Saham BUMN Diproyeksi Jadi Penopang Baru IHSG Lewat Danantara
JAKARTA - Saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diproyeksi menjadi narasi baru yang menopang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di masa mendatang saat saham swasta bergerak terbatas.
Lonjakan minat pada saham pelat merah ini dipicu oleh sentimen positif terkait pembentukan BPI Danantara.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, IHSG sendiri telah merosot sebesar 28,74 persen ke level 6.162 sejak awal tahun 2026.
Pelemahan indeks komposit ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp52,49 triliun di pasar reguler, penurunan bobot di MSCI dan FTSE Russel, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Pendiri Stockwise, Andry Hakim menilai emiten yang berkaitan dengan BPI Danantara akan menggeser tren besar sebelumnya seperti bank digital dan inklusi MSCI. Pergeseran porsi investasi kini mulai diarahkan pada saham bank BUMN kategori kelas kakap serta sektor komoditas.
"Kalau saya lihat sektor yang menarik itu di bidang BUMN karena swasta lagi dijegal," kata Andry Hakim dalam Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Investor disarankan untuk mempertimbangkan eksposur pada saham BUMN komoditas maupun sektor lainnya karena dinilai memiliki prospek yang lebih menarik dibandingkan emiten swasta.
"Commodity BUMN saja, apa pun yang BUMN itu sepertinya akan menarik," tutur Andry Hakim.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah memusatkan ekspor komoditas mineral strategis melalui badan ekspor di bawah BPI Danantara mendapat sorotan tajam dari lembaga pemeringkat internasional.
S&P dan Moody's Ratings memperingatkan adanya risiko ketidakpastian yang dapat memengaruhi peringkat kredit Indonesia.
"Rencana Indonesia untuk mengendalikan pengiriman komoditas secara terpusat dapat menekan ekspor, mengurangi pendapatan pemerintah, serta memengaruhi neraca pembayaran," tulis S&P dalam laporannya yang dikutip Jumat (22/5/2026).
Lembaga pemeringkat global lainnya juga menyoroti bahwa sentralisasi ini berpotensi memberikan dampak negatif langsung terhadap profitabilitas perusahaan di sektor pertambangan.
"Moody’s memandang rencana sentralisasi ekspor komoditas Indonesia sebagai negatif bagi kredit perusahaan tambang dan meningkatkan risiko distorsi pasar," kata Moody’s dalam keterangannya.
Meskipun demikian, mekanisme satu pintu ini diproyeksi dapat memperkuat aliran masuk devisa. BPI Danantara dijadwalkan mulai memberlakukan transaksi ekspor komoditas sumber daya alam lewat platform digital pada Januari 2027.