JAKARTA – Nilai tukar Bitcoin kembali mengalami tren penurunan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik dunia yang semakin memanas.
Kondisi pasar aset kripto saat ini sangat dipengaruhi oleh perilaku para pemodal yang cenderung menjauhi aset berisiko setelah pihak Iran menolak tawaran perdamaian yang diajukan Amerika Serikat terkait pertikaian di wilayah Teluk.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap, harga Bitcoin sempat menyusut 2,28% dalam kurun waktu 24 jam terakhir menuju level US$ 79.637,54. Sementara itu, sampai dengan pukul 18.00 WIB pada hari Jumat (8/5/2026), Bitcoin terpantau berada di angka US$ 80.201 atau mengalami pelemahan sebesar 0,75%.
Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, memberikan pandangan bahwa tekanan yang menimpa Bitcoin saat ini lebih disebabkan oleh faktor makroekonomi dan kondisi geopolitik ketimbang fundamental internal dari industri kripto itu sendiri.
Menurut pendapatnya, kenaikan risiko geopolitik di tingkat global memicu sentimen risk-off di pasar keuangan, yang membuat investor memilih untuk membatasi kepemilikan mereka pada aset berisiko, termasuk mata uang kripto.
“Penurunan Bitcoin ke area US$ 79.000 lebih disebabkan oleh lonjakan risiko geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Ini memicu sentimen risk-off di pasar global, sehingga investor cenderung keluar sementara dari aset berisiko, termasuk kripto,” ungkap Fyqieh dalam keterangan resminya pada Jumat (8/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dalam periode 24 jam terakhir, Bitcoin memperlihatkan korelasi yang terhitung kuat dengan indeks S&P 500 sebesar 76% serta dengan emas sebesar 59%.
Hal ini menandakan bahwa pergerakan di pasar kripto kini semakin berkaitan erat dengan sentimen global serta dinamika yang terjadi di pasar keuangan konvensional.
Likuidasi Long dan Arus Keluar ETF Tekan Bitcoin
Selain persoalan geopolitik, merosotnya harga Bitcoin juga diperparah oleh besarnya nilai likuidasi posisi long di pasar derivatif.
Fyqieh memaparkan bahwa terdapat sekitar US$ 97,53 juta posisi Bitcoin yang terlikuidasi dalam sehari terakhir, di mana sebagian besar berasal dari para pelaku pasar yang memanfaatkan leverage tinggi pada posisi long.
“Aksi jual yang terjadi bukan hanya berasal dari pasar spot, tetapi juga diperparah oleh likuidasi di pasar derivatif. Ketika banyak posisi long menggunakan leverage tinggi, penurunan harga kecil saja bisa memicu likuidasi berantai dan mempercepat tekanan jual,” jelas Fyqieh, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, produk ETF Bitcoin spot di wilayah Amerika Serikat turut mencatatkan arus keluar bersih (net outflow) mencapai sekitar US$ 268,5 juta pada tanggal 8 Mei 2026.
Penarikan dana tersebut menggambarkan sikap waspada dari investor institusi terhadap aset digital di tengah situasi ketidakpastian global yang terjadi.
Support Bitcoin di US$ 78.000 Jadi Penentu
Dilihat dari sisi teknikal, sebelumnya Bitcoin tidak berhasil menembus zona resistance pada level US$ 82.800. Saat ini, zona support krusial berada pada rentang harga US$ 78.500 sampai US$ 78.000.
Jika level ini sanggup dipertahankan, maka peluang untuk kembali menguat (rebound) menuju US$ 82.800 masih terbuka lebar. Namun, apabila harga penutupan harian berada di bawah US$ 78.000, maka ancaman koreksi lebih lanjut ke arah US$ 76.300 akan semakin nyata.
“Area US$ 78.500 sampai US$ 78.000 menjadi zona yang sangat krusial untuk Bitcoin dalam jangka pendek. Selama level ini bertahan, peluang rebound ke US$ 82.800 masih terbuka. Tetapi jika tembus ke bawah, pasar bisa melihat koreksi lanjutan ke area US$ 76.300,” tutur Fyqieh, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Aliran Dana Institusional Masih Kuat
Walaupun tengah mendapatkan tekanan dalam waktu dekat, pihak Tokocrypto menilai bahwa struktur pasar Bitcoin belum sepenuhnya bergeser ke arah bearish.
Dalam beberapa bulan terakhir, minat dari pemodal institusi terhadap Bitcoin terpantau masih cukup tinggi. Pada bulan April 2026, net inflow ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat menyentuh angka US$ 2,44 miliar, yang menjadi pencapaian tertinggi sepanjang tahun ini.
Secara keseluruhan sejak awal tahun 2024, total dana masuk ke ETF Bitcoin spot telah menembus US$ 58,5 miliar dengan total dana kelolaan mencapai sekitar US$ 102 miliar.
Kedepannya, para pelaku pasar masih memantau beberapa sentimen utama, mulai dari perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, data mingguan aliran dana ETF, hingga arah kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Selain itu, diskusi mengenai regulasi aset digital di Amerika Serikat juga menjadi pusat perhatian pemodal.
Salah satu yang dinanti adalah Digital Asset Market Clarity Act atau CLARITY yang direncanakan masuk dalam agenda pemungutan suara di Senat Amerika Serikat pada bulan Juni 2026.
Fyqieh menilai bahwa adanya aturan yang lebih gamblang dapat meningkatkan rasa percaya investor institusi terhadap pasar aset digital.
“Kejelasan regulasi akan menjadi salah satu katalis penting untuk pasar kripto. Jika aturan semakin jelas, investor institusi akan lebih percaya diri masuk ke aset digital karena risiko regulasi menjadi lebih terukur,” tambah Fyqieh, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Proyeksi Harga Bitcoin Selanjutnya
Untuk pergerakan jangka pendek, Bitcoin dianggap perlu kembali melewati dan bertahan di atas level US$ 82.000 demi membuka peluang penguatan lanjutan.
Jika tren positif kembali terbangun, target teknikal selanjutnya diperkirakan berada pada kisaran US$ 90.000 sampai US$ 98.000.
Meski demikian, para investor tetap dihimbau untuk waspada terhadap risiko koreksi jika ketegangan geopolitik dunia terus meningkat atau jika The Fed tetap menjalankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama dari estimasi pasar.
“Bitcoin mulai menunjukkan struktur pasar yang lebih sehat dibanding beberapa bulan lalu, tetapi belum masuk fase aman sepenuhnya. Momentum bullish mulai terbentuk, likuiditas mulai kembali, namun pasar masih sangat bergantung pada kondisi makro dan geopolitik global,” tutup Fyqieh, sebagaimana dilansir dari berita sumber.