Harga Beras di Lumajang Turun, Cabai Rawit Naik Tembus Rp90.000
LUMAJANG — Grafik harga komoditas beras di wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terdeteksi kokoh bahkan memperlihatkan tren melandai di kala mata uang rupiah sedang terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat.
Hasil pengamatan di kawasan Pasar Baru Lumajang pada Kamis (4/6/2026) mendapati bahwa tarif beras kualitas medium konsisten bertahan pada angka Rp 11.700 per kilogram.
Di lain pihak, nilai jual beras kualitas premium justru menyusut tipis dari semula Rp 14.500 kini menjadi Rp 14.300 tiap kilogramnya.
Bukan cuma beras, harga komoditas minyak goreng pun terpantau belum menunjukkan adanya pergeseran nilai. Produk Minyakita konsisten dipasarkan seharga Rp 16.800 per liter, minyak goreng jenis curah dipatok Rp 18.700 per kilogram, serta varian kemasan premium dilepas Rp 18.000 per liter.
"Kalau sembako kayak beras, gula, dan minyak harganya masih normal, yang naik itu sayur cabai, ayam," kata Fitri, pedagang di Pasar Baru Lumajang.
Cabai Rawit Naik Rp 90.000 per Kilogram
Berbanding terbalik dengan rumpun kebutuhan pokok lain, komoditas cabai justru mengalami lonjakan nilai jual selama kurun waktu beberapa hari ke belakang.
Harga untuk jenis cabai rawit merah melambung dari Rp 73.000 menjadi Rp 90.000 per kilogram.
Selanjutnya, varian cabai merah besar terkerek naik dari Rp 40.000 menuju Rp 45.000 tiap kilogram, sementara komoditas cabai merah keriting merangkak dari Rp 40.000 ke posisi Rp 42.000 per kilogram.
Gejolak kenaikan harga ini seketika memicu keluhan dari kalangan konsumen yang berbelanja di Pasar Baru Lumajang.
"Sekarang semua mahal, cabai mahal, beli Rp 10.000 cuma dapat sedikit, paling bisa buat masak sekali," ujar Rofi, salah seorang pembeli.
Pasokan LPG 3 Kilogram Ditambah
Di tempat terpisah, Pelaksana Harian Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Lumajang, Aksanul Inam, memberikan kepastian bahwa ketersediaan stok LPG ukuran 3 kilogram di areanya berada dalam kondisi aman untuk menyokong keperluan warga.
Menurut keterangannya, pihak Pertamina Patra Niaga mengucurkan ekstra alokasi tabung gas melon tersebut hingga menyentuh 60.480 tabung atau setara dengan 181 metrik ton. Volume tambahan ini melonjak kisaran 150 persen jika dikomparasikan terhadap angka keperluan harian reguler yang rata-ratanya bertengger di level 40.296 tabung atau setara 121 metrik ton.
Aksanul memaparkan bahwa penebalan pasokan ini didistribusikan guna memitigasi potensi lonjakan permintaan mendekati momentum Hari Raya Idul Adha, yang biasanya dibarengi dengan naiknya intensitas aktivitas dapur warga serta penyelenggaraan aneka perhelatan adat.
"Pada saat Idul Adha kebutuhan LPG memang meningkat karena masyarakat memasak daging kurban dalam jumlah besar. Selain itu juga banyak kegiatan hajatan seperti pernikahan, selamatan, maupun acara keluarga lainnya," ujarnya.