Daftar Saham HSC Memanjang, Saham Ini Dinilai Masih Aman Dilirik
JAKARTA - Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan saham PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) ke dalam golongan saham berkarakteristik kepemilikan terkonsentrasi tinggi (high shareholding concentration).
"Berdasarkan metodologi penentuan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atas struktur kepemilikan saham berbentuk warkat dan tanpa warkat per 25 Mei 2026, saham TCPI dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 94,10% dari total saham TCPI," jelas Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Kristian S.
Manullang dalam keterbukaan informasi Jumat (29/5/2026). Melalui bergabungnya TCPI, jajaran saham dengan predikat HSC di lantai bursa kian bertambah banyak.
Sebelumnya, beberapa emiten yang sudah lebih dahulu menghuni golongan tersebut di antaranya adalah PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), PT Ifishdeco Tbk (IFSH), PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK), PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), serta PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA).
Pengamat pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto berpendapat, ditetapkannya suatu saham masuk kriteria HSC tidak menjadi kabar buruk untuk emiten yang bersangkutan.
Berdasarkan pandangannya, predikat HSC cuma mengakibatkan saham tersebut tidak lolos kriteria untuk disertakan ke dalam indeks MSCI akibat dari syarat free float paling sedikit sebesar 15%.
Walaupun begitu, deretan saham dalam kelompok HSC ini dinilai tetap mempunyai pesona serta arah pergerakan khas tersendiri tanpa perlu bersandar pada status keanggotaan di indeks internasional tertentu.
"Saham-saham grup Prajogo Pangestu rata-rata turun kemarin bukan karena alasan masuk ke HSC, tapi karena keluar dari indeks MSCI sehingga institusi mengurangi posisi dan meningkatkan tekanan jual karena pengurangan posisi tersebut," kata William, Senin (1/6/2026).
Menilik dari sudut pandang teknikal, William mencermati pergerakan saham LUCY, MGLV, ROCK, dan BREN sekarang ini masih berada pada koridor yang cukup aman dan cuma mencatatkan penurunan harga yang wajar.
Secara spesifik untuk saham BREN, dirinya beranggapan ketertarikan penanam modal asing terpantau masih relatif tinggi.
Kondisi tersebut ditunjukkan melalui intensitas perdagangan pada Jumat pekan lalu yang membukukan angka aksi beli bersih oleh asing menyentuh kisaran Rp 1,9 triliun.
Kendati secara akumulatif totalnya masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell), nominalnya terpantau telah sangat menyusut apabila dikomparasikan dengan masa-masa mendekati momen penataan ulang (rebalancing) indeks MSCI.
"Perlu diketahui BEI menyatakan saham HSC bukan bentuk pelanggaran, tetapi HSC juga merupakan nama lain dari saham minim likuiditas, sehingga melakukan transaksi di saham-saham seperti ini berisiko likuiditasnya saja, misalnya sudah beli banyak tapi nanti mungkin agak susah untuk dijual kembali, selebihnya pelaku pasar bisa tetap mengikuti tren dan aksi korporasi masing-masing," tutupnya.