BI dan Bank Sentral China Sepakati 6 Poin Kerja Sama Keuangan

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 15 Juni 2026
BI dan Bank Sentral China Sepakati 6 Poin Kerja Sama Keuangan
Foto: Gubernur Perry Warjiyo dan Gubernur Pan Gongsheng menjalin kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara BI dan PBOC. (Dok. Bank Indonesia)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) bersama People's Bank of China (PBOC) menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi atau high level meeting (HLM) Joint Work Program pada minggu kemarin, tepatnya 11 Juni 2026, di Shanghai, Tiongkok. 

Pertemuan yang dihadiri langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBOC Pan Gongsheng tersebut menghasilkan enam poin kesepakatan krusial.

  • Poin pertama meliputi langkah sinergi dalam memperkuat ketahanan finansial di masing-masing negara, sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas keuangan di kawasan regional yang lebih luas.

Langkah kerja sama ini juga dimaksudkan untuk mendukung komitmen kedua bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uang.

  • Poin kedua berkaitan dengan penjajakan untuk meningkatkan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA).

Pertemuan ini pun menegaskan kembali komitmen bersama untuk memperkuat pemanfaatan mata uang lokal dalam setiap transaksi bilateral, di samping memperkokoh sistem konektivitas pembayaran lintas batas antara Indonesia dan Tiongkok.

  • Poin ketiga, sebagaimana dilansir dari berita sumber, dalam pertemuan tersebut, Gubernur Pan Gongsheng menyampaikan bahwa Tiongkok dan Indonesia, sebagai ekonomi utama dan mitra strategis di kawasan, memiliki tanggung jawab bersama untuk memperdalam kerja sama ekonomi dan keuangan bilateral. 

Melalui penguatan kolaborasi ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemakmuran dan stabilitas di kawasan, serta menjadi fondasi kuat dalam menyokong ketahanan ekonomi bagi kedua belah negara.

  • Poin keempat, sebagaimana dilansir dari berita sumber, Perry juga menekankan bahwa ke depan kerja sama keuangan akan memperkuat transaksi mata uang lokal antara Indonesia dan Tiongkok, mengembangkan infrastruktur keuangan, serta memperluas kerja sama antarbank sentral, termasuk pembentukan RMB Clearing Bank di Indonesia.
  • Poin kelima, kedua otoritas moneter tersebut menyepakati 4 hal penting yang menjadi key deliverables dalam pertemuan ini, di antaranya yaitu:

a. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Local Currency Transaction (LCT) BI-PBOC-HKMA yang mencakup wilayah Indonesia dan Hong Kong. Kolaborasi ini berfungsi memperkuat kerangka LCT yang sudah berjalan sebelumnya guna mendorong pemakaian mata uang lokal dalam transaksi bilateral, meningkatkan efisiensi proses transaksi, dan menunjang integrasi pasar keuangan regional secara lebih mendalam.

b. Penandatanganan MoU terkait Pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia antara BI dan PBoC. Langkah ini dilakukan demi mendukung pengembangan ekosistem RMB dalam negeri melalui penyediaan likuiditas Renminbi yang mencukupi untuk keperluan perdagangan, investasi, hingga berbagai aktivitas keuangan lainnya.

c. Peresmian implementasi sistem pembayaran QR lintas batas antara Indonesia dan Tiongkok. Dengan didukung oleh kerangka LCT, inisiatif baru ini memungkinkan jalannya transaksi ritel lintas batas menjadi lebih praktis, cepat, efisien, inklusif, dan andal, sembari terus mendukung keterikatan konektivitas ekonomi digital yang lebih erat di antara kedua negara.

d. Peluncuran kepesertaan Bank Mandiri sebagai direct participant dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS). Keikutsertaan ini memiliki target untuk mengoptimalkan efisiensi proses kliring maupun penyelesaian transaksi antara Indonesia dan Tiongkok, sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur sistem pembayaran lintas negara.

  • Poin terakhir menegaskan adanya komitmen kuat dari BI dan PBOC dalam mendorong integrasi ekonomi dan keuangan melalui perluasan konektivitas sistem pembayaran serta pengembangan pasar keuangan yang lebih efisien, inklusif, dan tangguh akan semakin memperkuat stabilitas ekonomi dan ketahanan sistem keuangan di kedua negara.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua