Ketegangan Geopolitik Iran Picu Lonjakan Harga Emas Dunia Namun Waspadai Alarm Bahaya
- Jumat, 20 Februari 2026
JAKARTA - Dinamika pasar keuangan global kembali dikejutkan oleh pergerakan harga emas yang memanas pada perdagangan hari ini, Jumat (20 Februari 2026).
Logam mulia ini kembali menunjukkan tajinya sebagai aset aman (safe haven) di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran. Eskalasi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akan gangguan stabilitas regional, yang secara otomatis mendorong aliran modal menuju emas.
Namun, di balik kemilau harganya yang sedang membara, para analis mulai membunyikan alarm peringatan terkait potensi koreksi tajam yang mungkin mengintai dalam waktu dekat.
Baca JugaKilau Emas Antam Kian Menyala Dengan Kenaikan 28 Ribu Rupiah Hari Ini
Kenaikan harga emas ini mencerminkan respons spontan pasar terhadap ketidakpastian global. Emas sering kali dianggap sebagai pelindung nilai terbaik ketika risiko politik meningkat, karena sifatnya yang tidak terikat pada kebijakan fiskal negara mana pun.
Meski demikian, euforia ini dibayangi oleh data ekonomi Amerika Serikat yang masih menunjukkan ketangguhan, yang berpotensi memberikan tekanan balik terhadap penguatan emas jika sentimen geopolitik mulai mereda.
Dampak Eskalasi Geopolitik Iran Terhadap Permintaan Aset Safe Haven
Sentimen utama yang menggerakkan pasar saat ini adalah memanasnya hubungan diplomatik dan militer di kawasan Teluk. Iran kembali menjadi pusat perhatian dunia, yang memicu kekhawatiran akan gangguan pada jalur pasokan energi global. Kondisi ini memaksa investor untuk menarik diri dari aset berisiko seperti saham dan beralih ke emas guna mengamankan nilai kekayaan mereka.
Selama ketegangan ini belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi, permintaan terhadap emas diprediksi akan tetap tinggi.
Kutipan dari para ahli pasar menunjukkan bahwa "faktor ketakutan" adalah penggerak utama saat ini. Emas tidak hanya bergerak berdasarkan data inflasi atau suku bunga, tetapi juga sebagai cermin dari kegelisahan dunia terhadap potensi konflik bersenjata.
Sejarah membuktikan bahwa setiap kali ada ancaman keamanan di Timur Tengah, emas selalu menjadi komoditas pertama yang mencatatkan reli kenaikan harga secara signifikan.
Ancaman Inflasi Dan Kebijakan Suku Bunga Sebagai Alarm Bahaya
Di tengah reli harga yang mengesankan, muncul "alarm bahaya" dari sisi makroekonomi. Inflasi di beberapa negara maju, terutama Amerika Serikat, terpantau masih cukup alot untuk turun ke target sasaran.
Hal ini memberikan ruang bagi bank sentral, khususnya The Fed, untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer). Secara teoretis, suku bunga yang tinggi adalah musuh alami bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil atau bunga bagi pemegangnya.
Jika data tenaga kerja atau manufaktur AS terus menunjukkan angka yang kuat, dolar AS akan semakin perkasa. Penguatan dolar secara otomatis akan membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, yang pada akhirnya dapat menekan permintaan global. Inilah alasan mengapa para investor diingatkan untuk tetap waspada dan tidak terjebak dalam aksi beli yang impulsif hanya karena sentimen jangka pendek dari Iran.
Analisis Teknikal Dan Potensi Titik Jenuh Beli Di Pasar Emas
Secara teknis, lonjakan harga emas yang terjadi belakangan ini telah membawa indikator pasar mendekati area jenuh beli (overbought). Para pengamat pasar mencatat bahwa kenaikan yang terlalu cepat tanpa didukung oleh konsolidasi yang kuat sering kali berujung pada aksi ambil untung (profit taking) massal. Alarm bahaya ini menjadi nyata jika harga gagal menembus level resistensi psikologis tertentu dalam beberapa hari ke depan.
Jika tensi di Timur Tengah sedikit saja mereda, harga emas bisa jatuh dengan kecepatan yang sama saat ia naik. Oleh karena itu, level dukungan (support) teknis menjadi sangat krusial untuk dipantau.
Investor disarankan untuk memperhatikan batas-batas harga bawah guna mengantisipasi penurunan mendadak yang bisa menghapus keuntungan yang telah diraih selama periode "bara" geopolitik ini.
Strategi Investasi Menghadapi Fluktuasi Harga Emas Di Tahun 2026
Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, diversifikasi tetap menjadi kunci utama bagi para pelaku pasar. Emas memang memiliki potensi kenaikan yang menggiurkan, namun risiko penurunan akibat kebijakan moneter tidak boleh diabaikan.
Para manajer investasi menyarankan agar investor tidak menaruh seluruh modal mereka pada satu titik harga, melainkan menggunakan strategi cicil atau dollar-cost averaging untuk memitigasi risiko volatilitas.
Pada akhirnya, pergerakan emas di tahun 2026 ini akan sangat bergantung pada keseimbangan antara risiko perang di satu sisi dan kesehatan ekonomi global di sisi lain.
Selama alarm bahaya dari kebijakan suku bunga masih berbunyi, setiap kenaikan harga emas akibat konflik Iran harus dipandang sebagai peluang sekaligus peringatan untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial.
Regan
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kilau Emas Antam Kian Menyala Dengan Kenaikan 28 Ribu Rupiah Hari Ini
- Jumat, 20 Februari 2026
Proyeksi Pergerakan IHSG Hari Ini Jumat 20 Februari 2026 Beserta Rekomendasi Saham Pilihan
- Jumat, 20 Februari 2026
IHSG Berpotensi Menuju Level Psikologis 8.500 Simak Deretan Saham Unggulan Analis Hari Ini
- Jumat, 20 Februari 2026
Sinergi DSLNG Dan Petani Honbola Bangkitkan Optimisme Budidaya Jagung Berkelanjutan
- Jumat, 20 Februari 2026
Berita Lainnya
IHSG Berpotensi Menuju Level Psikologis 8.500 Simak Deretan Saham Unggulan Analis Hari Ini
- Jumat, 20 Februari 2026
BI Pertahankan Suku Bunga, Ini Dampaknya pada Saham Perbankan dan Kinerja Kredit
- Jumat, 20 Februari 2026



.jpg)





