Rambah Bisnis Teknologi, Grup Triputra ASSA Incar Lini IoT Logistik

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 15 Juni 2026
Rambah Bisnis Teknologi, Grup Triputra ASSA Incar Lini IoT Logistik
Jasa penyewaan kendaraan dan logistik PT Adi Sarana Transportasi Tbk (ASSA). [FOTO : NET].

JAKARTA — Emiten transportasi dan logistik dari Grup Triputra, PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA), berencana memperlebar lini bisnisnya ke sektor teknologi informasi lewat pengembangan solusi digital bagi industri transportasi dan logistik. 

Manajemen ASSA bakal meminta persetujuan dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 17 Juni 2026 mendatang guna menambah empat kegiatan usaha baru yang berhubungan dengan teknologi informasi serta digitalisasi operasional.

Keempat bidang usaha baru tersebut mencakup Aktivitas Pemrograman Komputer Lainnya (KBLI 62199), Aktivitas Penerbitan Perangkat Lunak atau software (KBLI 58290), Aktivitas Konsultasi dan Perancangan Internet of Things (IoT) (KBLI 62204), serta Aktivitas Jasa Sistem Komunikasi Data (KBLI 61105).

Corporate Secretary Adi Sarana Armada Jerry Fandy Tunjungan menjelaskan bahwa penambahan kegiatan usaha ini dilakukan guna menyokong pengembangan bisnis Transportation Management System (TMS) Integrated Solution yang tengah dipersiapkan oleh perseroan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Perseroan merencanakan pengembangan bisnis Transportation Management System (TMS) Integrated Solution, yaitu suatu solusi berbasis teknologi yang dirancang untuk mengintegrasikan proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan penyelesaian administrasi transportasi dalam satu sistem terpadu," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Minggu (14/6/2026).

Menurut manajemen ASSA, industri transportasi dan logistik di dalam negeri sedang mengalami transformasi seiring dengan pertumbuhan e-commerce, meningkatnya kompleksitas rantai pasok, serta tuntutan efisiensi ongkos dan transparansi operasional. 

Perseroan menilai tantangan industri saat ini tidak lagi sekadar berkaitan dengan ketersediaan armada serta infrastruktur fisik, melainkan pada kecakapan dalam mengelola informasi operasional secara terpadu dan berbasis data.

Dalam praktiknya, proses penentuan rute, pemantauan pengiriman, pengendalian tingkat layanan (service level agreement atau SLA), rekonsiliasi biaya transportasi hingga laporan kinerja masih sering dijalankan secara terpisah dengan tingkat otomatisasi yang terbatas. 

Keadaan ini dianggap berpotensi memicu inefisiensi operasional serta menghambat proses pengambilan keputusan bisnis.

Lewat TMS, ASSA ingin menghadirkan sistem yang memadukan seluruh proses logistik mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai penyelesaian administrasi ke dalam satu platform tunggal.

 Selain menjual perangkat lunak, ASSA juga bakal menyediakan layanan business process outsourcing (BPO) yang meliputi manajemen pesanan, penugasan pengiriman (dispatching), pemantauan distribusi, proses penagihan hingga penyelesaian administrasi klien. 

Perseroan juga membangun layanan control tower sebagai pusat kendali operasional yang bertugas memantau pengiriman secara real-time, mengendalikan SLA, serta mengatasi potensi kendala operasional secara proaktif.

Untuk memperkuat transparansi operasional, ASSA akan menyatukan teknologi Internet of Things (IoT) ke dalam platform TMS tersebut. 

Teknologi ini memungkinkan perusahaan mendapatkan data lapangan secara langsung, mulai dari posisi armada berbasis GPS, suhu dan kelembapan untuk distribusi rantai dingin (cold chain), perilaku pengemudi hingga data telematika kendaraan. 

Seluruh data itu bakal terhubung dengan sistem TMS guna mendukung pelacakan pengiriman, estimasi waktu tiba (estimated time of arrival/ETA), pengendalian kepatuhan layanan, hingga analisis performa berbasis data.

Perseroan memaparkan bahwa TMS pada awalnya akan dipakai sebagai sistem inti (core system) untuk menyokong operasional internal ASSA dan melayani keperluan pelanggan yang sudah ada. 

Namun, platform ini juga dirancang untuk dipasarkan kepada korporasi eksternal dari bermacam sektor industri. 

Melalui ekspansi ke bisnis teknologi ini, ASSA berharap mampu menaikkan efisiensi operasional, memperluas portofolio layanan bernilai tambah, serta menghasilkan sumber pendapatan berulang (recurring income) dengan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Berdasarkan studi kelayakan yang digarap oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) RSR, pengembangan bisnis TMS ini dinilai layak untuk dieksekusi. 

Proyek tersebut diestimasi menghasilkan net present value (NPV) senilai Rp12,62 miliar, internal rate of return (IRR) mencapai 41,93%, serta periode pengembalian modal (payback period) sekitar 4 tahun 8 bulan. 

Manajemen menilai penambahan kegiatan usaha ini telah diperhitungkan secara matang dalam rencana bisnis perseroan dan berpotensi menyumbang kontribusi positif terhadap kinerja keuangan di masa depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua