Harga Kontrak CPO di Bursa Malaysia Melemah Hari Ini 26 Mei 2026

Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: invertor.id)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 26 Mei 2026 | 09:38:03 WIB

JAKARTA - Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) pada Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mencatatkan depresiasi pada sesi transaksi Senin (25/5/2026). 

Penurunan tersebut mematahkan reli penguatan pada sesi terdahulu lantaran tertekan oleh apresiasi mata uang Ringgit Malaysia serta koreksi harga minyak nabati pada Bursa Dalian, China.

Kemerosotan nilai komoditas tersebut melanda secara menyeluruh di berbagai tenor kontrak berjangka, sebagaimana dikutip dari Investor Daily. 

Kontrak berjangka CPO untuk masa Juni 2026 menyusut sebesar 20 Ringgit Malaysia menjadi 4.410 Ringgit Malaysia per ton, sementara untuk kontrak Juli 2026 melorot 17 Ringgit Malaysia ke posisi 4.446 Ringgit Malaysia per ton.

Tren pelemahan berlanjut pada kontrak Agustus 2026 yang mengalami koreksi 13 Ringgit Malaysia ke angka 4.473 Ringgit Malaysia per ton. 

Berikutnya, untuk kontrak September 2026 tergerus 9 Ringgit Malaysia ke level 4.493 Ringgit Malaysia per ton, disusul oleh kontrak Oktober serta November 2026 yang masing-masing terpangkas sebesar 8 Ringgit Malaysia menjadi 4.517 dan 4.544 Ringgit Malaysia per ton.

Statistik dari Tradingview memperlihatkan bahwa psikologis pasar turut terbebani oleh anjloknya harga minyak mentah dunia menuju titik terendah dalam dua pekan belakangan. 

Defisit harga minyak bumi tersebut dirangsang oleh naiknya ekspektasi pasar mengenai kans tercapainya konsensus damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, di kala pasar Chicago tengah tutup demi memperingati hari besar nasional AS.

Variabel lain yang membebani laju pergerakan harga ialah melorotnya performa ekspor komoditas kelapa sawit. Menilik data dari surveyor kargo, kuantitas pengapalan minyak sawit di sepanjang rentang 1 sampai 20 Mei membukukan penciutan berkisar antara 13,9 persen hingga 20,5 persen bila disandingkan dengan perolehan pada periode April.

Situasi pasar kian tertekan oleh menyusutnya angka permintaan dari India yang memegang predikat sebagai negara importir minyak sawit terbesar di dunia. 

Kuantitas impor minyak sawit India pada bulan April diinformasikan anjlok 26 persen menuju level terendah dalam kurun empat bulan terakhir akibat meredupnya serapan institusi serta kian sempitnya selisih diskon harga komoditas terkait.

Meskipun begitu, arus penurunan harga CPO ini sedikit tertahan berkat adanya proyeksi pengetatan regulasi ekspor dari Indonesia sebagai negara produsen terbesar global secara gradual pada Juni hingga Agustus sebelum diterapkan secara total pada September nanti. 

Agenda penaikan mandatori biodiesel menjadi B50 di Indonesia per Juli serta peningkatan bauran biodiesel B15 di Malaysia pada Juni mendatang ikut membentengi harga dari koreksi yang lebih parah.

Reporter: Ibtihal