BPS Catat Harga Beras Mei 2026 Naik di Semua Rantai Distribusi

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 04 Juni 2026
BPS Catat Harga Beras Mei 2026 Naik di Semua Rantai Distribusi
Ilustrasi Beras. (Foto: Tempo)

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan laporan bahwa nilai jual komoditas beras merangkak naik di setiap lini rantai penyaluran sepanjang bulan Mei 2026, berawal dari sektor penggilingan, pedagang besar (grosir), sampai ke tingkat pengecer. 

Akselerasi kenaikan paling tinggi dideteksi pada produk beras kualitas premium di lini penggilingan yang melompat hingga 12,81 persen dihitung secara tahunan (year on year/yoy).

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini memaparkan, nominal rata-rata untuk harga beras di lini penggilingan menyentuh angka Rp13.765 tiap kilogram pada Mei 2026.

“Rata-rata harga beras di penggilingan pada Mei 2026 secara total naik 0,58 persen secara bulanan dan naik 8,10 persen secara tahunan,” kata Pudji dalam konferensi pers BPS, pada Selasa (02/06/2026).

Berikut merupakan rincian pergerakan rata-rata harga beras untuk periode Mei 2026 berdasarkan tingkat distribusi dan kualitasnya yang disajikan dalam bentuk poin list ke bawah:

  • Penggilingan (Total) -> Harga per Kilogram: Rp13.765 | Kenaikan Bulanan: 0,58% | Kenaikan Tahunan: 8,10%
  • Beras Premium (Penggilingan) -> Kenaikan Bulanan: 0,56% | Kenaikan Tahunan: 12,81%
  • Beras Medium (Penggilingan) -> Kenaikan Bulanan: 0,79% | Kenaikan Tahunan: 6,57%
  • Tingkat Grosir -> Harga per Kilogram: Rp14.574 | Kenaikan Bulanan: 0,68% | Kenaikan Tahunan: 6,11%
  • Tingkat Eceran -> Harga per Kilogram: Rp15.358 | Kenaikan Bulanan: 0,38% | Kenaikan Tahunan: 4,55%

Beras Premium Catat Kenaikan Tertinggi

Publikasi data dari BPS memperlihatkan bahwa peningkatan nilai jual melanda seluruh rantai pasok beras pada Mei 2026. 

Ditinjau dari aspek mutu produk, beras dengan kualifikasi premium mengukuhkan diri sebagai varian dengan lonjakan tahunan paling agresif jika disandingkan dengan jenis beras lainnya.

Di waktu yang bersamaan, tren apresiasi harga yang merembet ke sektor grosir hingga pasar eceran mengindikasikan bahwa tekanan inflasi harga pangan masih terus membebani dompet konsumen akhir.

Pihak BPS turut memberikan catatan bahwa grafik perkembangan harga beras di beraneka tingkatan niaga konsisten merangkak ke atas dalam rentang waktu beberapa tahun belakangan.

Berdasarkan penjelasan Pudji, statistik harga yang dipaparkan tersebut berstatus sebagai nilai rata-rata berskala nasional yang menghimpun seluruh kualifikasi mutu beras dari segenap wilayah tanah air.

“Harga beras yang kami sampaikan merupakan rata-rata harga beras yang mencakup semua jenis kualitas dan seluruh wilayah di Indonesia,” ujarnya.

Gejolak kenaikan harga beras ini secara langsung ikut andil dalam menyumbang andil terhadap angka inflasi domestik pada bulan Mei 2026. 

Catatan dari BPS mengemukakan inflasi untuk basis bulanan menyentuh angka 0,28 persen, sedangkan untuk perhitungan inflasi tahunan berada pada level 3,08 persen.

Jika dibedah dalam klaster makanan, minuman, dan tembakau, komoditas beras bertindak selaku salah satu pemicu utama yang mengerek laju inflasi bersama-sama dengan komoditas cabai merah, minyak goreng, bawang merah, serta tomat.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras,” kata Pudji.

Dalam kalkulasi BPS, sumbangsih beras terhadap catatan inflasi nasional berada pada porsi sebesar 0,02 persen pada Mei 2026.

Produksi Beras Diproyeksikan Turun

Dari sudut pandang pasokan, BPS memberikan estimasi bahwa total hasil panen beras domestik untuk rentang waktu Januari sampai Juli 2026 akan bertengger di angka 21,95 juta ton. 

Capaian kuantitas tersebut terhitung sedikit lebih menciut bila disandingkan dengan durasi waktu yang sama di tahun sebelumnya yang mampu menembus kisaran 22,03 juta ton.

Khusus untuk jendela waktu Mei hingga Juli 2026, volume produksi beras diprediksi hanya akan menyentuh 7,92 juta ton, atau mengalami kemerosotan sebesar 1,16 persen jika dikomparasikan dengan tahun lalu.

Merujuk pemaparan Pudji, penyusutan hasil produksi ini berbanding lurus dengan menyusutnya cakupan area panen tanaman padi di sejumlah wilayah yang menjadi lumbung padi nasional.

“Penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya luas panen pada bulan yang sama,” pungkasnya.

Walau ada penurunan, total cakupan luas panen padi secara akumulatif semenjak Januari sampai Juli 2026 diproyeksikan tetap memperlihatkan pertumbuhan tipis di kisaran angka 0,02 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua