Laba Charoen Pokphand Naik 67,72 Persen, Cek Rekomendasi Saham CPIN

Sabtu, 09 Mei 2026 | 08:40:55 WIB
Charoen Pokphand Indonesia./Charoen (Foto: net)

JAKARTA – Performa keuangan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) memperlihatkan pertumbuhan yang kokoh sepanjang kuartal I-2026, yang ditandai dengan peningkatan nilai penjualan serta perolehan laba bersih.

Berdasarkan laporan keuangannya, nilai penjualan bersih CPIN mencapai Rp 19,95 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 12,69% secara tahunan (year on year/yoy) jika dibandingkan dengan periode yang sama sebelumnya yang bernilai Rp 17,7 triliun.

Beriringan dengan kenaikan tersebut, beban pokok penjualan juga turut merangkak naik menjadi Rp 15,49 triliun dari angka sebelumnya Rp 14,57 triliun. Walau demikian, laba bruto perusahaan tetap mencatatkan peningkatan yang berarti menjadi Rp 4,46 triliun, dari Rp 3,13 triliun pada tahun lalu.

Pada aspek operasional, beban penjualan naik ke angka Rp 578,93 miliar, sementara beban umum dan administrasi menjadi Rp 573,42 miliar. Di lain pihak, perseroan membukukan penghasilan operasi lain sebesar Rp 69,12 miliar, meski terdapat beban operasi lain senilai Rp 20,54 miliar.

Hal tersebut membuat laba usaha perusahaan melesat menjadi Rp 3,43 triliun dari posisi Rp 2,10 triliun pada periode sebelumnya. 

Setelah dikurangi beban keuangan sebesar Rp 104,63 miliar, ditambah laba selisih kurs Rp 10,78 miliar, serta penghasilan keuangan Rp 38,19 miliar, laba sebelum pajak penghasilan berada di angka Rp 3,38 triliun, naik dari Rp 1,99 triliun.

Sementara itu, beban pajak penghasilan meningkat menjadi Rp 801,63 miliar, sehingga laba periode berjalan terkumpul sebesar Rp 2,58 triliun, tumbuh dari Rp 1,54 triliun pada tahun sebelumnya.

Selain itu, CPIN mencatatkan penghasilan komprehensif lain dari pengukuran kembali liabilitas imbalan kerja senilai Rp 2,06 miliar. Dengan perhitungan tersebut, total penghasilan komprehensif periode berjalan menembus Rp 2,58 triliun.

Dilihat dari sisi bottom line, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih CPIN menyentuh Rp 2,57 triliun, atau meroket 67,72% yoy dari sebelumnya Rp 1,53 triliun.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, berpendapat bahwa performa solid CPIN pada kuartal I-2026 didorong oleh perpaduan antara kenaikan harga jual ayam serta perbaikan volume penjualan. Situasi ini selaras dengan pulihnya keseimbangan antara stok dan permintaan di sektor perunggasan.

"Prospek hingga akhir tahun cenderung positif dengan potensi pertumbuhan berlanjut, didukung stabilnya harga ayam dan efisiensi biaya," kata Azis, Rabu (6/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Namun, di sisi lain tetap terdapat risiko yang perlu dicermati, seperti depresiasi nilai tukar rupiah yang berpotensi memicu kenaikan biaya bahan pakan seperti soybean meal (SBM).

Dari aspek pergerakan saham, Azis menilai valuasi CPIN saat ini berada di bawah minus dua standar deviasi (SD-2) secara price to earnings ratio (P/E), sehingga masuk dalam kategori murah atau undervalued.

"Dengan perbaikan kinerja yang terjadi, saham CPIN dinilai memiliki peluang untuk mengalami rebound secara teknikal," tambah Azis, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memandang bahwa pertumbuhan laba dua digit CPIN didukung oleh fundamental perseroan yang kuat serta momentum kebijakan dari pemerintah.

Nafan menjelaskan bahwa CPIN secara konsisten melakukan ekspansi margin sekaligus mengoptimalkan efisiensi operasional guna mendorong pertumbuhan laba yang lebih tinggi. 

Harga bahan baku pakan yang stabil serta efisiensi biaya operasional turut menjadi faktor pendukung utama kinerja perusahaan.

Ia juga menambahkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah menjadi motor penggerak permintaan.

"Ada demand booster dari MBG," ucap Nafan kepada Kontan, Jumat (8/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berkat integrasi bisnis yang kuat dari hulu ke hilir, CPIN dianggap sebagai salah satu pihak yang paling mendapatkan keuntungan dari kenaikan volume permintaan tersebut. 

Selain itu, konsumsi masyarakat domestik terhadap protein terjangkau seperti ayam terpantau masih sangat kuat.

Walaupun prospek CPIN dipandang positif, Nafan menilai pertumbuhannya akan bersifat moderat. Keberlanjutan program MBG menjadi faktor krusial yang patut diawasi. 

Selain itu, pengendalian populasi ayam melalui kebijakan culling tetap diperlukan agar pasokan terjaga dan harga ayam hidup tetap menguntungkan peternak.

Nafan turut mengingatkan beberapa sentimen negatif yang harus diwaspadai, di antaranya pelemahan rupiah serta kenaikan biaya logistik dan distribusi yang dapat menambah beban operasional perseroan.

Nafan memberikan saran kepada investor untuk melakukan akumulasi beli saham CPIN dengan target harga Rp 5.150 per saham. Sementara itu, Azis memberikan rekomendasi trading buy untuk saham CPIN dengan target harga pada level Rp 4.400.

Terkini