Harga Minyak Dunia Anjlok 7 Persen Seiring Optimisme Damai AS-Iran

Ilustrasi Kilang Minyak. (Foto: kompas.com)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 26 Mei 2026 | 08:35:27 WIB

NEW YORK - Nilai komoditas minyak global merosot mendekati 7% pada sesi perdagangan Senin (25/5/2026) seiring bertumbuhnya keyakinan pelaku pasar terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Pasar berpandangan bahwa kesepahaman tersebut berpeluang membuka kembali Selat Hormuz, sejalur rute krusial distribusi minyak dunia yang selama tiga bulan ke belakang terhambat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. 

Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak Brent merosot US$ 7,24 atau nyaris 7% ke posisi US$ 96,30 per barel. Di waktu yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS jatuh US$ 6,30 atau 6,5% ke angka US$ 90,88 per barel.

Koreksi tajam pada harga minyak terjadi usai utusan utama serta Menteri Luar Negeri Iran melangsungkan diskusi di Doha, Qatar, guna membahas prospek kesepakatan dengan pihak AS demi menyudahi pertempuran yang telah bergolak selama tiga bulan terakhir. 

Kedua belah pihak dikabarkan mencatat kemajuan dalam menyusun rancangan nota kesepahaman yang dapat menjeda konflik sekaligus memberikan tenggat waktu 60 hari bagi para juru runding untuk mematangkan kesepakatan akhir.

Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, mengutarakan bahwa pasar mulai mengalkulasi peluang kembalinya suplai energi dari kawasan Teluk.

"Meski belum final, pasar mulai berharap distribusi minyak melalui Selat Hormuz bisa kembali berjalan," ujarnya.

Selat Hormuz sendiri merupakan rute strategis yang melayani sekitar seperlima dari total pasokan minyak global. Kendala operasional di kawasan tersebut selama beberapa bulan belakangan sempat memicu lonjakan harga energi dunia dipicu kecemasan atas kelangkaan suplai.

Kendati demikian, sejumlah pengamat mengimbau pelaku pasar agar tidak terburu-buru larut dalam euforia. 

Pendiri Commodity Context, Rory Johnston, berpandangan bahwa dinamika diplomasi AS-Iran pada waktu-waktu sebelumnya juga sempat beberapa kali mendekati titik temu sebelum akhirnya kandas di fase akhir.

"Kami sudah beberapa kali melihat negosiasi mendekati kesepakatan lalu runtuh di detail terakhir, sementara Selat Hormuz tetap tertutup," kata Johnston.

Presiden AS Donald Trump lewat pernyataannya di Truth Social menyebutkan bahwa pembicaraan dengan pihak Iran menunjukkan perkembangan bagus. Meski begitu, dirinya juga melempar peringatan terkait potensi gempuran baru andai dialog tersebut berujung kegagalan. 

Trump pun mendorong agar lebih banyak negara Arab serta mayoritas Muslim bersedia ikut serta dalam Abraham Accords, sebuah kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel yang dijembatani AS pada periode pertama kepemimpinannya.

Menurut pandangan Flynn, seandainya rekonsiliasi damai benar-benar terwujud dan ketegangan geopolitik menyusut, premi risiko pada pasar minyak di Timur Tengah berpotensi melorot secara signifikan. 

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa fokus pembicaraan saat ini baru sebatas pada penghentian konflik bersenjata dan belum menyentuh persoalan nuklir.

Kendati hilal perdamaian mulai tampak, para analis memperkirakan pemulihan rantai pasok minyak global tidak dapat terjadi secara instan. 

Sarana dan infrastruktur energi di wilayah terdampak dinilai masih memerlukan waktu hingga berbulan-bulan untuk beroperasi normal kembali.

Analis Sparta Commodities, June Goh, menyebutkan bahwa defisit pasokan minyak dunia yang berada di kisaran 10 juta hingga 11 juta barel per hari tidak akan langsung teratasi seketika walaupun kesepakatan damai disetujui.

"Pasar masih akan mengandalkan cadangan minyak hingga produksi Timur Tengah benar-benar pulih, dan itu bisa memakan waktu berbulan-bulan," ujarnya.

Senada dengan hal itu, analis UBS Giovanni Staunovo menilai pelaku pasar harus tetap mencermati situasi pergerakan fisik minyak di area riil lantaran aktivitas logistik melewati Selat Hormuz sejauh ini terpantau masih terbatas. 

Berdasarkan data pelacakan armada laut, sejumlah kapal tanker pengangkut gas alam cair mulai terlihat menyeberangi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir menuju Pakistan, China, dan India. 

Bukan hanya itu, satu unit supertanker bermuatan minyak mentah asal Irak dengan tujuan China dilaporkan juga telah berhasil berlayar keluar setelah sempat tertahan hampir tiga bulan.

Reporter: Ibtihal