Harga Emas Tertahan di Zona Krusial, Risiko Koreksi Kian Besar

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 25 Mei 2026
Harga Emas Tertahan di Zona Krusial, Risiko Koreksi Kian Besar
Ilustrasi Emas Batangan. (Foto: arahkita.com)

JAKARTA -  Harga emas dunia masih bertahan di area support penting setelah bergerak sideways dalam beberapa pekan terakhir. 

Namun, tekanan penurunan dinilai semakin besar seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan kekhawatiran inflasi global akibat konflik Iran. Harga emas ditutup jatuh 0,79% ke level US$ 4.509,38 per ons troi pada Jumat (22/5/2026).

Senior Technical Strategist Forex.com Michael Boutros mengatakan, pergerakan emas kini berada di titik penentu. Jika support utama jebol, harga emas berisiko mengalami koreksi lebih dalam. Sebaliknya, jika mampu bertahan, peluang rebound masih terbuka.

“Harga emas masih bergerak di dekat support penting pada area bawah range bulanan. Reaksi harga di zona ini akan menjadi penentu arah berikutnya,” tulis Boutros dalam riset teknikalnya.

Secara teknikal, Michael Boutros melanjutkan, support utama harga emas berada di kisaran US$ 4.493–4.533 per ons troi. Area tersebut merupakan kombinasi level penutupan tertinggi 2025 dan level penutupan mingguan terendah 2026.

“Jika harga emas ditutup di bawah zona itu, tekanan jual diperkirakan meningkat menuju level US$ 4.319 per ons troi hingga US$ 4.074–4.151 per ons troi,” tambah Boutros.

Sementara itu, Michael Boutros menambahkan, resistance awal harga emas berada di area US$ 4.770 per ons troi dan diperkuat level penting di US$ 4.894 per ons troi. 

Penembusan di atas area tersebut dinilai dapat membuka jalan menuju target berikutnya di US$ 5.025 hingga rekor tertinggi baru di US$ 5.279.

Data Penting AS

Michael Boutros menilai, arah harga emas pekan ini akan sangat dipengaruhi data inflasi Amerika Serikat (AS), khususnya Core Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan rilis Kamis (28/5). 

Data tersebut merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Di sisi lain, Michael Boutros mengingatkan, konflik Iran yang belum menunjukkan tanda mereda juga terus memicu kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi dan tekanan inflasi global. 

Kondisi itu membuat pelaku pasar kini memperkirakan peluang hampir 70% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini. 

Bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil, kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif karena meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS.

“Selama harga bertahan di atas US$ 4.493 per ons troi, posisi bearish masih rentan. Namun, penutupan mingguan akan menjadi kunci arah pergerakan berikutnya,” jelas Boutros.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua