Gelombang Panas Asia Tak Mampu Angkat Harga Batu Bara yang Lesu

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 29 Mei 2026
Gelombang Panas Asia Tak Mampu Angkat Harga Batu Bara yang Lesu
Ilustrasi batu bara. (Sumber: Bloomberg)

JAKARTA - Nilai jual batu bara melandai selaras dengan merosotnya harga minyak dunia. Sederet kabar positif bahkan terpantau tidak sanggup mendongkrak harga komoditas pasir hitam tersebut.

Mengacu data Refinitiv, harga batu bara mendarat di posisi US$ 137,5 per ton pada akhir transaksi Kamis (28/5/2026). Harganya tercatat melemah 0,5%. 

Penurunan ini memperlama tren negatifnya di mana nilai jual batu bara sudah anjlok 1,4% dalam kurun dua hari ke belakang.

Melemahnya harga batu bara tidak lepas dari merosotnya harga minyak bumi mengingat kedua jenis komoditas tersebut mempunyai sifat saling menggantikan (substitusi).

Pada sesi transaksi kemarin, harga minyak sempat tertekan setelah munculnya laporan terkait kesepakatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Harga minyak mentah WTI ditutup menguat tipis 0,3% menuju US$88,90 per barel, sedangkan Brent terpangkas 0,6% ke posisi US$93,71 per barel.

Kondisi China Masih Bikin Cemas

Insiden kecelakaan tambang batu bara di Shanxi diprediksi bakal menahan volume produksi batu bara China dalam periode pendek, sehingga menaikkan biaya operasional bagi sektor industri baja, pembangkit listrik, serta produsen bahan kimia.

Peristiwa ledakan di tambang batu bara kokas itu memicu gerakan pemeriksaan mandiri di seantero China sekaligus penghentian sementara operasional sejumlah tambang di provinsi tersebut.

Pemerintah pusat pun membentuk tim khusus guna mengevaluasi standar keselamatan tambang berskala nasional. Volume produksi batu bara di Shanxi, sebagai provinsi produsen paling jumbo di China dengan capaian output 107 juta ton pada April, diproyeksikan merosot 8% pada Mei.

Kendati demikian, pembatasan aktivitas produksi tersebut diperkirakan hanya berjalan dalam waktu singkat, kemungkinan berkisar satu minggu. 

Pengamat China Coal Transportation and Distribution Association, Li Xiaolong, mengutarakan pemerintah kemungkinan menjauhi kebijakan pembatasan secara masif menjelang masa puncak penggunaan listrik musim panas.

Shanxi memasok kisaran 1,3 miliar ton batu bara per tahun, atau menyumbang sepertiga dari total volume produksi tahunan China. 

Sekurang-kurangnya 109 tambang, yang merepresentasikan hampir 10% total tambang di provinsi itu, dikabarkan telah disetop sementara operasionalnya, mengutip data Jefferies Financial Group yang dilansir dari New Straits Times.

Area di sekitar lokasi kecelakaan tersebut merupakan sentra produksi batu bara kokas untuk keperluan industri baja. Nilai jual batu bara kokas menorehkan respons paling agresif pasca insiden tambang paling mematikan sejak 2009 itu. Kontrak berjangka batu bara kokas di Dalian melesat 11% sepanjang pekan hingga penutupan transaksi Rabu.

Walau begitu, dampaknya diproyeksikan akan diredam oleh bertambahnya pasokan dari Mongolia dan Rusia, selaku eksportir utama batu bara kokas ke China.

Gelombang Panas Musim Panas Dongkrak Permintaan

Tingkat konsumsi daya listrik di China bagian selatan menembus rekor tertinggi pada Senin, dengan puncak kebutuhan musiman hadir sekitar satu bulan lebih awal dari siklus normal. 

Indeks harga listrik spot di Guangdong, yang menjadi pusat ekonomi China, meroket 40% pekan ini.

Cuaca terik dan lembap imbas dari fenomena El Niño telah mendongkrak suhu udara serta memicu bencana banjir dan pemadaman arus listrik di beberapa area selatan China. 

Situasi ini mempersulit langkah pengamanan pasokan energi di tengah pengetatan inspeksi keselamatan tambang. Pemerintah setempat juga memberikan peringatan mengenai tingginya risiko tanah longsor, yang dapat semakin menghambat operasional pertambangan.

Hambatan produksi batu bara dalam durasi yang lebih lama dinilai bisa berimbas ke berbagai sektor industri terkait. Langkah China untuk membangkitkan kembali industri pengolahan batu bara menjadi bahan kimia, sebagai strategi mitigasi terhadap hambatan pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah, berisiko mengalami kendala.

Banyak kota besar di benua Asia mengalami suhu di atas batas normal lebih dini dari biasanya, sehingga memicu lonjakan penggunaan pendingin ruangan (AC) dan memperberat tekanan pada pasokan listrik.

Negara China, Jepang, India, Korea Selatan, hingga kawasan Asia Tenggara diproyeksikan menghadapi gelombang panas dalam durasi panjang beberapa pekan ke depan. 

Situasi ini memicu perusahaan utilitas menggenjot pemanfaatan pembangkit listrik bertenaga batu bara dan gas demi mengamankan ketersediaan energi. 

Melonjaknya permintaan daya listrik berpotensi memperketat pasar batu bara dan gas internasional yang sebelumnya telah bergejolak akibat konflik AS-Israel melawan Iran.

Walaupun sektor energi terbarukan terus mengalami pertumbuhan, batu bara masih menyumbang kisaran 52% dari pasokan listrik di Asia dan diprediksi tetap menjadi penopang utama energi kawasan dalam waktu dekat.

Investasi Batu Bara Naik

Publikasi International Energy Agency's World Energy Investment memproyeksikan investasi di sektor batu bara diperkirakan merangkak naik menjadi US$180 miliar tahun ini, tumbuh 4% dikomparasikan dengan level tahun 2025 dan menempati posisi tertinggi sejak tahun 2012.

Kawasan ekonomi Asia diprediksi menjadi penanam modal terbesar di sektor batu bara. 

China berkontribusi sekitar 70% dari belanja pasokan batu bara dunia, diikuti oleh India yang nilai investasinya melesat tiga kali lipat dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Negara-negara Barat pun mulai kembali mengalirkan investasi ke sektor batu bara.

Australia menggelontorkan dana investasi sebesar US$4,5 gila-gilaan untuk batu bara kokas yang dimanfaatkan dalam tanur tinggi industri baja pada tahun 2026, menempati urutan terbesar kedua setelah China yang menembus angka US$9,3miliar.

Sementara itu, AS dan Kanada mempercepat regulasi persetujuan proyek tambang batu bara baru sehingga daftar proyek di kawasan tersebut bertambah menjadi 15 tambang dengan total kapasitas gabungan mencapai 34 juta ton per tahun.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua