di tingkat produsen Kabupaten Aceh Tenggara membukukan peningkatan sebesar Rp3.000 per kilogram pada Senin, 25 Mei 2026. 

Angka jual untuk hasil perkebunan tersebut sekarang bertengger di level Rp43.000 per kilogram dari posisi sebelumnya yang mandek di angka Rp40.000 per kilogram.

Lompatan harga ini menghadirkan kabar baik bagi kelompok tani lokal yang menggantungkan sumber pendapatan utama mereka dari sektor budidaya tanaman cokelat. 

Pergeseran nominal ini sekaligus menjadi parameter fluktuasi yang berjalan dinamis pada sektor komoditas perkebunan di pasar domestik.

Dinamika nilai transaksi komoditas perkebunan ini terpantau bervariasi pada sejumlah daerah pelaporan. Mengacu pada data komoditas sektoral, pergerakan grafik harga memperlihatkan adanya sinyal pemulihan secara gradual pada tingkat pengepul di daerah.

Apresiasi nilai jual ini bergulir secara bertahap pasca sempat melewati fase jenuh atau stagnan di sepanjang beberapa minggu belakangan. Para tengkulak di lapangan mulai mengoreksi harga beli mereka selaras dengan meningkatnya mutu pengeringan dari hasil panen masyarakat.

Daftar Perbandingan Harga Biji Kakao Kering Terbaru 2026

1. Aceh Tenggara

Harga Sebelumnya: Rp40.000 per Kg
Harga Terbaru: Rp43.000 per Kg
Nominal Kenaikan: Rp3.000

2. Gayo Lues

Harga Sebelumnya: Rp40.000 per Kg
Harga Terbaru: Rp40.000 per Kg
Nominal Kenaikan: Tidak Ada (–)

Kendati wilayah Aceh Tenggara menunjukkan grafik pertumbuhan yang positif, kawasan tetangga seperti Gayo Lues diinformasikan masih belum bergerak. 

Di Kabupaten Gayo Lues, harga bahan baku biji kakao kering terpantau masih ajek di posisi Rp40.000 per kilogram tanpa memperlihatkan adanya pergeseran yang signifikan.

Kesenjangan pergerakan nilai transaksional antardaerah ini secara umum dipicu oleh jalur distribusi, ongkos logistik pengapalan, hingga indikator mutu kadar air dari biji cokelat yang diproduksi oleh tiap-tiap kelompok petani.

Secara historis, angka jual untuk komoditas ini sempat menorehkan rekor yang amat luar biasa di wilayah gugusan pegunungan Aceh. Harga produk kakao pada tingkat petani di Aceh Tenggara bahkan diinformasikan sempat menembus titik puncaknya hingga Rp170.000 per kilogram.

Kemerosotan dari level tertinggi tersebut sampai ke posisi saat ini distimulasi oleh volatilitas pasokan serta proyeksi komersial kakao di kancah global. 

Variabel anomali cuaca ekstrem serta tingginya tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan (hama) kerap kali menjadi jangkar utama tidak menentunya volume panen pada sektor hulu.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika para petani kerap mempertanyakan perihal aspek yang melatarbelakangi mengapa nilai jual cokelat berfluktuasi dalam tempo yang ringkas. 

Faktor penentunya berada pada instrumen pasar internasional, di mana ketersediaan stok dari negara-negara produsen raksasa di kawasan Afrika sangat mendominasi arah indeks perdagangan.

Reporter: Ibtihal