Rabu, 20 Mei 2026

Hadapi Ketidakpastian Pasar, Ashmore AM Padukan Dua Strategi

Hadapi Ketidakpastian Pasar, Ashmore AM Padukan Dua Strategi
Logo PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. (Gambar: NET)

JAKARTA – Sikap berhati-hati sembari mengintip peluang untuk melakukan akumulasi menjadi taktik utama para investor ketika kinerja pasar modal domestik tengah mengalami penurunan.

Managing Director PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. (AMOR) Arief Wana menyebutkan bahwa pihak perusahaan mengambil langkah defensif namun tetap oportunis dalam menyikapi dinamika pasar saham di tanah air, terlebih di tengah besarnya volatilitas global saat ini.

Berdasarkan penuturan Arief, sentimen negatif pada bursa saham nasional masih cukup kuat, akibat lonjakan harga minyak global yang didorong oleh tensi geopolitik, aksi jual oleh investor asing, serta potensi penurunan laju laba bersih emiten.

Baca Juga

Mata Uang Rupiah Melemah, Aset Kripto Altcoin Justru Menguat

“Ada dua filosofi yang kami adopsi sekarang, yaitu cautious dan opportunistic. Jadi saya tidak bisa dengan lantang bicara bahwa saya sangat positif dan sangat optimistis karena situasi yang kami alami sekarang terlalu banyak ketidakpastian,” ujar Arief dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026, Selasa (19/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menjelaskan bahwa tren kenaikan harga minyak mentah global telah berlangsung sejak Februari silam akibat eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Kondisi ini diperkirakan bakal berlangsung dalam periode yang cukup panjang akibat dinamika geopolitik internasional.

Pihak Ashmore memprediksi harga minyak bakal sulit merosot ke level US$50 sampai US$60 per barel dalam kurun waktu dekat. 

Berdasarkan pemodelan internal perusahaan atas berbagai riwayat krisis minyak dalam 45 tahun ke belakang, pemulihan harga minyak biasanya memakan waktu berkisar enam hingga tujuh bulan.

Ia menilai bahwa lonjakan harga komoditas minyak menjadi salah satu risiko utama bagi pasar ekuitas Indonesia karena dapat menekan pertumbuhan profitabilitas perusahaan publik.

Dalam estimasi Ashmore, pertumbuhan laba per saham atau earnings per share (EPS) di tahun 2026 rawan merosot dari target awal 12,2% menjadi stagnan jika harga minyak terus meroket hingga menembus level US$100 per barel.

Meski begitu, Arief melihat celah investasi masih bisa ditemukan di industri tertentu. Sektor energi serta bahan baku dasar diperkirakan dapat memetik keuntungan di tengah melesatnya harga komoditas tersebut.

“Tapi di situasi seperti ini, kami juga melihat bahwa kesempatan yang memberikan EPS lebih besar itu ada. Kalau kami melihat sektor energi atau sektor basic materials, itu dengan naiknya harga minyak, mereka tumbuhnya lebih cepat,” tambahnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain isu harga minyak, Ashmore turut mencermati fenomena hengkangnya modal asing dari pasar saham tanah air. Arief menyebut jatuhnya bobot atau keluarnya beberapa saham dari indeks MSCI ikut memperberat laju indeks saham gabungan belakangan ini.

Kendati situasi pasar masih penuh gejolak, Arief menilai proses penataan ulang bobot MSCI ini pada akhirnya bisa meningkatkan kredibilitas pasar saham Indonesia di mata investor global.

Ia menambahkan, dari segi valuasi, aspek keterbukaan, serta tata kelola, pasar modal dalam negeri saat ini dinilai jauh lebih kompetitif. Atas dasar tersebut, Ashmore mengombinasikan taktik jangka pendek yang bersifat teknikal dengan formula investasi jangka panjang yang menitikberatkan pada kinerja fundamental.

“Long term itu biarkan mungkin tertinggal 10%-20%, tapi kami melihat outlook fundamentalnya lebih clear dibandingkan sekarang,” ujar Arief, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ibtihal

Ibtihal

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Wall Street Ditutup Merosot Dipicu Lonjakan Yield Obligasi AS

Wall Street Ditutup Merosot Dipicu Lonjakan Yield Obligasi AS

Asing Borong Saham ADRO Rp 207,4 Miliar Saat IHSG Jatuh

Asing Borong Saham ADRO Rp 207,4 Miliar Saat IHSG Jatuh

SRTG Siap Bagikan Dividen Rp1,40 Triliun, Yield Tembus 6,5 Persen

SRTG Siap Bagikan Dividen Rp1,40 Triliun, Yield Tembus 6,5 Persen

Pergeseran Bursa: Sektor Finansial Geser Saham Konglomerasi

Pergeseran Bursa: Sektor Finansial Geser Saham Konglomerasi

Borong Saham BBNI, Investor Asing Picu Rekomendasi Beli Dua Sekuritas

Borong Saham BBNI, Investor Asing Picu Rekomendasi Beli Dua Sekuritas