Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Ketegangan AS dan Iran

Sabtu, 09 Mei 2026 | 08:40:55 WIB
Ilustrasi Harga minyak dunia kembali menguat tajam (Sumber Gambar: babelinsight.id)

HOUSTON – Harga minyak global sempat mengalami lonjakan hingga 3% pada transaksi Jumat (8/5/2026) waktu setempat, menyusul aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di wilayah Teluk. 

Meski demikian, kenaikan tersebut perlahan menyusut lantaran pelaku pasar berharap konflik tidak makin meluas dan operasional pelayaran di Selat Hormuz segera pulih.

Melansir data Reuters, harga minyak Brent berakhir naik US$ 1,23 (1,23%) ke angka US$ 101,29 per barel, setelah sebelumnya sempat melesat sekitar 3% pada perdagangan intraday. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 61 sen (0,64%) menjadi US$ 95,42 per barel.

Walaupun ditutup di zona hijau, kedua kontrak minyak tersebut masih mengalami koreksi mingguan lebih dari 6% karena pasar masih dihantui oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Mitra Again Capital, John Kilduff, menyebutkan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat fluktuatif karena investor tengah mempertimbangkan peluang perdamaian sekaligus risiko pecahnya konflik besar.

“Kami berada di ambang terobosan negosiasi atau justru di ambang pecahnya kembali pertempuran. Situasi seperti ini sudah sering terjadi,” kata Kilduff.

Ia berpendapat bahwa pasar masih menaruh harapan pada kesepakatan awal yang bisa membuka ruang bagi negosiasi lanjutan selama 30 hari antara pihak AS dan Iran.

Sepanjang sesi perdagangan, harga minyak bergerak fluktuatif merespons perkembangan terkini di Timur Tengah serta pernyataan resmi dari pejabat kedua negara.

Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, mengamati bahwa pasar sangat peka terhadap informasi terkait perselisihan AS-Iran. 

“Pasar masih terus dimainkan oleh arus berita. Pergerakan kapal di Teluk Persia sejauh ini masih berlangsung relatif normal,” tutur Flynn.

Tensi kembali meninggi setelah militer AS dan Iran terlibat bentrokan di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) pun dikabarkan kembali menjadi target serangan di saat Washington tengah menanti tanggapan Teheran mengenai proposal penghentian konflik. Perseteruan ini diawali oleh serangan udara gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata masih berjalan dan berupaya menenangkan pasar. Namun pada Jumat, Trump kembali memberikan ultimatum agar Iran menyudahi ambisi nuklirnya.

Pasar Masih Waspada Analis PVM Oil Associates, John Evans, menilai dampak jangka panjang terhadap pasokan minyak mentah dunia masih sulit diprediksi sebelum ada solusi permanen.

“Seberapa cepat pasokan minyak dari negara-negara Teluk bisa kembali normal, bagaimana kondisi persediaan menjelang musim puncak konsumsi bensin, hingga seperti apa sanksi pascaperdamaian, semuanya masih belum jelas,” jelas Evans.

Sementara itu, Vandana Hari selaku pendiri Vanda Insights menilai pasar bersikap terlalu optimis mengenai kemungkinan meredanya konflik. “Pemerintah AS terus membesar-besarkan peluang terciptanya perdamaian dan pasar cenderung mempercayainya,” ucap Hari.

Di tengah situasi tersebut, Reuters melaporkan bahwa CFTC AS sedang mengusut transaksi minyak senilai US$ 7 miliar yang dilakukan menjelang pengumuman penting Trump terkait perang Iran. 

Mayoritas transaksi itu berupa posisi short di bursa ICE dan CME, yang dilakukan sebelum adanya pengumuman penundaan serangan atau gencatan senjata yang memicu penurunan harga minyak.

Terkini